Strategi Hindari Capsici

Filed in Inspirasi, Majalah by on 08/04/2021

Serangan busuk batang pada cabai kerap mengakibatkan kerugian bagi petani.

Beragam kiat mencegah busuk batang dan mengatasinya jika telanjur menyerang.

Julukannya bunga laba-laba berumbai. Masyarakat menyebut tanaman itu maman ungu atau maman lanang. Tanaman maman ungu Cleome rutidosperma selama ini dianggap sebagai gulma sehingga masyarakat tidak meliriknya. Padahal, maman ungu berfaedah mengendalikan musuh utama cabai yakni penyakit busuk batang akibat serangan cendawan Phytophthora capsici. Tingkat kematian akibat serangannya mencapai 100% alias gagal panen total.

Alif Khalifah, S.Si.,M.P., Magister Pengendalian Hama Terpadu, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Periset dari Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Hanim Inayatur Robbiya membuktikan ekstrak daun maman ungu berpotensi menghambat pertumbuhan cendawan Phytophthora capsici. Tanaman anggota keluarga Cleomaceae itu mengandung minyak glukosinolat, saponin, terpenoid, dan flavonoid. Hanim menguji ekstrak daun maman ungu dalam skala laboratorium.

Pengaruhi pasokan

Hanim Inayatur Robbiya menggunakan 100 gram ekstrak bubuk daun tanaman itu dengan konsentrasi ekstrak 100%. Komposisi itu menghambat pertumbuhan cendawan 100% atau sama dengan kategori daya hambat sangat kuat. Petani dapat memanfaatkan daun maman ungu yang banyak tumbuh di area perasawahan.

Pengolahan maman ungu baru dilakukan secara laboratorium. Petani hidroponik di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, Charlie Tjendapati biasanya merebus 100 gram bahan segar dalam 1,5 liter air bersih. Seliter hasil rebusan dilarutkan dalam 15 liter air dengan tambahan satu sendok detergen sebagai perekat. Dosis itu cukup untuk menyemprot kebun seluas 200 m2. Menurut pria kelahiran Januari 1976 itu aplikasi pestisida nabati sebaiknya setiap 2 hari sekali antara pukul 16.00—17.00 agar bahan aktif tidak menguap dan dapat bekerja mengatasi serangan penyakit.

“Penggunaan keduanya sah-sah saja, asalkan kita ikuti anjuran dosis dan frekuensi aplikasi,” kata Magister Pengendalian Hama Terpadu, Institut Pertanian Bogor (IPB), Alif Khalifah, S.Si.,M.P. Menurut, Crop Manager Fruit & Vegetable FMC Indonesia, Muhammad Sonhaji, S.P. jenis fungisida untuk mengendalikan busuk batang antara lain Infinito 687,5 SC dengan bahan aktif fluopikolid dan propamokarb hidroklorida.

Pengendalian tepat berpengaruh pada pasokan cabai di pasaran yang harganya fluktuatif dan memicu inflasi nasional. Sebulan sebelum puasa Ramadan 1442, harga cabai melonjak. Pada 20 Maret 2021 harga di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur menembus Rp100.000 per kg.

Cendawan itu menyebabkan batang tanaman cabai Capsicum annuum busuk. Menurut Alif Khalifah busuk batang pada cabai merupakan musuh utama. Gejala serangan berupa bercak kecil berwarna kuning kecokelatan yang tersebar di ranting lalu menjalar ke batang dan daun. Khalifah mengatakan, cendawan famili Pythiaceae itu menular melalui air, udara, tanah, dan bibit atau benih. Menurut Khalifah, “Busuk batang dapat dikendalikan dengan pencegahan baik pada benih maupun persiapan lahan.”

Cegah serangan

Mencegah serangan tentu lebih baik daripada mengendalikannya. Menurut Khalifah upaya pencegahan dengan merendam benih di air larutan air hangat hangat 50°C selama 10 menit. Tujuannya menurunkan potensi penularan penyakit yang terbawa benih. Anggota staf lembaga sertifikasi organik Indonesia Organic Farming Certification (Inofice) itu menuturkan, suhu 50°C mampu membunuh cendawan dan tidak merusak daya perkecambahan benih.

Maman ungu fungisida nabati untuk mengatasi busuk batang.

Menurut pria kelahrian 29 Maret 1994 itu, petani juga harus memantau tanaman sejak di persemaian. Bibit yang menunjukkan gejala serangan dapat segera disingkirkan. Persiapan lahan perlu dilakukan untuk musim tanam berikutnya. Sarjana Biologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, penggunaan kembali lahan yang sama untuk budidaya cabai khawatir terjadi serangan karena terdapat spora sisa cendawan dari pertanaman sebelumnya.

Itulah sebabnya hindari menanam cabai di lahan bekas cabai atau tanaman anggota keluarga Solanaceae lain seperti terung dan tomat. Sayangnya, inang cendawan busuk batang relatif luas. Selaian Solanaceae, inang cendawan busuk batang adalah famili Cucurbitaceae (mentimun dan melon), serta keluarga Piperaceae (lada).

Selain jenis tanaman, petani harus memperhatikan jarak tanam. “Pencegahan perkembangan cendawan harus menghindari pertanaman yang terlalu rapat,” kata Alif. Jarak tanam ideal untuk tanaman cabai antara 50—60 cm di setiap sisi. Tanaman yang terlalu rapat mengakibatkan kelembapan lingkungan di sekitar tanaman meningkat hingga 50—70%. Kondisi sangat kondusif untuk perkembangbiakan cendawan dan mikroorganisme penyebab penyakit lain.

Biopriming

Pengamatan lahan keharusan. Jika petani menemukan serangan Phytophthora capsici pada tanaman harus segera mencabut dan memusnahkan jauh dari lahan agar tidak menjadi sumber penularan baru. Upaya lain mencegah serangan busuk batang dengan biopriming benih cabai. Biopriming adalah menggabungkan agens hayati dengan bantuan larutan. Tujuannya meningkatkan viabilitas dan vigor benih.

Periset di Program Studi Ilmu dan Teknologi Benih Institut Pertanian Bogor, Aulia Zakia dan rekan menyatakan, perlakuan biopriming benih cabai menghasilkan pertumbuhan tanaman meningkat dan serangan busuk batang terkendali. Aulia menggunakan rizobakteri, bakteri yang bersimbiosis dengan akar tanaman. La Mudi dari Universitas Halu Oleo mengatakan, rizobakteri mikroorganisme kompetitor yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman, siklus hara, pengedalian penyakit.

Teknik biopriming dengan mensterilkan benih, merendam dengan 50 ml suspensi bakteri selama 24 jam pada suhu 20°C. Setelah perendaman, tiriskan dan kering anginkan benih selama sejam sebelum penyemaian.

Menurut Aulia media tanam persemaian merupakan kombinasi antara tanah,  pasir, arang  sekam,  serbuk sabut kelapa atau cocopeat. Perlakuan biopriming tampak 42 hari setelah tanam (hst). Terdapat selisih tinggi tanaman sampai 2 cm dibandingkan dengan bibit tanpa perlakuan. Tanaman cabai lebih vigor. Kejadian penyakit pun lebih rendah 6,1% dibandingkan dengan perlakuan kontrol (13,3%) pada hari ke-5 setelah inokulasi. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software