Sosok Kecil Prestasi Besar

Filed in Tanaman hias by on 02/07/2013
S. ‘blue leaf’ variegata, juara kelas variegata madya flatleaf

S. ‘blue leaf’ variegata, juara kelas variegata
madya flatleaf

Baru lima bulan menjadi klangenan, empat juara dalam genggaman.

Sosoknya mungil, tetapi prestasinya besar. Itulah Sansevieria pinguicula variegata milik Hanny Faroko asal Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Empat kali mengikuti kontes, dua di antaranya meraih jawara di kelas mini. Sisanya juara kedua. Takhta jawara teranyar berhasil ia raih pada kontes nasional sansevieria di Ecopark Ancol, Jakarta Utara. Tanaman yang baru berumur setahun itu menjadi yang terbaik setelah mengumpulkan nilai tertinggi yakni 225 poin.

Prestasi gemilang itu berkat ketelatenan Hanny merawat klangenannya yang baru ia peroleh 5 bulan lalu dari seorang kolektor lidah mertua di Jakarta. “Setiap dua pekan, saya memberikan ramuan khusus agar tanaman tumbuh sehat,” katanya. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi, Hanny rajin menyemprot tanaman dengan larutan pupuk hayati setiap hari. Sayang, ia enggan menyebutkan dosis ramuan khusus untuk klangenannya itu.

Corak nyata

Hanny Faroko meletakkan pinguicula variegata di tempat yang sinar mataharinya tidak terlalu terik. Maklum, jumlah klorofil pada tanaman variegata sedikit sehingga rentan mati bila terpapar sinar matahari berintensitas tinggi. “Paparan sinar matahari maksimal 70%,” kata pria berkacamata itu. Oleh karena itu, ia meletakkan pinguicula di tempat teduh, tapi tidak terlalu lembap. Perlakuan sama juga ia terapkan pada koleksi lidah mertua variegata yang lain seperti sansevieria ‘blue leaf’ variegata.

Berkat perlakuan itu sansevieria berdaun pipih mutasi itu juga sukses meraih gelar juara di kelas variegata madya flat leaf saat kontes nasional pada 8—9 Juni 2013 itu. Menurut juri kontes, Rusmadi, pinguicula dan blue leaf milik Hanny layak jadi juara sebab memiliki corak variegata striata (berselang-seling antara warna hijau dan kuning, red) yang nyata. Batas antara warna hijau dan kuning jelas. Kecerahan kedua warna itu pun sempurna, tidak pudar.

Mengenai performa, baik pinguicula maupun blue leaf tampil sangat prima. Buktinya setiap helai daun bebas cacat atau rusak. Tampilan kedua tanaman itu semakin menarik dalam balutan pot ramping segiempat yang proporsional. “Pemilihan pot pas sekali, tidak kedodoran atau kesempitan,” kata Rusmadi. Prestasi itu memang patut diacungi jempol. Pasalnya, menurut Rusmadi, semua tanaman yang turun kontes memiliki kualitas di atas rata-rata.

Selama proses penilaian berlangsung, juri sulit menentukan juara. “Kami harus memilih yang terbaik dari yang terbaik,” kata Rusmadi. Sengitnya kompetisi terlihat dari selisih nilai yang diperoleh para juara hanya terpaut 2—3 poin. Persaingan paling sengit terjadi di kelas variegata. Kelas tanaman belang juga lebih bergengsi karena yang menjadi peserta adalah tanaman-tanaman langka. Aspek yang dinilai pun lebih luas.

Ketua panitia, Dedi Wiji, menuturkan kontes kali ini  diikuti oleh 124 peserta dari beberapa kota di tanahair seperti Bandung, Provinsi Jawa Barat, Surabaya (Jawa Timur), Wonosobo (Provinsi Jawa Tengah), dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan). “Jumlah peserta memang lebih sedikit dibanding tahun lalu, tapi kualitas tanaman lebih baik,” kata Dedi.

Sukulen

Ajang yang tak kalah seru juga digelar oleh Cactus and Succulent Society of Indonesia (CSSI). Komunitas itu menggelar kontes tanaman kaktus dan sukulen di salah satu jejaring sosial. “Para juri cukup menilai dari foto yang diunggah para pemilik kontestan di akun CSSI,” kata anggota juri, Adrianto Faris. Meski berlangsung di dunia maya, panitia menerapkan peraturan ketat. Sebelum mengunggah foto, pemilik harus memastikan kebenaran nama spesies tanaman sesuai binomial nomenklatur atau sistem penamaan ilmiah.

“Bila nama spesies tanaman salah, maka tanaman tidak akan dinilai,” kata Adrianto. Periode mengunggah foto sejak 6 April—5 Mei 2013. Sementara pengumuman pemenang pada 18 Mei 2013. Pada kontes itu juri memilih juara pertama hingga ketiga. Sementara seluruh anggota grup memilih juara favorit dengan cara mengklik kata “like” di bawah foto. Semua jenis tanaman kaktus dan sukulen dapat ikut serta dalam kontes. Peserta yang terpilih menjadi juara wajib mengunggah kembali foto terkini tanaman.

Adrianto menuturkan penilaian tanaman meliputi tata letak, komposisi, kombinasi, kelangkaan, dan teknik pengambilan gambar. Keserasian tanaman dengan pot juga menjadi penilaian penting. Pemilik peserta wajib memotret sosok tanaman secara menyeluruh, bukan bagian-bagian tertentu. “Tanaman tanpa daun tidak masalah asal foto tampak utuh,” kata Adrianto.  Para juri yang terdiri atas Adrianto Faris asal Malang, Jawa Timur, Andy Chandra (Sidoarjo), Hendick Purwanto (Bojonegoro), Didi Turmudi (Jakarta), dan Keith Kitoi Taylor (Amerika Serikat), akhirnya menabalkan  Euphorbia francoisii milik Hendra Suchay asal Malang, Jawa Timur, sebagai juara pertama.

“Meski jenis itu banyak dibudidayakan di tanahair dan harganya terjangkau, tapi pemilik jeli memperhatikan tata letak, kombinasi, fotografi, dan nilai estetika tanaman,” kata Adrianto. Sosoknya yang vigor dan kehadiran daun beserta bunga membuatnya tampak menawan. “Awalnya saya pesimis koleksi saya bisa menang sebab beberapa rekan menurunkan tanaman yang lebih bagus dan mahal,” kata alumnus jurusan Akuntansi, Universitas Widyagama, Malang, itu.

Agar tampil sempurna, pria berusia 40 tahun itu beberapa kali membongkar akar tanaman dari media tanam agar akar menggembung membentuk bonggol dan merangsang pertumbuhan batang. Setelah terbentuk bonggol dan batang, Hendra lantas menancapkannya di atas batu karang. “Saya memilih batu karang berongga sehingga dapat tertanam di dalam media,” katanya. Untuk memberikan kesan mewah, ia memadupadankan tanaman dengan pot persegi panjang. Agar media tanam tidak terekspos, ia menutup permukaan media tanam dengan pasir kucing.

Menurut, anggota panitia kontes, Eko Wahyudi, kontes di dunia maya itu pertama kalinya digelar di tanahair. Meski baru kontes perdana, tapi antusiasme pemilik peserta sangat menggembirakan. Sebanyak 220 tanaman beradu cantik di ajang kontes.  “Selain adu cantik, kontes ini juga bertujuan untuk memperkenalkan bahwa kaktus dan sukulen dapat dibentuk dan ditata seperti bonsai,” kata Wahyudi. (Andari Titisari/Peliput: Lutfi Kurniawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software