Sukses Pijahkan Gabus

Filed in Majalah, Satwa by on 18/07/2016

Sejumlah peternak berhasil menangkarkan ikan gabus.

Ikan gabus bisa dipijahkan sendiri.

Ikan gabus bisa dipijahkan sendiri.

Andhi Raharjo rutin mengirim 40.000—45.000 bibit ikan gabus setiap bulan ke sejumlah peternak pembesar di Daerah Istimewa Yogyakarta, Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Palembang (Sumatera Selatan), Makassar (Sulawesi Selatan), dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Warga Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu menjual bibit berukuran 5—6 cm Rp800 dan bibit 6—7 cm Rp1.000 per ekor.

Dari perniagaan itu Andhi memperoleh pendapatan setidaknya Rp40-juta per bulan. Pria berusia 29 tahun itu menuturkan, permintaan bibit gabus meningkat sejak 2010. Pada 2010, misalnya, ia hanya melayani permintaan 10.000—20.000 ekor per bulan. Kini permintaan mencapai 50.000 ekor per bulan. Ia tidak bisa mengandalkan bibit tangkapan alam sebab ketersediaannya cenderung fluktuatif.

Cacing sutra
Untuk mengatasinya, Andhi membiakkan ikan gabus sendiri. Ia memelihara semua indukan di kolam tanah. Ia mengandalkan 5 kolam tanah berukuran 25 m x 50 m x 70 cm untuk memelihara 150 induk gabus.
Perbandingan induk jantan dan betina di setiap kolam yakni 1 : 1. Andhi membiarkan ikan memijah alami hingga bertelur dan menetas. Alumnus Fakultas Perikanan, Universitas Gadjah Mada itu lantas memindahkan larva-larva yang muncul ke kolam pendederan berukuran 2 m x 4 m x 70 cm.

Eko Rudi Feriawan memijahkan ikan gabus di pekarangan rumah di Lumajang, Jawa Timur.

Eko Rudi Feriawan memijahkan ikan gabus di pekarangan rumah di Lumajang, Jawa Timur.

Di sana Andhi membiarkan larva seukuran beras itu hidup tanpa pakan hingga satu pekan. Ia menuturkan larva yang baru menetas masih memiliki cadangan makanan atau yolk sehingga pemberikan pakan belum diperlukan. Pada pekan kedua barulah ia menebar cacing sutra setiap pagi dan sore. Ia melakukan rutinitas itu selama 2 pekan. “Ketersediaan cacing sutra wajib bagi pembibit sebagai asupan makanan untuk bibit pascatetas,” ujarnya.

Cacing sutra menjadi pilihan para pembibit sebab pas dengan bukaan mulut larva. Ketika bibit berumur empat pekan, Andhi mulai memperkenalkan pelet. Saat pagi hari ia menebar cacing sutra secukupnya. Sementara saat sore hari ia menaburkan pelet sebanyak 2 sendok makan. Pemberian kombinasi pakan itu berlangsung hingga sepekan.

Pada pekan kelima Andhi memberikan pelet seluruhnya. Dosis yang diberikan sebanyak 2 sendok makan saat pagi dan sore hari. Pemberian pelet harus habis agar kolam tidak keruh. Sebab kolam yang keruh dan kotor dapat menjadi racun bagi bibit. Andhi menuturkan bibit yang sudah bisa makan pelet artinya siap jual. Para peternak lain seperti Suandi Laksana di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Eko Rudi Feriawan di Lumajang, Jawa Timur, juga memijahkan gabus.

Suandi memproduksi 100.000—200.000 bibit per bulan. Ia memperoleh pasokan bibit itu dari 8 kolam pemijahan dan 4 kolam penampungan bibit. Kolam berbentuk lingkaran berdiameter 0,5 meter. Ayah dua putra itu menjual bibit berukuran 2—3 cm hanya Rp500, 3—5 cm Rp1.000, 4—6 cm Rp1.500, dan 7—8 cm Rp2.000 per ekor.

Jantan dan betina
Eko Rudi Feriawan di Lumajang, Jawa Timur, memiliki 200 induk gabus di dua kolam. Sebanyak 150 ekor hidup di kolam berukuran 4 m x 9 m. Sementara 50 ekor lain di ke kolam berukuran 4 m x 6 m. Komposisi jantan dan betina di setiap kolam masing-masing 1 : 2. Wawan, sapaannya, menuturkan gabus jantan berukuran panjang, kepala lonjong, dan berbintik banyak di bagian perut. Adapun gabus betina berukuran pendek, kepala tumpul, bintik sedikit, dan berperut lembek.

Full.pdf

Ilustrasi Bahrudin

Pria berusia 30 tahun itu melengkapi kolam pemijahan dengan eceng gondok atau kangkung. “Jika tangkai-tangkai dan daun eceng gondok tampak lunglai berarti ada telur di kolam,” ujarnya. Ia mengambil telur-telur itu dengan sendok makan lalu memasukkan ke kolam penetasan berukuran 1 m x 1 m. Wawan memperoleh sekitar 10.000 telur setiap pekan. Ia membiarkan telur-telur menetas dan hidup di kolam itu selama 8 hari tanpa pakan.

Selanjutnya ia memindahkan bibit ke kolam berukuran 1 m x 3 m. Ia merawat bibit itu hingga siap jual. Bibit yang dipanen langsung ludes terjual. Anggota staf Pengolahan Hasil Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Haridian Wijaya. menuturkan sejumlah peternak gabus memang berhasil  memproduksi bibit sendiri.

“Sulitnya memijahkan gabus kini sudah bisa ditepis,” ujarnya. Namun, pembibit harus mewaspadai serangan white spot dan cendawan. Perubahan suhu yang ekstrem antara siang dan malam dapat memicu serangan white spot. Bila menyerang bibit berukuran 3—5 cm kemungkinan kematian mencapai 100%. Namun, serangan pada bibit berukuran 5—7 cm kemungkinan sembuh. Adapun cendawan menyerang lewat kontaminasi pakan. Ancamannya tergolong rendah sebab kemungkinan bibit selamat mencapai 70%. (Andari Titisari/Peliput: Ian Purnama Sari)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software