Spektakuler! Mangga Pendek 8.000 Ha

Filed in Tekno by on 01/01/2014
Kebun mangga irwin 8.000 ha milik 4.700 pekebun

Kebun mangga irwin 8.000 ha milik 4.700 pekebun

Bukit di Desa Yu Ching, Tainan County, Taiwan, itu terlihat memutih. Bukan karena salju, tetapi karena kertas pembungkus mangga irwin di kebun 8.000 ha.

Cuaca siang pada pertengahan Juli 2013 itu begitu terik. Papan elektronik di kedai penjual olahan mangga menunjukkan suhu mencapai 35oC. Di dalam bus cuaca panas itu sedikit teredam sejuknya pendingin udara. Selama sepuluh menit bus melaju di jalan yang mulus, lalu berbelok ke kanan dan olala..! Sejauh mata memandang menghampar kebun mangga yang menakjubkan. Jutaan pohon mangga hadir di bukit, lembah, kanan dan kiri jalan. Sosoknya pendek-pendek, hanya setinggi 1,5—2 meter.

Yang menarik di antara hijaunya dedaunan hadir warna putih yang mencolok. Itu kertas pembungkus buah mangga irwin. Ketika kertas pembungkus dibuka tampak mangga berkulit ungu kemerahan. Di perbukitan itu tak ada tanaman mangga yang tanpa buah, yang meruah-ruah seakan berebut keluar dari tajuk. Buah menjuntai hingga nyaris menyentuh tanah. Tanaman mangga di daerah perbukitan di Desa Yu Ching, Kabupaten Tainan, itu benar-benar istimewa.

Rata-rata mangga irwin berumur 30 tahun tapi tanaman pendek dan sarat buah, produksinya 60—100 kg per pohon

Rata-rata mangga irwin berumur 30 tahun tapi tanaman
pendek dan sarat buah, produksinya 60—100 kg per pohon

Pohon pendek itu sejatinya sudah berumur di atas 30 tahun. Di sebuah sentra mangga di Pemalang, Jawa Tengah, ketinggian pohon arumanis berumur 10 tahun mencapai 3 meter. Para pekebun di Desa Yu Ching memang memangkas pohon pendek supaya mudah merawat tanaman dan memanen buah. Pemangkasan itu juga sekaligus meremajakan tanaman. Akibatnya produktivitas irwin pun tinggi karena selalu dalam keadaan muda. Setiap tanaman menghasilkan 60—100 kg buah per tahun.

Usia produktif

Menurut laman resmi Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Pemerintah Daerah Queensland, Australia, produktivitas mangga irwin mencapai 100 kg buah pada umur 8—9 tahun. Negeri Kanguru itu mengintroduksi irwin dari Florida, Amerika Serikat, pada 1970. Peneliti mangga dari Universitas Gadjah Mada, Sukartini, menuturkan mangga berumur 30 tahun sejatinya masih produktif. “Bahkan di kebun Cukurgondang (kebun percobaan mangga milik Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Balitbu, di Jawa Timur red) ada yang masih produktif sejak ditanam 1940-an untuk mangga-mangga lokal,” katanya.

Sementara kepala ahli buah dari Pusat Kajian Hortikultura TropisInstitut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), Sobir PhD, berpendapat produktivitas tinggi pada irwin berumur 30 tahun karena pekebun di Taiwan tidak memaksa pohon untuk berbuah berkali-kali. “Kalau di Taiwan hanya setahun sekali, kalau di dalam negeri dipaksa berbuah 2—3 kali dalam setahun dengan paklobutrazol,” tutur doktor alumnus Okayama University itu. Lagi pula pada umur 30 tahun irwin memang masih produktif. Di sentra mangga di Yu Ching pekebun juga masih memanen buah dari pohon berumur 50 tahun. CS Chang dari Instansi Pertanian Tainan mengungkap mangga irwin mulai produktif pada umur 6 tahun.

Yuwen, jenis terbaru yang berdaging manis, halus, dan biji supertipis

Yuwen, jenis terbaru yang
berdaging manis, halus, dan
biji supertipis

Nun di Cirebon, Jawa Barat, seorang pekebun, juga sukses meremajakan mangga tua. Ia membeli kebun gedong gincu berumur 70 tahun dan memprediksi produktivitas sebesar 100 kg per pohon. Menurut ahli mangga di Majalengka, Jawa Barat, Hikmat Sumantri SP, umur produksi optimal mangga 20—40 tahun dengan jumlah 200—500 kg buah per tahun. Setelah itu produksi turun hanya 100 kg per pohon. Nyatanya gedong gincu di kebun itu hanya menghasilkan 15 kg per pohon.

Maklum sebelumnya tanaman dibiarkan tanpa pemupukan dan pemangkasan. Padahal kedua hal itu kunci mangga berproduksi tinggi. Pekebun lalu memangkas dan memberi pupuk kompos dan pupuk organik cair, produktivitas mangga melonjak menjadi 100 kg per tanaman (lihat Dongkrak Produksi 20 Kali Lipat, Trubus edisi April 2011). Pekebun di  Yu Ching melakukan hal sama. Dua bulan setelah semua mangga dipanen petani memangkas semua cabang yang menghasilkan buah. Dari bekas pangkasan itulah nantinya muncul tunas baru yang membawa bunga.

Pekebun di Yu Ching memberi nutrisi berupa pupuk cair melalui pipa-pipa setinggi 3 meter yang menyemburkan cairan nutrisi halus. Menurut ahli pupuk di Jakarta, Yos Sutiyoso, daun mudah menyerap pupuk dalam bentuk butiran halus. Yos memperkirakan ukuran butiran halus itu hingga 50 mikron. Dengan ukuran butiran itu, tanaman mampu menyerap 50% pupuk dalam 30 menit. Namun, di tempat berangin kencang semakin halus butiran air maka cepat terbawa angin sehingga tidak mengenai sasaran. Itulah sebabnya, petani melakukannya ketika angin mereda. Teknologi itu bisa diterapkan di tanah datar dan lembah yang dikelilingi bukit atau gunung. Hasilnya mangga melimpah di kebun mangga di Yu Ching.

Bungkus khusus 

Lihatlah buah-buah irwin berwarna merah keunguan itu bagai memberati tanaman. Buah bak berebut menyembul keluar dari tajuk bahkan bergelayut hingga nyaris menyentuh tanah. Pekebun mempertahankan hanya satu buah di setiap dompol. Mereka merompes buah lain saat ukuran masih kecil. Akibatnya buah bongsor berbobot 400 gram per buah karena cukup nutrisi. Seleksi buah juga untuk menghindari buah bersinggungan yang menyebabkan benturan dan meninggalkan bekas. Sebab syarat mangga ekspor—Taiwan mengirim irwin ke Jepang, Eropa, dan Cina—harus mulus.

Pekebun membungkus buah sejak seukuran bola bekel. Tujuannya melindungi mangga dari serangan lalat buah. Mereka menggunakan 2 warna kertas bungkus: putih dan cokelat. Perbedaan itu ada tujuannya: menghasilkan buah berpenampilan berbeda, sesuai dengan keinginan pasar. Buah yang dibungkus kertas putih menghasilkan warna kulit merah nan mencolok. Sementara pembungkus cokelat menghasilkan buah berwarna kuning.

Sebagian besar buah dibungkus kertas putih sehingga menghasilkan hamparan kebun mangga bak diselimuti salju. Peneliti di International Cooperation and Development Fund (ICDF) atau Misi Teknik Taiwan di Indonesia, Huang Chin Hsian, menuturkan pembungkus berwarna putih masih tembus sinar matahari sehingga menghasilkan mangga berkulit merah. Biasanya dipakai untuk irwin, pembungkus cokelat untuk varietas golden queen. Kertas pembungkus biasanya terdiri atas 2 lapis: plastik di bagian dalam dan kertas putih atau cokelat di bagian luar.

Menurut ahli Fisiologi Tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MS, keadaan pigmen dan cairan dalam buah yang dikombinasikan dengan pH dan radiasi sinar tertentu akan mengarahkan buah pada warna tertentu. “Biasanya pH basa akan mengarah pada warna biru dan asam ke merah,” tutur Edhi. Selain warna kulit, tekstur, rasa, dan warna daging buah pun bisa berubah. Biasanya semakin banyak penyinaran maka seratnya pun semakin sedikit.

Menurut Chang kebun mangga seluas 8.000 ha di Yu Ching dimiliki oleh 4.700 pekebun. Itulah sentra mangga terluas di Taiwan. Sebanyak 80—90% berupa mangga irwin. “Petani memilih jenis irwin karena kualitas dan kontinuitasnya dapat dijaga sehingga lebih menguntungkan,” kata Chang. Berjarak 2—3 jam perjalanan dengan bus dari situ, tepatnya di Pingtung, Trubus menyambangi kebun mangga summer snow seluas 10 ha. Kebun mangga juga ditemukan di Kaohsiung. Kota di selatan Taiwan itu sentra hortikultura Negeri Formosa.

Introduksi

Huang Chin Hsian menuturkan mangga menempati posisi ketiga komoditas buah yang paling banyak diproduksi di Taiwan. Posisi pertama pisang, kedua nanas. Sentra mangga tersebar di bagian selatan Taiwan seperti Tainan, Pingtung, dan Kaohsiung. Di sana kondisi iklim tropis dengan pancaran sinar matahari kuat cocok untuk pertumbuhan pohon anggota famili Anacardiaceae.

Deputi Direktur Kaohsiung District Agricultural Research and Extention Station (KDAIS), Kementerian Pertanian Taiwan, Carlos CL Tsai PhD, menuturkan Kaohsiung beriklim tropis sehingga cocok bagi pertumbuhan mangga. KDAIS banyak melakukan penelitian tentang tanaman buah kerabat kueni itu di sana. Selain mangga KDAIS juga meriset nanas, leci, jeruk, dan bunga potong.

Jenis mangga lain yang juga dikembangkan keitt, haden, sensation, chiing wang, dan yuwen. Dua pertama berbarengan dengan irwin diintroduksi dari Amerika Serikat ke Taiwan pada periode 1950—1970. Menurut Huang pada masa sebelum 1954 masyarakat mengenal mangga “lokal” berukuran 1,5 kali telur itik, daging buah berserat, dan bercitarasa manis. Harap mafhum tanaman kerabat jambu mete itu memang bukan asli Negeri Formosa. Mangga pertama di sana didatangkan oleh Belanda pada 1500-an. Namun, citarasa irwin yang paling diterima penduduk Taiwan.

Dari mangga-mangga intoduksi itu kemudian para periset melahirkan mangga baru. Misal golden queen yang lahir pada 1981, chiing wang dari Feng Shang Branch Institute pada 1984. Yuwen merupakan salah satu jenis terbaru. Mangga hasil persilangan antara golden queen dengan irwin itu menyita perhatian penggemar di tanahair karena istimewa: warna kulit merah menarik, daging buah lembut dan manis, biji sangat tipis. Bentuk buah besar menitis dari golden queen, warna merah kulit dari irwin. Di pasar modern di tanahair buahnya dibanderol Rp110.00 per 2 kg.

Hamparan irwin di tanah berbukit di Tainan ditanam dengan jarak rapat 3 m x 4 m. Menurut Tatag Hadi, pelaku agribisnis di Jawa Timur, kebun mangga itu menerapkan sistem penanaman rapat alias high density planting. Di tanahair pekebun membudidayakan mangga berjarak tanam 10 m x 10 m, minimal 8 m x 8 m. Sobir mengatakan keuntungan jarak tanam rapat adalah memudahkan saat pemanenan dan pemangkasan, tetapi kekurangannya adalah biaya perawatan tinggi dan rentan serangan penyakit.

Menurut Sukartini di dalam negeri cara itu kurang cocok karena investasi mahal. Kartini menuturkan di sentra manga di Situbondo, Jawa Timur, pernah ada kebun yang menggunakan jarak tanam rapat sekitar 4 m x 4 m. “Tetapi sekarang dijarangkan menjadi 8 m x 8 m,” tutur Kartini. Salah satu sebabnya karena pemilik kerepotan dengan biaya perawatan yang superintensif seperti pemangkasan dan pemupukan yang lebih tinggi dibanding jarak lebar.

Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), Panca Jarot Santoso, mengatakan sistem jarak tanam rapat pada mangga bisa diterapkan, tetapi untuk skala perkebunan yang luas sehingga biaya perawatan yang mahal bisa ditutupi dengan produksi. Itulah yang terjadi di kebun mangga di Tainan County. (Evy Syariefa/Peliput: Andari Titisari, Bondan Setyawan, Pressi Hapsari Fadlilah, & Riefza Vebriansyah)

 

FOTO:

 

  1. Kebun mangga irwin 8.000 ha milik 4.700 pekebun
  2. Rata-rata mangga irwin berumur 30 tahun tapi tanaman pendek dan sarat buah, produksinya 60—100 kg per pohon
  3. Kedai penjual aneka olahan mangga, salah satu cara pekebun Taiwan tingkatkan nilai tambah produk
  4. Pekebun menyetor mangga ke koperasi yang menyortir dan mengepak mangga untuk pasar ekspor
  5. Kertas pembungkus atasi lalat buah dan hasilkan warna menarik
  6. Huang Chin Hsian
  7. Irwin diintroduksi dari Amerika Serikat pada 1950-an dan kini jadi komoditas ekspor andalan
  8. Carlos CL Tsai PhD
  9. C S Chang
  10. Pemupukan melalui sprinkel sehingga pupuk lebih efektif diserap tanaman
  11. Yuwen, jenis terbaru yang berdaging manis, halus, dan biji supertipis
 

Powered by WishList Member - Membership Software