Spektakuler : Udang Vannamei dari Laut ke Tawar

Filed in Majalah, Topik by on 01/03/2019

 

Inovasi budidaya udang vannamei yang semula di air asin kini beralih ke air tawar. Peluang menghasilkan vannamei untuk memasok tingginya permintaan pasar.

Budidaya vannamei pada salinitas rendah terbukti berhasil dan menguntungkan.

Cipto Husodo memanen 280 kg udang vannamei dari kolam tanah 700 m². Saat panen terakhir pada Februari 2019 harga Litopenaeus vannameii di tingkat petambak Rp40.000 per kg—terdiri atas rata-rata 100 ekor. Bobot rata-rata 10 gram per ekor. Omzet petambak di Desa Tunjungmekar, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, itu Rp11,2 juta. Cipto mengatakan, ongkos produksi Rp5,8 juta sehingga laba bersih Rp5,4 juta.

Ia menebarkan benur stadia pascalarva (PL) 8 berumur 17 hari sejak menetas sebanyak 50.000 ekor. Kepadatan 71 ekor per m³. Kolam Cipto istimewa karena berjarak 25 kilometer dari laut. Lazimnya tambak udang kaki putih alias vannamei berlokasi 50—100 meter dari pantai. Musababnya vannamei menghendaki air bersalinitas tinggi 29—30 ppt. Sebaliknya Cipto berhasil beternak vannamei di air bersalinitas hanya 3 ppt.

Kontrol air

Ahli budidaya di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Kukuh Nirmala M.Sc., mengatakan salinitas kurang dari 3 ppt itu dapat digolongkan sebagai air tawar. Biasanya udang vannamei hidup di air bersalinitas 30 ppt atau payau. Vannamei yang semula tumbuh di air asin atau payau kini mampu beradaptasi di air tawar. Bahkan sebuah perusahaan di Yinchuan, Provinsi Ningxia, Tiongkok, membudidayakan vannamei di ketinggian 1.500 m di atas permukaan laut dan berjarak 2.000 km dari pantai (baca: Kini si Kaki Putih di Dataran Tinggi halaman 26—28).

Vannamei menjadi komoditas terbesar kedua yang dibudidayakan setelah bandeng di Lamongan.

Cipto mengandalkan benur atau benih udang yang adaptif pada salinitas rendah. Jadi begitu benur datang, petambak 42 tahun itu langsung menebarkan di kolam air tawar. Ia tidak perlu mengadaptasikan benur sebelum menebar di kolam. Kebetulan usaha pengadaptasian benur udang berkembang di Lamongan. Pemilik hatchery skala rumah tangga lazimnya menurunkan kadar salinitas hingga mencapai 0—1 ppt secara bertahap setiap hari (Baca Bikin Benur Tahan Banting halaman 16—17).

 

Petambak sejak 2010 itu tinggal mempertahankan salinitas air 3 ppt selama budidaya 2 bulan dan suhu terjaga 26°C. Itulah sebabnya ia memeriksa salinitas setiap hari. Jika kadar salinitas kurang dari 3 ppt ia memasukkan air sumur bor ke dalam kolam hingga salinitas yang dinginkan tercapai. Sumur bor milik Cipto bersalinitas 8 ppt.

Tingkat pH air yang berkisar 7,5 juga menjadi perhatian petambak itu. Ia lazim mengontrol pH rutin sejak 1 bulan pascatebar. Jika pH terlampau tinggi, Cipto mengganti air baru. Jika pH rendah ia menambahkan kapur ke kolam. Cipto juga mengandalkan probiotik padat dan cair bikinan sendiri sebagai kontrol biologis. Pemberian probiotik padat sebelum menebar benur, sedangkan probiotik cair setiap pekan.

Kolam vannamei salinitas rendah milik Cipto Husodo.

Ia tertarik memelihara vannamei karena masa budidaya relatif singkat yakni dua bulan dan tidak memerlukan kolam luas. Harga benih murah sekitar Rp24 per ekor dan harga jual relatif tinggi alasan lain Cipto beternak vannamei. Sejak 2010 hingga kini ia mengandalkan kolam vannamei tawar sebagai sumber utama penghasilan keluarga. “Menghidupi anak dan istri, memiliki warung, serta biaya kuliah anak hasil budidaya udang,” kata Cipto.

Menguntungkan

Lazimnya vannamei dibudidayakan di tambak bersalinitas tinggi sekitar 30 ppt.

Sebetulnya Cipto berencana menambah kolam, tapi tidak ada tetangga yang menjual lahan. Oleh karena itu, ia bakal memperdalam kolam hingga 1 meter. Dengan begitu kepadatan benur lebih tinggi hingga 150.000 ekor dengan luasan tetap 700 m², semula maksimal 75.000 ekor. Harapanya ia bisa memanen 1 ton satwa air anggota famili Penaeidae itu menggunakan benih F1. Pada 2020 ia juga bertekad membikin usaha pembenihan vannamei.

Itu bukti budidaya satwa air yang kali pertama diidentifikasi ahli zoologi invertebrata asal Amerika Serikat, Pearl Lee Boone, itu pada salinitas rendah di Lamongan berkembang. Cipto tidak sendirian menikmati keuntungan beternak udang. Luthfi Romadlon pun menangguk laba vannamei Rp5,4 juta pada Desember 2018. Itu hasil perniagaan 180 kg seharga Rp55.000 dan ongkos produksi 4,5 juta.

“Hasil itu bagus karena percobaan pertama,” kata warga Desa Mayong, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, itu. Luthfi membudidayakan whiteleg shrimp sejak 2016. Ia tertarik mengembangkan vannamei lantaran keuntungan tinggi. Buktinya keuntungan yang didapat Luthfi mencapai 120%, sedangkan Cipto 93%. Pembudidaya vannamei salinitas rendah tidak hanya di Jawa Timur.

Vannamei salinitas rendah mengisi pasar di dalam dan luar negeri.

Nun di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Agus Setiawan memiliki kolam berukuran 10 m x 8 m berisi satwa kerabat udang windu Penaeus monodon itu. Jarak kolam ke pantai sekitar 12 kilometer. Panen terakhir pada Agustus 2018 Agus memperoleh omzet Rp11,4 juta dari hasil perniagaan 300 kg udang seharga Rp38.000.

Peneliti udang di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujungbatee, Nanggroe Aceh Darussalam, Ibnu Sahidhir M.Sc., mengatakan vannamei air payau memungkinkan tumbuh dan berkembang di air tawar. Syaratnya padat tebar lebih rendah kurang dari 100 ekor per m³ serta pemberian mineral makro dan mikro dalam pakan. Menurut Ibnu budidaya vannamei di air tawar berproduksi lebih rendah dibandingkan dengan di air payau, kurang dari 2 kg per m3.

Sebab, kulit udang sulit keras sehingga rentan penyakit. Produksi vannamei di air payau mencapai 1—4 kg per m3. Namun, biaya produksi membesarkan vannamei di air payau sangat besar, mencapai Rp52 juta untuk luasan 1.000 m². Agus Barudin di Situbondo, Jawa Timur, membesarkan vannamei di luasan sama hanya menghabiskan Rp11 juta. Tingginya biaya produksi itu karena tambak air asin mesti memiliki genset agar pasokan listrik stabil. Sebaliknya biaya budidaya di air tawar rendah karena pemeliharaan tidak seintensif di tambak air asin. Itulah sebabnya membesarkan vannamei di air tawar tetap menguntungkan. Peternak dengan kolam 4.000 m² mampu meraih laba Rp25,7 juta per bulan (lihat : Laba Tinggi Salinitas Rendah halaman 16—17).

Membudidayakan vannamei di perkotaan memungkinkan dilakukan.

Respons pasar

Menurut pengepul di Lamongan, Jawa Timur, Choirul Musrifin, pasar tidak membedakan antara vannamei hasil budidaya air payau dan air tawar. Harap mafhum, sosok kedua udang itu sama saja. Sebagai gambaran, pada pekan ketiga Februari 2019, harga vannamei air payau Rp60.000 per kg untuk ukuran 50—1 kg terdiri atas 50 ekor. Pada saat yang sama, harga vannamei air tawar setali tiga uang alias sama saja. Demikian juga cita rasa udang tidak berbeda. “Jika sudah dimasak, rasa itu tergantung bumbu,” kata Ipin, sapaan akrab Choirul Musrifin.

Pasar menerima semua ukuran udang vannamei hasil budidaya air tawar. Pasar menghendaki vannamei berbobot minimal 5 gram per ekor dan sehat. Pada umumnya para peternak vannamei tawar mampu memenuhi kriteria itu. Konsumen vannamei adalah pabrik pengolahan hasil laut, rumah makan, dan rumah tangga. Bergesernya lokasi budidaya dari tepi pantai ke wilayah berjarak 20—25 km kabar menggembirakan. Sebab, makin banyak orang yang mampu mengusahakan vannamei.

Cipto Husodo mengandalkan budidaya vannamei salinitas rendah sebagai pendapatan utama sejak 2010.

Meski demikian bukan berarti membudidayakan vannamei tanpa aral. Para peternak menghadapi banyak hambatan seperti penyakit dan mahalnya garam krosok (baca: Aral di Air Tawar halaman 22—23). Namun, jika peternak mampu mengatasi aral pasar vannamei terbuka.

Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Jawa Barat Banten, Joko Sasongko, mengatakan permintaan vannamei masih terbuka lebar. Sampai sekarang tidak ada penolakan udang dari unit pengolahan ikan (UPI). Joko rutin menjual 400 ton udang per tahun ke eksportir. Lebih lanjut ia menuturkan “Permintaan dari UPI besar sekali. Produksi saya masih sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan mereka”. Kondisi serupa juga dialami oleh perusahaan-perusahaan lain seperti PT Noerwy Aqua Farm (NAF).

Produsen di Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu menghasilkan total 350 ton udang vannamei per siklus atau 110 hari. Manajer Tambak NAF, Rachman Qutub mengatakan, jika produksi dinaikkan 1.000 ton per siklus pun pembeli siap menampung.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lamongan, Ir. Suyatmoko, M.M.A.

Bagaimana dengan pasar domestik? Pengepul di Lamongan, Ahmad Rofiq menuturkan, pasar lokal membutuhkan banyak vannamei. Pengepul sejak 2007 itu mendapatkan pasokan rutin hingga 3—8 ton per hari. Jika ia memasok lebih dari 10 ton pun pasti terserap pabrik. Ia juga mengatakan, vannamei air tawar tetap berpeluang mengisi pasar ekspor.

Menurut Kepala Seksi Produksi dan Usaha Budidaya, Bidang Perikanan Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan Lamongan, Panca Refti Setiyoningsih, S.Pi., M.Si., vannamei menjadi komoditas terbesar kedua yang dibudidayakan setelah bandeng. Alasannya harga jual relatif tinggi dan stabil. Jika berfluktuasi pun perbedaannya tidak terlalu tinggi. Itu berbeda dengan harga ikan lain seperti nila yang memiliki harga terendah (Rp2.000—Rp8.000) dan tertinggi (Rp25.000—Rp30.000).

Menurut Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan Lamongan, Ir. Tri Wahyudi, M.M., luas sawah tambak 19.519 hektare yang menghasilkan 12.964 ton vannamei air tawar pada 2017. Dari jumlah itu ada 26.069 orang yang membudidayakan vannamei air tawar. Disebut sawah tambak karena pemilik menggunakan lahan itu sebagai tempat budidaya vannamei dan padi sesuai musim.

Semua masakan udang di Lamongan berasal dari kolam bersalinitas rendah.

Oleh sebab itulah hanya tiga siklus budidaya udang dalam setahun di Lamongan, yakni pada November—Desember, Januari—Februari, dan Maret—April. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lamongan, Ir. Suyatmoko, M.M.A., “Vannamei meningkatkan kesejahteraan para petambak.” kata Suyatmoko. Buktinya nilai tukar petani (NTP) perikanan Kabupaten Lamongan 116,64.

Daerah lain

Luthfi Romadlon membudidayakan vannamei salinitas rendah secara monokultur pada Desember 2018.

Apakah daerah lain memungkinkan untuk beternak vannamei pada salinitas rendah? Menurut Panca aplikasi budidaya vannamei salinitas rendah di Lamongan memungkinkan dilakukan di Gresik, Tuban (yang berbatasan dengan Lamongan), dan Pasuruan. Semuanya di Jawa Timur. Alasannya semua daerah tersebut memilik karakteristik lahan mirip Lamongan. Salah satu pembudidaya vannamei salinitas rendah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, adalah Usman Zuhri.

“Air dalam kolam saya tidak lebih dari 5 ppt,” kata pria kelahiran Gresik, 13 Oktober 1961 itu. Ia beternak vannamei salinitas rendah sejak 2010. Semula tujuannya optimalisasi kolam semen yang tidak terpakai saat kemarau. Usaha utama Usman penjualan benur salinitas rendah. Kini pembesaran vannamei itu juga menambah pundi-pundi pendapatan Usman. Pada 2018 ia memperoleh omzet Rp7,54 juta dari hasil penjualan 130 kg udang seharga Rp58.000. Setelah dikurangi ongkos produksi Rp1 juta, maka profit Usman Rp6,5 juta selama masa budidaya 2 bulan. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , , , , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software