Strategi Demi Mutu Tinggi

Filed in Fokus by on 01/04/2013 0 Comments

Petani biasanya menanam bawang saat kemarauPemberian unsur hara tepat meningkatkan mutu bawang merah yang berujung pada peningkatan laba.

Harga bawang merah menanjak tinggi. Di Pasar Induk Kramatjati, harga umbi lapis itu mencapai Rp58.000 per kg pada 16 Maret 2013. Menurut  Ketua  Asosiasi Penangkar Benih Bawang Merah Indonesia (APBMI), Agusman Kastoyo, itu lantaran efek domino bawang putih. Importir menahan diri mendatangkan bawang merah karena ratusan kontainer bawang putih masih  tertahan di pelabuhan sejak Januari 2013. Jika itu terjadi pada bawang merah, tidak sampai sebulan produk membusuk.

Kualitas super besar membulat dengan warna ungu kemerahanPadahal konsumsi bawang merah setiap hari terus berjalan. Wajar saja harga mengikuti. Efeknya petani menjual simpanan bawang bibit pada masa tanam mendatang. Mereka tergiur harga tinggi. Sebelum heboh bawang merah, Ahmad Supandi lebih dahulu meraih omzet fantastis: Rp430-juta. Ia bukan menimbun umbi lapis itu hingga harganya meroket. Supandi menempuh jalan legal dengan cara menjual hasil panen bawang merah Allium cepa di lahan 5 ha.

Pekebun di Brebes, Provinsi Jawa Tengah, itu mengatakan bahwa  50% dari total panen 50 ton merupakan umbi berkualitas super: berukuran besar, membulat, kulit ungu kemerahan, dan tanpa noktah hitam. Hasil itu tergolong fantastis lantaran Supandi menanam pada pertengahan Desember 2012, ketika puncak musim hujan. Padahal, lazimnya petani di sentra bawang di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, menanam tanaman anggota famili Liliaceae itu saat kemarau. “Hasil panen terbaik biasanya pada Juli—Agustus atau di puncak kemarau,” kata Supandi.  Saat kemarau, persentase bawang merah berkualitas super di lahan Supandi meningkat menjadi 95%. Harga bawang kualitas super 10—15% lebih mahal ketimbang mutu biasa.

Pupuk

Bagaimana cara Supandi menghasilkan umbi berkualitas super? Ia mengolah tanah dan membenamkan 600—1.000 kg pupuk organik kemasan dan 300—600 dolomit per ha lahan pada awal Desember 2012. Ia menanam umbi berjarak 20 cm x 20 cm sehingga total populasi 250.000 tanaman per ha. Supandi tidak perlu menyiram setiap hari lantaran saat itu musim hujan. Pemupukan lanjutan berupa 300 kg pupuk NPK per ha.

Frekuensi pemupukan 3 kali, yakni 1 hari setelah tanam (hst),  15—20 hst, dan terakhir pada                                      30—35 hst. Pada 12 hari setelah tanam (hst), ia mulai menyemprotkan fungisida tabur berbahan aktif piraklostrobin berdosis 8 sendok makan (24—40 g) per tangki semprot 17 liter. Ia mengulangi perlakuan itu per 2 hari, berselang-seling dengan fungisida cair berbahan aktif metiram dengan dosis  17 ml per tangki.

Pada 12 hst dan 30 hst, ia menyemprotkan insektisida berbahan aktif fipronil untuk mencegah serangan ulat, wereng, dan serangga perusak lain. Mulai 20 hst, ia juga menyemprotkan insektisida berbahan aktif klorfenapir dengan dosis 20 ml per tangki setiap 2 hari. Penyemprotan fungisida ia lakukan hingga 45 hst lantaran pada musim hujan, petani memanen pada 55 hst. “Saat kemarau penyemprotan sampai 50 hst karena panen pada 60 hst,” kata Supandi.

Frekuensi penyemprotan pestisida relatif tinggi karena serangan penyakit saat musim hujan juga meningkat. Menurut Agus Pratomo SP dari Balai Pengembangan Sumberdaya Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur, serangan penyakit saat musim hujan menyebabkan produktivitas bawang merah anjlok 30—70%. “Serangan berat bahkan bisa membuat petani gagal panen,” kata Agus.

Tanaman stres

Ketika tanaman berumur 55 hari pada Februari 2013, Supandi panen lebih dari 20 ton di lahan 2 ha. Tengkulak menebus 10 ton hasil panen ayah 3 anak itu Rp120-juta. Separuh hasil lainnya ia simpan sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya. Adapun untuk lahan kedua seluas 3 ha dibagi dalam 2 kali panen: pertama seluas       2 ha dengan produksi 20 ton, tengkulak membayar Rp260-juta. Sementara panen di lahan 1 ha hanya 4,5 ton akibat serangan moler. “Tanaman terserang moler dan trotol pada bulan kedua sehingga hasilnya sedikit,” kata Supandi. Tengkulak memborong Rp50-juta.

Supandi mengatakan 50% alias separuh dari total produksinya itu berkualitas super. Padahal, hingga lima tahun lalu paling banter hanya 10% dari total volume panen yang tergolong kualitas super. Selain itu  produktivitas pun maksimal cuma

8 ton per ha. Ketika itu,  “Bisa panen saja sudah bagus,” kata Supandi. Ia mesti berjibaku mengatasi serangan penyakit dengan mencoba berbagai jenis fungisida. Penyakit yang paling banyak menyerang saat itu adalah moler dan trotol. Serangan trotol menyebabkan ukuran daun mengecil sehingga menyisakan ruang Jika melihat ada ruang kosong di sela pertanaman, ia mencabut dan memusnahkan tanaman yang rusak itu sebelum menular ke tanaman di dekatnya.

Namun, hasilnya bak jauh panggang dari api. Masalah kedua setelah menghalau penyakit adalah mengatasi tanaman yang stres. Menurut Dr Widodo, pakar hama dan penyakit tanaman di Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, penyebab tanaman stres beragam seperti perbedaan suhu ekstrem antara siang dan malam saat pergantian musim, kekurangan pupuk, dan serangan hama atau penyakit.

Dosis tepat

Lantaran tergolong tanaman berumur pendek dengan masa tanam 55—60 hari, stres menyebabkan ukuran umbi bawang merah tidak maksimal. Umbi tumbuh kecil memanjang dengan warna ungu pucat. Petani menjulukinya bawang BS alias kelas apkir. “Saat harga anjlok, kurang dari Rp5.000 per kg, bawang BS biasanya dibuang begitu saja,” kata Suwandi Dirja, ketua Kelompok Tani Tirtayasa 1, Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes.

Menurut Widodo, kunci  pemulihan tanaman stres adalah nutrisi yang cukup dan hormon pertumbuhan. Itu sebabnya Supandi memberikan fungisida berbahan aktif piraklostrobin yang teracik dengan zat pengatur tumbuh. Menurut Sismunjidi, kepala Bidang Agribisnis dan Hortikultura Dinas Pertanian,  Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Brebes, produktivitas rata-rata bawang merah di daerahnya memang tidak terlalu tinggi, antara 9,5—12 ton per ha.

“Petani sering nekat menanam di luar musim sehingga produksi rendah,” kata Sismunjidi. Toh, berkat penggunaan pupuk dan pestisida dengan dosis tepat, Supandi bisa memanen bawang merah kualitas super. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software