Stirofoam Berbahan Singkong

Filed in Tak Berkategori by on 01/10/2012 0 Comments

Stirofoam berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Muncul stirofoam berbahan nabati yang aman untuk keduanya.

 

Andre bersusah payah membuka simpul plastik berisi sapo tahu pesanannya untuk makan malam di kantor. Sesekali tangan pria 32 tahun itu menjauh dari simpul itu karena tak kuat menahan panas. Begitu terbuka, ia segera menuangkan penganan yang mengepul itu ke kotak stirofoam. Cara itu sebetulnya mengundang bahaya. Pusat Onkologi Lingkungan, Institut Kanker Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, menyatakan bahan polistirena dalam stirofoam berpotensi memicu kanker.

Bukan hanya tak aman bagi kesehatan, stirofoam juga mengancam lingkungan. Itu karena material berbahan dasar zat polistirena itu nyaris tidak bisa terurai di alam. “Kalaupun bisa, perlu ribuan tahun untuk hancur karena proses fisik,” kata Prof Khaswar Syamsu, periset di Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor. “Dosa” stirofoam dimulai sejak proses pembuatan yang melibatkan polistirena dan gas freon yang merusak ozon.

Saat banyak negara melarang penggunaan freon, produsen menggantikan dengan gas hidroflorokarbon alias HFC. Dengan kemampuan memantulkan panas 1.000-3.000 kali lebih kuat ketimbang karbondioksida, HFC tidak benar-benar ramah lingkungan. Di balik berbagai fakta mengerikan itu, ternyata pemakaian stirofoam tetap marak.

Pati dan serat

Kondisi itulah yang membuat Ir Evi Savitri Iriani MSi, Dr Ir Titi Candra Sunarti MSi, Dr Ir Indah Yuliasih STP MSi, dan Dr Ir Nur Richana MSi dari Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, prihatin. Mereka lantas meriset pembuatan biofoam, bahan serupa stirofoam tapi berbahan dasar pati dan serat alam. Pati ramah lingkungan, tidak membahayakan kesehatan, biaya pembuatan murah, serta pembuatan mudah.

Prosesnya mirip pembuatan crepes atau wafer. Mereka mencampurkan adonan terdiri atas pati dan serat. Sumber pati  antara lain tapioka, sagu, dan kentang. “Pati akan mengembang saat pemanasan sehingga membentuk rongga udara,” tutur Evi. Sementara penambahan bahan yang mengandung serat alam seperti serat sabut kelapa dan ampok jagung memperkuat tekstur biofoam sehingga tidak mudah hancur saat digunakan.

Ampok adalah hasil sampingan dari penggilingan jagung yang terdiri dari lembaga jagung, kulit ari, dan sedikit endosperma. Biasanya ampok jagung dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Para periset memilih ampok dari penggilingan jagung itu agar tidak bersaing dengan bahan pangan. Kelebihan lain, murah dan mudah diperoleh. Harga ampok jagung dari pabrik penggilingan hanya Rp2.000 per kg.

Selain serat, ampas pembuatan tepung jagung itu juga mengandung 57% pati, 5% lemak, dan 11% protein. Semua kandungan itu berperan untuk memperkuat struktur biofoam. Lemak berperan sebagai plasticizer-alas pelastik. Adapun protein sebagai polimer pembentuk matriks. Untuk meningkatkan sifat fisik dan mekanik, Evi menambahkan polivinil alkohol (PVOH). Meski bukan tergolong polimer alam, polivinil alkohol mudah terurai di tanah.

Bikin lentur

Untuk membuat biofoam, Evi menggunakan bahan gliserol sebagai pemlastik lantaran bahan itu dapat mencegah adonan lengket dengan cetakan. Saat wujud adonan itu menjadi seperti adonan martabak yang kental, Evi dan rekan-rekan memasukkan dalam cetakan berbentuk lempengan persegi panjang. Selang 2-3 menit, biofoam pun jadi. Dari pengalaman Evi, formulasi mesti menyesuaikan bentuk cetakan. Penggunaan cetakan berbeda dengan adonan yang sama membuat hasil cetakan pecah.

Musababnya, ampok jagung mengandung amilopektin dan amilosa yang menentukan arah dan banyaknya adonan mengembang. Semakin banyak pati, semakin lentur biofoam. Sebaliknya, terlalu banyak serat menghasilkan biofoam yang kaku dan berat. Sementara, terlalu banyak menambahkan bahan tinggi protein membuat lempengan biofoam mudah hangus saat pencetakan.

Kandungan amilopektin ampok jagung yang mencapai 79,1% menghasilkan biofoam dengan pori-pori kecil dan berdensitas rendah. Artinya, menghasilkan produk yang ringan. Sementara bahan seperti tepung jagung, tepung beras maupun tapioka dengan kandungan amilosa tinggi akan sulit mengembang dan cenderung menghasilkan biofoam yang tahan air tapi kaku dan tidak lentur sehingga mudah patah.

Menyerap air

Pemanfaatan biofoam tidak sekadar wadah atau pembungkus makanan. Perempuan-perempuan peneliti itu juga membuat dalam bentuk pot lantaran mudah terurai di tanah. “Tanam saja dengan potnya sekalian, toh biofoam akan hancur dalam 2 bulan,” kata Titi Candra Sunarti. Bentuk lainnya adalah sebagai penahan benturan untuk mengirim buah.

Bahan pati menjadikan biofoam bersifat higroskopis alias menyerap air. Itu menjadikan biofoam belum mampu menyamai sifat mekanis stirofoam yang lentur dan tahan air. Menurut Titi, sejatinya hal itu bisa diakali dengan menambahkan polimer sintetis untuk meningkatkan kelenturan. Sayangnya, itu akan menambah biaya produksi dan memperlambat masa penguraian. Saat ini saja, harga biofoam karya mereka mencapai Rp290 per lembaran berukuran 12 cm x 20 cm. Jauh di atas stirofoam yang hanya Rp100 untuk ukuran sama.

Bobot menjadi persoalan lain. Biofoam ampok jagung berbobot 0,33-0,55 g/cm3, sedangkan stirofoam hanya 0,04 g/cm3. “Bahan yang berasal dari serbuk kelapa memiliki densitas rendah, masalahnya bahan itu lebih banyak menyerap air,” kata Titi. Toh, meski dirundung seabrek kekurangan, laju penguraian wadah organik itu ratusan bahkan ribuan kali lebih cepat dari stirofoam biasa. (Pranawita Karina)


Keterangan Foto :

  1. Bahan polistirena dalam stirofoam berpotensi memicu kanker
  2. Ir Evi Savitri Iriani MSi, Dr Ir Titi Candra Sunarti MSi sebagian dari tim IPB yang mengembangkan biofoam dari limbah pertanian
  3. Komposisi pati dan serat harus disesuaikan dengan bentuk biofoam sebagian dari tim IPB yang mengembangkan   biofoam dari limbah pertanian
 

Powered by WishList Member - Membership Software