Suku Sahu Merawat Titila

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 10/12/2020

Titila lumbung padi komunitas petani Sahu Jio Talai Padusua di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

Bangunan berbahan kayu dan bambu itu sederhana. Sekilas mirip gubuk tempat istirahat petani setelah berladang. Tumpukan padi hasil panen terlihat di pojok bangunan beratap rumbia itu. Beberapa padi tergantung di dekat atap. Bangunan bersahaja nan sarat makna itu merupakan lumbung padi ladang milik komunitas petani suku Sahu Jio Tala’i Padusua di Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Provinsi Maluku Utara.

Rion-rion digunakan dalam praktik budidaya padi ladang secara berkelompok di Halmahera Barat.

Komunitas petani suku Sahu Jio Tala’i Padusua mengharuskan titila atau lumbung tersisi penuh dengan padi sehingga mencegah kelaparan. Harap mafhum, nasi menjadi makanan pokok masyarakat Sahu Jio Tala’i Padusua yang harus tersedia di setiap waktu makan. Nasi makanan pokok yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi petani Sahu Jio Tala’i Padusua karena dapat memberikan energi untuk beraktivitas sehari-hari di kebun.

Jika nasi tersedia, tinggal dilengkapi dengan sayur dan ikan. Bahkan, sebagian petani menyatakan mengonsumsi nasi dan dabu-dabu suten (sejenis sambal terbuat dari perasan jeruk kalamansi atau disebut warga lemon cui, dicampur dengan bawang merah, tomat, dan garam secukupnya) sudah enak. Nilai-nilai dan pemaknaan itu menjadi salah satu alasan mendasar komunitas Sahu Jio Tala’i Padusua menanam padi ladang turun-temurun.

Program khusus budidaya padi ladang perlu terus dilakukan sehingga petani lebih produktif untuk menunjang ketersediaan pangan keluarga terutama pada masa pandemi korona. Harapannya dapat berkontribusi terhadap persediaan pangan secara lokal khususnya di Kabupaten Halbar. Selain sebagai tempat penyimpanan hasil panen padi ladang, titila juga berfungsi menyimpan benih untuk musim tanam berikutnya. Dengan kata lain titila berperan penting pada proses budidaya padi ladang.

Musababnya semua kegiatan budidaya berawal dan berakhir di titila. Ketersediaan benih secara berkelanjutan merupakan salah satu faktor penting pada budidaya padi ladang. Oleh karena itu, benih padi merupakan plasma nutfah yang terus dilestarikan melalui budidaya berkelanjutan. Komunitas petani Sahu Jio Tala’i Padusua selalu menyisakan sebagian hasil panen sebagai benih untuk musim tanam selanjutnya. Dengan begitu ketersediaan benih terjamin.

Makan adat (orom sasadu) yang merupakan puncak pelaksanaan rangkaian budidaya padi ladang.

Mereka membudidayakan padi sekali setahun lantaran jenis padi ladang yang ditanam memiliki umur panen panjang mencapai 4—5 bulan. Setelah dipanen, petani menyimpan benih terlebih dahulu sambil menyiapkan lahan untuk penanaman berikutnya. Jadi, petani tidak menanam padi yang baru dipanen. Penyimpanan padi diperlukan agar mencegah pertumbuhan tidak seragam, kerdil, dan daun berwarna kekuningan.

Itu terjadi karena padi mengalami dormansi (masa tidur) dan memerlukan penyimpanan kering (after ripening). Setiap benih padi memiliki masa dormansi dan penyimpanan kering berbeda. Pertumbuhan padi lebih seragam dan sehat jika menggunkaan benih yang sudah disimpan. Kebiasaan menyimpan benih padi oleh komunitas petani Jio Tala’i Padusua sejalan dengan riset ilmiah. Hasil penelitian Thenu menungkapkan padi kayeli—salah satu jenis padi ladang—memerlukan 6—8 pekan penyimpanan untuk menghilangkan dormansi.

Jadi, penanaman kayeli bisa 2—3 kali setahun. Hal itu sangat berguna untuk mengantisipasi berbagai kondisi yang tiba-tiba terjadi seperti pandemi korona. Lazimnya petani Sahu Jio Tala’i Padusua membudidayakan padi ladang di lahan perkebunan kelapa. Jadi, penanaman padi dilakukan di bawah tegakan kelapa. Mereka menumpangsarikan padi ladang dengan tanaman hortikultura seperti tomat, cabai rawit, mentimun, dan semangka. Pembersihan lahan, penanaman, dan pemanenan menggabungkan cara tradisional dan modern.

Benih hortikultura itu dicampurkan dengan benih padi, kemudian ditanam bersamaan. Tujuannya agar ada keragaman hasil panen. Tradisi menanam padi membantu petani di tengah kondisi pandemi saat ini. Apalagi pasokan bahan pangan dan hortikultura mulai berkurang di pasaran. Biasanya komunitas petani Jio Tala’i Padusua melakukan praktik budidaya secara berkelompok atau sering disebut rion-rion dalam bahasa lokal. Rion-rion merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Sahu Jio Tala’i Padusua.

Titila mesti terisi penuh agar tidak terjadi kelaparan.

Rion-rion dilakukan secara bergiliran dari satu petani ke petani lain. Budidaya padi ladang menjadi sebuah praktik sosial yang telah dilakukan komunitas petani Sahu Jio Tala’i Padusua sejak zaman nenek moyang. Praktik sosial itu menjadi sebuah tradisi yang masih diwariskan turun-temurun dari orang tua hingga generasi milenial saat ini. Budidaya padi ladang dengan kearifan lokal rion-rion berhubungan dengan makan adat (orom sasadu) yang merupakan puncak pelaksanaan rangkaian budidaya padi ladang.

Perayaan meriah yang dilakukan sebagai representasi ungkapan syukur atas berkat Tuhan berupa hasil panen padi ladang. Sama dengan rion-rion, orom sasadu juga sebagai identitas budaya komunitas petani Sahu Jio Tala’i Padusua. Bahkan, orom sasadu menjadi ikon pariwisata tahunan Pemerintah Kabupaten Halbar untuk promosi potensi sumber daya alam dan pariwisata pada kegiatan Festival Teluk Jailolo.

Orom sasadu sebagai identitas budaya Suku Sahu Jio Tala’i Padusua memiliki nilai-nilai kehidupan seperti tolong menolong, kebersamaan, kekeluargaan, dan kerukunan. Makanan adat lazimnya menyajikan menu utama yaitu nasi kembar (nasi cala) yang terbuat dari beras hasil panen padi ladang. Nasi cala simbol ketersediaan makanan pokok komunitas Sahu Jio Talai Padusua.

Makan adat rutin dilakukan setiap tahun sebagai bentuk syukuran dan wadah mempererat rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan solidaritas sebagai sebuah keluarga komunitas adat Sahu Jio Talai Padusua. Rangkaian makan adat sarat dengan ritual pesan adat (bobita), doa, diskusi para tetua adat (kokonofu), dan nyanyian berbalas pantun (ma’io).

Semua bentuk ritual itu membawa peserta makan adat makin merasa menyatu sebagai sebuah keluarga. Bila dikaitkan dengan pandemi Covid-19, nilai tolong-menolong dan kebersamaan dalam rion-rion dan orom sasadu dapat diaplikasikan untuk melakukan pekerjaan dari rumah atau work from home (WFH). Artinya warga menolong para tim medis dan dirinya sendiri agar tetap tinggal di rumah dan menjaga jarak (social distancing) sehingga membantu pemerintah mengurangi penyebaran Covid-19.

Salah satu jenis padi ladang yang ditanam komunitas petani Sahu Jio Talai Padusua.

Rasa kekeluargaan dapat diaplikasikan dalam bentuk peningkatan kepedulian terhadap kesehatan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Budidaya padi oleh masyarakat Sahu Jio Tala’i Padusua pun dilakukan secara alami. Tanpa pupuk dan pestisida sintetis. Bisa dibilang metode itu berkontribusi terhadap pelestarian ekositem dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Kedua aspek itu termasuk agenda global dalam tujuan pembangunan milenium atau Millenium Development Goals (MDGs).

Khususnya tujuan kedua MDGs yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik, serta mendukung pertanian berkelanjutan. Salah satu target capaian tujuan itu yakni pada 2030, memastikan sistem produksi pangan yang berkelanjutan dan mengimplemantasikan praktik-praktik agrikultur yang tahan lama, menaikkan produktivitas dan produksi, dan membantu menjaga ekosistem. Selain itu, menguatkan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, cuaca ekstrem, kekeringan, dan banjir, serta secara progresif memperbaiki kualitas lahan dan tanah.

Titila sistem tertutup.

Budidaya padi ladang secara alami tanpa penggunaan pupuk kimiawi dan pestisida menjamin keberlanjutan ketersediaan pangan untuk keluarga komunitas petani Sahu Jio Tala’i Padusua di Kabupaten Halbar serta menjaga kelestarian lingkungan hidup dan ekosistem alam. Jadi, keberlanjutan budidaya padi ladang menjadi warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya jika terus dibudidayakan oleh petani sebagai pelaku utama. Padi ladang tidak hanya menjadi salah satu komoditas pangan untuk generasi saat ini, tetapi menjadi milik generasi berikutnya.

Petani Sahu Jio Tala’i Padusua memang menggunakan beberapa peralatan pertanian modern seperti traktor untuk pengolahan lahan, alat khusus untuk menanam benih padi, dan mesin penggilingan untuk pascapanen. Sementara subsistem hilir meliputi pascapanen, pengemasan, dan pemasaran belum dilakukan. Itu karena orientasi penanaman padi ladang selama ini hanya untuk konsumsi keluarga meski hasil panen banyak.

Penanaman padi di bawah tanaman kelapa.

Meski begitu beberapa petani menjual padi ladang sebagai sumber pendapatan keluarga. Apalagi kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan ketersediaan beras di pasaran berkurang sehingga dapat dijadikan momentum untuk memperoleh pendapatan dari hasil penjualan padi ladang.

Mengusung tema khusus untuk mempromosikan beras baru seperti beras alami dan menyehatkan, atau cinta petani Sahu menjadi daya tarik konsumen untuk membelinya. Kondisi itu sesuai dengan tren perilaku hidup sehat yang dikampanyekan Kementerian Pertanian sejak 2010 dengan program go organic melalui kegiatan pengembangan 1.000 desa pertanian organik.

Petani membudidayakan padi sekali setahun lantaran jenis padi ladang yang ditanam memiliki umur panen panjang mencapai 4—5 bulan.

Selain itu, kampanye Pangan Bijak Nusantara dari sistem produksi pangan tradisional dan produk pangan lokal, lestari, adil dan sehat yang banyak ditemukan di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia. Sistem produksi merupakan solusi untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan yang ramah lingkungan dan sehat, mendorong kesejahateraan masyarakat, dan membantu pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kampanye pangan lokal dan alami dapat menjadi tema promosi beras padi ladang agar dapat bersanding dengan produksi beras lain di pasaran. Pengusahaan beras padi ladang untuk dijual dapat membuka era baru bagi komunitas petani Sahu Jio Talai Padusua. Beras ladang tidak hanya ditanam untuk dikonsumsi tetapi lebih dari itu, dapat diusahakan sebagai sumber pendapatan untuk peningkatan kesejahteraan hidup keluarga petani. (Dr. Peinina Ireine Nindatu, S.P., M.Si dan Relanti Irene Sopacua, S.P., M.Si., dosen Program Studi Agribisnis serta Foniike Samad, S.P., M.Si., Mayz Papilaya S.Si., M.Si., dan Injilia Apriani Thenu, S.P., M.Si., dosen Program Studi Agroteknologi, STPK Banau Halmahera Barat, Maluku Utara)

Tags: , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software