Sukaresmi Sentra Stroberi

Filed in Buah, Majalah by on 01/11/2021

Petani mengebunkan stroberi di dalam polibag berisi lebih dari 40 kg media tanam.

Budidaya dan penjualan stroberi sumber pendapatan utama masyarakat lantaran menguntungkan.

Dadan Cuanda mengantongi omzet Rp15 juta dari hasil perniagaan 1 ton stroberi seharga Rp15.000 per kilogram (kg) setiap pekan. Secara keseluruhan warga Desa Sukaresmi, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu mendapatkan omzet Rp60 juta saban bulan. Konsumen stroberi Dadan yaitu pasar swalayan dan tradisional serta pabrik produsen selai di berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja Semarang, Jawa Tengah dan Surabaya (Jawa Timur).

Dadan Cuanda membudidayakan stroberi sejak 2005 karena menguntungkan.

Bahkan seorang rekan di Sukaresmi mengirimkan 1 ton stroberi produksi Dadan ke Arab Saudi pada 2019. Sebelumnya rekan lainnya memasarkan 200 kg stroberi dari Desa Sukaresmi ke Brunei Darussalam pada 2015. Sayangnya sebagian besar buah rusak ketika tiba di kedua negara itu. Alhasil pengiriman stroberi ke mancanegara pun berhenti. “Jika kondisi buah masih bagus ketika tiba di sana, kemungkinan kami bisa rutin memasok stroberi ke sana,” kata pekebun stroberi sejak 2005 itu.

Perawatan intensif

Pasokan stroberi Dadan berasal dari kebun sendiri seluas 2 hektare (ha). Ia membudidayakan tanaman anggota famili Rosaceae itu dalam wadah tanam berukuran 30 cm x 60 cm. Beberapa wadah tanam berupa kemasan bekas produk pupuk. Sebagian lainnya berupa polibag. Tidak heran sejauh mata memandang barisan polibag yang rapi menarik perhatian pengunjung dari luar desa. Menurut Dadan menanam stroberi di wadah tanam lebih efektif daripada di lahan.

Kelebihan bertanam stroberi dalam polibag antara lain pemupukan dan penyiraman lebih tepat sasaran. Ia mengandalkan 40 kg tanah dan 2 kg pupuk kandang sebagai media tanam. Terdapat sekitar 18.000 polibag di lahan 1 ha yang berbukit. Jumlah polibag lebih banyak mencapai 25.000 unit jika penanaman stroberi di lahan datar. Setiap polibag berisi 4 tanaman. Penanaman tidak serempak di lahan 2 ha. Ia mengatur waktu penanaman sehingga bisa panen per 2 hari.

Dengan cara itu produksi buah di kebun pun lebih maksimal karena mayoritas tanaman produktif. Bibit berasal dari tanaman yang sudah ada. “Stolon untuk bibit berasal dari tanaman yang sehat dan produksi buahnya masih bagus,” kata pria berumur 44 tahun itu. Stolon atau geragih merupakan batang yang tumbuh menyamping dan di ruas-ruasnya tumbuh bakal tanaman baru. Hanya stolon terbaik yang digunakan sebagai bibit untuk penanaman berikutnya. Dadan sangat memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan stroberi. Bisa dibilang perawatan stroberi di kebun Dadan cukup intensif.

Ia memperkerjakan 20 karyawan untuk memelihara stroberi. Pekerja menambahkan 0,5 kg kompos per polibag setiap 1—2 bulan untuk menjamin ketersediaan hara. Pemupukan lainnya berupa pupuk cair. Ia melarutkan 2 kg pupuk NPK dan 1 liter pupuk daun ke dalam tong berisi 200 liter air. Setiap polibag memperoleh 0,5 liter pupuk cair itu setiap 10 hari. Jadi, satu tong bervolume 200 liter untuk 400 polibag setara 1.600 tanaman. Penyemprotan insektisida dan fungisida untuk mengatasi hama dan penyakit tanaman (HPT) terutama dilakukan pada musim hujan.

Frekuensi penyemprotan pestisida 2 hari sekali saat musim hujan dan sepekan sekali ketika musim kemarau. Untuk penyiraman Dadan mengandalkan mata air yang mengalir melalui pipa hingga ke kebun. Jarak antara sumber air dengan kebun sekitar 1 km. Bahkan lebih panjang daripada itu. Penyiraman 2 kali sehari saat musim kemarau. Perawatan harian lainnya yakni pemangkasan daun tua dan tangkai buah bekas panen sebelumnya. “Pengolahan tanah, kualitas bibit, pemupukan, dan penyemprotan pestisida menentukan produksi stroberi,” kata Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukaresmi itu.

Sentra stroberi

Dadan memanen stroberi perdana sekitar 2 bulan setelah tanam. Panen berikutnya setiap 2 hari hingga tanaman berumur sekitar 1,5—2 tahun. Setelah itu peremajaan tanaman agar produksi buah optimal. Stroberi berwarna merah ciri buah siap panen. Beberapa konsumen seperti pasar swalayan dan pengiriman jarak jauh menghendaki stroberi mengkal yang berwarna campuran merah dan hijau. Harapannya stroberi masak ketika sampai di tempat tujuan.

Setelah dipanen, pekerja membawa stroberi ke bagian pengemasan. Pekerja di tempat itu menyortir buah menjadi 3 bagian yaitu kelompok (grade) A, B, dan C. Setiap 1 kg buah kelompok A berisi 40 stroberi. Lebih dari itu buah masuk kategori B. Stroberi sortiran masuk kelompok C. Konsumen buah kelompok A lazimnya pasar swalayan, sedangkan kelompok B pasar tradisional. Buah kelompok C masuk ke dalam pendingin. “Buah beku dikirim ke pabrik produsen selai,” kata Dadan.

Selang pemberian Bank BRI sangat bermanfaat bagi pekebun untuk menyiram stroberi.

Ia kali pertama menanam stroberi pada 2005. Saat itu produksi sayuran menurun. Dugaannya tanah jenuh. Seorang kawan menyarankan Dadan mengembangkan stroberi. Setelah berkunjung ke kebun stroberi kawan dan menghitung keuntungan, ia pun membulatkan tekad bertani stroberi di lahan 0,5 ha. Kebetulan saat itu harga buah tanaman kerabat bunga mawar itu Rp25.000—Rp30.000 per kg. “Laba saat itu mencapai 50%,” kata pria kelahiran Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu.

Bisa dibilang Dadan salah satu pionir pekebun stroberi di Sukaresmi. Lima tahun berselang pasar stroberi makin menjanjikan. Dadan meluaskan kebun hingga 2 ha pada 2010. Kapasitas produksi mencapai 2 ton per pekan. Saat itu ia pun merintis pemasaran stroberi sendiri. Sebelumnya ia menjual hasil panen kepada pengepul. Dadan rela berkeliling dari kota ke kota untuk memasarkan stroberi dari kebunnya. Ia melakoni teknik pemasaran langsung itu lebih dari setahun.

Cara itu tebukti efektif sehingga hasil panen terserap pasar. Para tetangga pun beralih menanam tanaman kerabat apel itu sejak 2010. Pemandangan desa yang lazimnya hamparan aneka sayuran berubah menjadi kebun stroberi. Bahkan beberapa warga menanam stroberi dalam polibag di pekarangan. “Hingga kini kebun stroberi di Desa Sukaresmi lebih dari 120 ha,” kata pria lulusan sekolah menengah pertama (SMP) itu. Sekitar 90% warga Desa Sukaresmi berprofesi sebagai pekebun stroberi.

Padat karya

Tidak salah jika menyebut Desa Sukaresmi sebagai salah satu sentra stroberi di Jawa Barat. Dadan menuturkan, budidaya stroberi padat karya. Banyak warga terlibat dalam bisnis stroberi. Mulai dari tenaga kerja di kebun, pengemasan, hingga distribusi. Uniknya ada komunitas ojek stroberi di sana. Pada 2020 terdapat sekitar 300 ojek yang mengantarkan stroberi ke jasa pengiriman, stasiun kereta api, dan pembeli di Bandung dan sekitarnya.

Betapa hidupnya roda perekonomian Desa Sukaresmi berkat stroberi. Menurut Dadan tidak ada lagi pemuda yang merantau sejak penanaman stroberi. Sekitar 50% anggota Gapoktan Sukaresmi merupakan pemuda berusia 30 tahun. Para pemuda juga tertarik mengembangkan stroberi lantaran menguntungkan. Pekebun baru memanen cabai 3 bulan setelah tanam. Masa panen berlangsung satu bulan. Setelah itu mereka mesti mengganti tanaman. Bandingkan dengan stroberi yang dipanen 2 bulan setelah tanam.

Selanjutnya pekebun bisa memanen per 2 hari hingga tanaman berumur 1,5—2 tahun. Bahkan pada 2005 peremajaan tanaman hingga 4 tahun. Tentu berkembangnya agribisnis stroberi Dadan dan warga lainnya tidak luput dari kontribusi pihak lain seperti Dinas Pertanian Kabupaten Bandung dan Bank BRI. “Program-program Bank BRI sangat membantu usaha stroberi saya,” kata Dadan. Ia memanfaatkan pinjaman kredit usaha rakyat (KUR) untuk permodalan karena berbunga rendah. Hingga kini Dadan kerap menggunakan KUR untuk memperlancar usahanya.

Selain KUR, Bank BRI pun berkontribusi terhadap keterampilan pekebun menanam stoberi. Bank pemerintah itu pernah mendatangkan ahli proteksi tanaman ke kebun Dadan. Kegiatan itu sangat membantu petani dalam pencegahan dan penanggulangan hama dan penyakit stroberi. Tujuannya agar hasil panen maksimal. Yang paling anyar Dadan dan kelompok mengikuti bazar besutan Bank BRI pada September 2021 di Bandung. Acara itu berguna mempromosikan stroberi dan produk turunannya (sambal dan selai) milik Dadan dan Gapoktan Sukaresmi.

Agar memudahkan pekebun, Bank BRI juga memberikan sarana produksi pertanian (saprotan) berupa 22 rol selang untuk penyiraman. Satu rol sepanjang 100 m. Selang sangat memudahkan petani menyiram stroberi. Selain itu, Bank yang didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja itu membagikan power sprayer otomatis untuk penyemprotan pestisida. Pekebun tidak perlu memompa untuk menyemprot. Cukup arahkan penyemprot ke tanaman sehingga lebih praktis.

Dadan mengatakan, prospek bisnis stroberi relatif baik. Saat ini pasar stroberi relatif lesu akibat pandemi korona. Meski begitu Dadan dan warga lain optimis keadaan lebih baik setelah pandemi korona sirna. Kehadiran varietas stroberi baru pun menjadi harapan agar pasar buah itu berjaya lagi. Pekebun mengharapkan ada varietas baru yang berproduksi tinggi, tahan serangan HPT dan masa simpan lebih lama.

Sebetulnya permintaan stroberi tetap ada terutama saat musim hujan. Lebih baik jika pekebun menanam stroberi di dalam rumah tanam (greenhouse) sederhana sehingga hasil panen lebih maksimal. Beberapa pekebun stroberi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sudah membudidayakan stroberi organik di dalam rumah tanam. Intinya menanam stroberi masih menjanjikan keuntungan di masa depan. Syaratnya pekebun harus terus berinovasi dan menjalin hubungan dengan calon konsumen potensial. (Riefza Vebriansyah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software