Sumber Fulus Baru

Filed in Perkebunan by on 01/04/2013 0 Comments

Lahan seluas 20 ha dikelola Ede KAdarusman hanya untuk menanam akarwangi jenis puluswangiProduksi akarwangi baru 20 ton per ha. Rendemen juga meningkat.

Berapa banyak bahan baku untuk menghasilkan sekilogram minyak akarwangi? Pekebun akarwangi di Samarang, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Ede Kadarusman hanya perlu 125 kg bahan segar. Rendemen penyulingan mencapai 0,8%. Lazimnya penyuling di Indonesia memerlukan 200 kg bahan baku segar karena rendemen hanya 0,5%. Rendemen penyulingan Ede Kadarusman menjulang karena menggunakan akarwangi unggul bernama puluswangi.

Akarwangi untuk suling harus kering dan bersih dari tanahRendemen puluswangi 0,8% itu hasil panen pada musim kemarau. Ketika musim hujan, rendemen cenderung turun menjadi 0,4—0,5%. Turunnya rendemen pada musim hujan jamak dialami jenis lain. Rendemen akarwangi janur pada musim hujan, misalnya, turun menjadi 0,1—0,2%. Puluswangi bukan hanya tinggi rendemen, tetapi juga tinggi produksi, hingga 14—20 ton per ha.

Artinya, dengan rendemen rata-rata 0,5%, pekebun yang menanam puluswangi berpeluang memetik 70—100 kg minyak per ha. Saat ini harga minyak akarwangi di tingkat penyuling mencapai Rp 875.000 per liter satu liter minyak setara 0,8 kg. Mari bandingkan dengan produksi akarwangi janur yang menghasilkan rata-rata 8—9 ton per ha. Akarwangi janur hanya menghasilkan rendemen 0,3%.  Artinya, pekebun yang menanam janur paling pol memperoleh 24—27 kg minyak.

Sesuai standar

Ede ibarat sekali merengkuh dayung maka dua-tiga pulau pun terlampaui. Sekali menanam puluswangi, produksi meningkat dan minyak pun sesuai standar pasar. Menurut pekebun berusia 56 tahun itu minyak hasil sulingan akarwangi pulus berwarna cokelat gelap; standar nasional minyak akarwangi berwarna kuning muda, cokelat kemerahan. Selain itu vetiverol akarwangi total 51—52%. Itu melampaui standar nasional yang mencapai 50%.

Kebanyakan penyuling di Indonesia memang hanya menghasilkan minyak dengan kadar vetiverol 51—52%; penyuling Haiti, mencapai 60%. Menurut Ede, nilai vetiverol yang rendah antara lain karena proses produksi yang tidak tepat seperti penggunaan tekanan tinggi saat penyulingan. Pemanasan pada 160—1700C menyebabkan minyak beraroma gosong dan warna legam. Sementara tekanan pada 1200C menghasilkan minyak lebih bening dan aroma lebih wangi.

Menurut Dra Endang Hadipoentyanti MS, ahli minyak asiri dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, kadar vetiverol pada minyak akarwangi dipengaruhi perlakuan prapanen seperti lokasi penanaman, cara budidaya, dan penggunaan bibit. Selain itu perlakuan pascapanen seperti teknik penyulingan juga mempengaruhi kadar vetiverol. Sementara ahli budidaya dari Universitas Padjadajaran Dr Ir Cucu Suherman mengatakan akarwangi puluswangi berproduksi menjulang karena genetik dan lingkungan. Dengan kelebihan itu, pantas saja Ede Kadarusman kini hanya menanam puluswangi di semua lahannya seluas 20 ha.

Harapan Ede, produksi minyak tanaman kerabat padi itu meningkat signifikan setelah menanam varietas baru yang dirilis pemerintah pada 2009. Puluswangi merupakan varietas lokal Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat.  Puluswangi merupakan hasil seleksi secara terus-menerus sejak 2004. Penyuling sejak 2003 itu mengoleksi empat jenis usar alias akarwangi, yakni janur, gajah, paris, dan pulus wangi. Keempat jenis akarwangi itu berasal dari kebun akarwangi milik keluarga.

Ia mulai menanam keempat akarwangi itu di lahan masing-masing seluas hampir 1,5 ha. Jadi untuk menanam keempat jenis tanaman anggota famili Poaceae itu, Ede memerlukan 6 ha lahan. Pekebun itu menyeragamkan cara penanaman dan perlakuan budidaya untuk keempat jenis akarwangi itu. Jarak tanam 50 cm x 60 cm sehingga populasi sehektar lahan 33.000 tanaman. Ede memberikan pupuk campuran NPK, ZA,  dan SP dengan rasio 1 : 1 : 1.

Dosis pemberian hanya 30 gram per tanaman ketika berumur 60 hari setelah tanam. Setelah itu tidak ada pemupukan lagi. Meski lokasi dan perlakuan budidaya sama, tetapi produksi keempatnya berbeda. Produksi rata-rata janur, gajah, dan paris sekitar 10 ton, sedangkan puluswangi

14—20 ton per hektar. Ede Kadarusman mengulangi budidaya keempat jenis itu hingga 3—4 kali. Terbukti produksi keempatnya stabil pada angka tersebut.

Balai Sertifikasi Benih Provinsi Jawa Barat dan Penelitian Tanaman Rempah dan Obat,  lalu melakukan sertifikasi pada 2009. Pemerintah merilis puluswangi sebagai varietas unggul. Nama itu diambil dari nama kelompok tani di Kampung Legokpulus di Kabupaten Garut. Sejak itu penanaman puluswangi meluas. Pekebun di Kampung Rantun, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Suganda, kini menanam puluswangi di lahan 10 ha. Pekebun-pekebun akarwangi di Garut juga mengikuti jejak Ede. Saat ini luas penanaman puluswangi di Kabupaten Garut mencapai ratusan ha.

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. (Balittro) juga merilis dua varietas baru akarwangi, yakni verina 1 dan verina 2 pada tahun 2012. “Verina singkatan dari vetiveria Indonesia,” kata Endang Hadipoentyanti dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Keunggulan verina 1 adalah produktivitas relatif tinggi, 10,37 ton; sementara verina 2 mencapai 10,61 ton per ha. Rendemen verina 1 pada musim kemarau rata-rata 0,6%, rendemen verina 2 hanya 0,5%. Adapun kadar vetiverol varietas

verina 1 mencapai 50,38% sedangkan verina 2, relatif tinggi 55,48%.

Kelebihan lain, akarnya yang banyak dan kuat bisa dimanfaatkan industri kerajinan anyaman. Menurut Endang Hadipoentyanti, asal-muasal kedua vaietas itu adalah 42 jenis akarwangi dari tiga sentra yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali. Seleksi 2—3 kali sejak 2005 menghasilkan dua varietas unggul itu. (Pressi Hapsari Fadlilah/Peliput: M. Khais Prayoga)

 

Powered by WishList Member - Membership Software