Sorgum Panen Ganda, Biji dan Gula

Filed in Majalah, Perkebunan by on 18/10/2020

Sorgum varietas bioguma agritan hasil mutasi varietas numbu.

 

Sorgum serbaguna yang menghasilkan nira hingga 15,54o briks, biji, dan daun tetap hijau saat panen sebagai pakan ternak. Varietas baru itu juga tahan rebah dan penyakit.

Kandungan gula pada nira bioguma mencapai 15,54o briks.(foto:Endang Gati Lestari)

Lili Sutarli Suradilaga menanam sorgum manis di lahan 6 hektare pada April 2020. Populasi dapat mencapai 150.000 tanaman per hektare. Petani sorgum di Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, itu mengolah batang sorgum menjadi nira. Ia mendapatkan 10 kg nira dari 35 batang sorgum. Petani berumur 56 tahun itu mengolahnya menjadi 1 kg gula cair. Rendemen pengolahan 10 %.

Total produksi nira mencapai 4.285 kg per hektare setara 420 kg gula cair. Itulah sorgum baru bernama bioguma agritan hasil pemuliaan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian (BB Biogen). Bioguma singkatan dari BB Biogen sorgum manis. Nira asal pemerasan batang mengandung gula mencapai 15,54o briks. Bandingkan dengan nira tebu yang nilainya 18o briks.

Tujuh kali panen

Lili bertekad menanam bioguma sebagai bahan gula cair. “Ternyata batang bioguma derajat kemanisannya tinggi, berbeda dengan varietas numbu,” kata Lili. Numbu merupakan sorgum pangan meski berbatang manis. Pemulia bioguma adalah Prof. Dr. Endang Gati Lestari, M.Si. Periset di BB Biogen membidani kelahiran sorgum manis bioguma 1, bioguma 2 agritan, dan bioguma 3 agritan.

Menurut Endang masing-masing varietas itu memiliki keunggulan, baik dari produktivitas biji, kandungan gula, maupun biomassa. Doktor Biologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu mulai meneliti bioguma pada 2014 bersama peneliti lain yakni Dr. Iswati Saraswati Dewi, Dr. Rossa Yunita, Dr. Amin Nur, Muhammad Azrai, dan Dr. Karlina Syahruddin.

Penelitian meliputi 3 tahap yakni mutasi, seleksi, dan uji multilokasi. Tim periset memanfaatkan varietas numbu dengan radiasi sinar gamma. Targetnya sorgum unggul baru dengan batang besar, kandungan gula tinggi, dan produksi biji tinggi. Bioguma menjadi sorgum serbaguna yang mampu menghasilkan nira dari batang sekaligus biji yang tinggi.Itulah sebabnya ia disebut dwifungsi.

Petani dapat memperoleh rata-rata hasil 6,98—7,11 ton biji sorgum per hektare.

Produksi bioguma mencapai 6,98—7,11 ton biji per hektare. Bila di lahan subur dengan perawatan intensif, potensi hasil bisa mencapai 9,33 ton per hektare. Bahkan, petani dapat melakukan budidaya ratun—setelah pemangkasan tumbuh tanaman dari batang sisa panen. Petani akan memanen ulang tanpa penanaman kembali. Frekuensi panen hingga empat kali.

Menurut Endang panen bioguma dengan ratun, bahkan tujuh kali di lahan subur. Caranya pangkas batang hingga tersisa 5—10 cm dari permukaan tanah setelah panen perdana. Lalu pupuk sesuai dosis awal. Sosok bioguma jangkung dengan tinggi dapat mencapai mencapai 266 cm. Meski demikian, bioguma tergolong tahan rebah lantaran diameter batang cukup lebar.

Periset di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian (BB Biogen), Prof. Dr. Endang Gati Lestari, M.Si.

Tahan penyakit

Menurut Endang sorgum tumbuh di lahan suboptimal yang kering. Tanpa perawatan intensif pun petani masih dapat menuai hasil. Biji bioguma bercita rasa pera jika diolah menjadi nasi. Tak hanya sebagai sumber pangan, biji sorgum juga kaya nutrisi. Bioguma mengandung protein 9,12—9,36%, lemak 3,81—4,09%, karbohidrat 61,40—69,40%, dan tanin 0,10—0,14%. Kandungan gizi itu dapat menjadi asupan bagi anak-anak yang menderita stunting atau gizi buruk.

Endang mengatakan, “Kelebihan bioguma pada saat masak fisiologis (105 hari) daunnya masih hijau sehingga berpotensi sebagai pakan ternak. Menurut Endang saat masak fisiologis volume nira dan kandungan gula dalam kondisi optimum. Berbeda dengan varietas numbu, daun sudah menguning pada umur yang sama. Lili pernah menyarankan salah satu petani mitra untuk menebang sorgum sepekan menjelang panen.

“Masalahnya waktu itu hujan terus-menerus sepekan sebelum panen. Jadi, saya sarankan tebang,” kata Lili. Ia khawatir saat hujan nterus-menerus biji di malai berkecambah. Selain itu, ketiga varietas baru itu tahan penyakit busuk batang, karat daun, bercak daun, dan antraknosa. Pantas Lili yang menjabat ketua Sejati Petani Sorgum Indonesia (Sepasi) itu gencar menggalakkan budidaya sorgum dengan metode yang tepat di kalangan petani Tasikmalaya. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software