SRI Mujarab untuk Lahan Sakit

Filed in Sayuran by on 05/07/2010 0 Comments

 

Dadi baru menerapkan SRI pada Oktober 2009. Dengan cara itu ia menanam 1 bibit per lubang tanam. Sebelumnya, Dadi mengisi 3 – 7 bibit per lubang tanam. Jarak tanam juga dibuat longgar, sekitar 25 cm x 25 cm; semula 22 cm x 22 cm. Dengan cara itu Dadi menghemat ongkos pembelian bibit hingga 70 – 80%. Biasanya per musim tanam Dadi membeli 20 kg per ha benih varietas ciherang. Kini cukup 5 kg benih. Dengan harga benih Rp60.000 per 5 kg, Dadi menghemat Rp900.000 per musim tanam.

Irit air

Bibit yang dipakai berumur 7 – 10 hari setelah semai. Dengan cara lama bibit yang ditanam umur 21 – 25 hari. Yang istimewa, dalam hitungan 15 hari sudah muncul 30 anakan per rumpun; cara konvensional butuh waktu 25 hari. Maklum tidak terjadi persaingan nutrisi dalam satu lubang tanam sehingga bibit cepat tumbuh.

Penggunaan air pun irit. Selama penanaman hingga panen ketinggian air maksimal  2 cm. Yang terbaik air macak-macak atau setinggi 5 mm. Bahkan ada periode pengeringan yang tidak butuh air sehingga tanah tampak retak. Beda dengan sistem konvensional yang harus tergenang setinggi lebih dari 5 cm. Hasilnya, volume panen naik 1,5 kali lipat. Padahal semula Dadi ragu sistem tanam 1 bibit itu bisa mendongkrak produksi.

Kesuksesan itu lantas diikuti oleh anggota Kelompok Tani Puseurjaya yang dikomandoi Dadi. Tercatat sebanyak 10,8 ha lahan sawah konvensional di daerah itu beralih ke SRI sejak awal 2010. Namun, menerapkan SRI butuh kerja keras.

Menurut Juwito, pendamping metode SRI dari PT Sampoerna di Karawang, ada serangkaian langkah yang harus dilalui untuk mendapatkan hasil maksimal. Sebelum penanaman tanah dibajak sedalam 25 – 30 cm. Itu sambil membenamkan sisa-sisa tanaman dan rumput. Kemudian gemburkan tanah dengan garu lalu ratakan.

Atasi hama

Selain itu petani mesti membuat parit mengelilingi atau melintang di setiap petak. Tujuannya, untuk membuang kelebihan air. Sebelum penanaman benih direndam dalam air untuk mempercepat perkecambahan. Perendaman selama 24 – 48 jam, lalu benih dimasukkan ke dalam karung atau wadah berpori-pori. Itu supaya udara masuk. Simpan wadah di tempat lembap selama 24 jam. Setelah itu benih siap ditanam dipersemaian selama 7 – 10 hari sebelum dipindah ke sawah.

Petani pun harus rutin mengontrol serangan hama. Harap mafhum, gara-gara telat mengantisipasi kedatangan keong Sarmin, ketua Kelompok Tani Mekar Jaya, Desa Sukaluyu, Kawarang, harus menanam ulang lahan seluas 200 m2 dari total luas lahan 3.000 m2 yang dikelolanya. ‘Biasanya dengan cara konvensional, dari 2 – 5 bibit per lubang tanam masih ada 1 – 2 bibit yang selamat,’ ucap Sarmin.

Untuk mencegah serangan hama Juwito menyarankan untuk merendam benih dalam campuran daun mahoni. ‘Tumbuk 1 kg daun mahoni lalu masukkan dalam 1 l air,’ kata Juwito. Itu efektif menekan serangan belalang.

Perbaiki lahan

Sejatinya teknik SRI yang dikembangkan Fr Henri de Laulanie, pastor sekaligus agrikulturis asal Perancis, sejak 1980-an itu bisa diterapkan pada sistem penanaman konvensional yang banyak asupan bahan kimiawi, semiorganik, dan organik. Toh Prof Dr Iswandi Anas, guru besar Jurusan Tanah Institut Pertanian Bogor, menyarankan asupan bahan kimia sebaiknya dikurangi.

‘Pemberian zat kimia terus-menerus dan berlebihan menyebabkan lahan sakit,’ kata Iswandi. Lahan disebut sakit bila unsur organik tanah kurang dari 2; Idealnya 5. Berdasarkan pengamatan Iswandi sebanyak 73% lahan pertanian di tanahair sakit. Iswandi menduga lahan pertanian di Karawang termasuk di dalamnya.

Itu tergambar dari besarnya pemakaian pupuk kimia yang rata-rata 500 – 800 kg/ha/musim tanam. Padahal rekomendasi pemerintah untuk Urea, misalnya, hanya 150 – 250 kg/ha/musim tanam. Akibatnya tanah menjadi liat dan padat. Pada kondisi itu lahan sulit ditanami dan air susah menembus lapisan tanah. Penyerapan pupuk pun kurang sempurna. Sebab itu Dadi memilih semiorganik. Bila dulu ia memakai 2 kuintal ZA dan 3 kuintal KCl, kini masing-masing 1,5 kuintal. Pengurangan itu digantikan oleh pupuk organik yang ia buat sendiri. ‘Pakai kompos sebanyak 2 ton/ha,’ kata Juwito.

Selain itu Dadi dan kelompok taninya membuat mikro organisme lokal (MOL) dari hasil pertanian. Contohnya MOL dari bonggol pisang yang kaya nitrogen. Nitrogen berperan membantu pertumbuhan, memperkuat akar, serta meningkatkan jumlah bibit. MOL bonggol pisang yang dicampur gula merah dan air beras itu diberikan sebanyak 30 l/ha saat tanaman berumur 20 hari.

Alihfungsi lahan

Peningkatan produksi seperti yang dialami Dadi dapat mendongkrak produksi padi di Karawang yang terkenal sebagai salah satu lumbung padi Jawa Barat. Pada 2008, misalnya, Karawang menyumbang 1.255.118 ton gabah kering panen (GKP) dari total produksi Jawa Barat sebanyak 10-juta/tahun.

Cara budidaya SRI juga menjadi salah satu solusi mengatasi alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan kawasan industri. Menurut H Nachrowi M Nur, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan industri selama 1989 – 2007 mencapai 2.578 ha atau 135,6 ha/tahun. Itu artinya kecil kemungkinan menambah luas lahan pertanian. Satu-satunya cara adalah meningkatkan produksi panen seperti yang dilakukan Dadi.  (Lastioro Anmi Tambunan)

 

Dengan SRI produksi padi di Desa Puseurjaya mencapai 9,48 ton/ha

Benih ciherang cepat berkecambah setelah direndam air selama 24 – 28 jam

Umur 12 hari setelah semai tinggi bibit di atas 20 cm

 

Powered by WishList Member - Membership Software