Solomon Menggapai Langit

Filed in Tak Berkategori by on 01/10/2012 0 Comments

Sebanyak 500 pohon jati di kebun Yaya Sutarya itu mencapai tinggi 6-8 m dan diameter 8-10 cm. Lazimnya belum genap separuhnya.

 

Yaya Sutarya menanam jati Tectona grandis secara monokultur pada Oktober 2011. Pekebun di Desa Sindangrasa, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, itu menanamnya di tanah 2.800 m2. Sebelumnya, tanah itu ditumbuhi 200 pohon mahoni yang ditebang pada Desember 2011. Pensiunan Perusahaan Air Minum Kabupaten Ciamis itu memilih menanam jati solomon yang pertumbuhannya amat cepat.

Maman Budiman juga tergiur peluang emas jati. Semula, kepala Bagian Tata Usaha SMA Negeri 2 Kabupaten Ciamis itu hanya coba-coba menanam 20 bibit jati pada April 2011. Pertumbuhan pesat jati membuat pria 55 tahun itu menanam kembali 1.500 bibit di lahan 7.000 m2 berselang 4 bulan. Kini, jati di lahannya tumbuh setinggi 4 m dengan diameter 10 cm atau sebesar botol air mineral ukuran seliter.

Daun lebar

Bukan hanya Yaya dan Maman yang kepincut jati solomon. Wawan Setiawan, anggota Kepolisian Resor Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat, juga menanam pohon anggota famili Verbenaceae itu. “Hitung-hitung untuk menabung,” kata lulusan Sekolah Polisi Negara Cisarua itu. Wawan menanam 1.000 bibit jati solomon di Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, pada 6 bulan lalu. Kini tinggi pohon di lahan 1 ha mencapai 6 m berdiameter 7 cm atau sebesar kaki orang dewasa.

Yaya, Maman, dan Wawan tidak menanam sembarang jati. Mereka memilih jati solomon, jenis jati asal Kepulauan Solomon, negara kepulauan di timur Papua Nugini. Ciri utama jati solomon adalah daun selebar 15-25 cm dengan panjang 25-30 cm saling silang dan mengerucut keatas. Lazimnya daun jati menjuntai ke bawah. Susunan daun seperti itu tahan terpaan angin. Musababnya angin yang menuju ke pohon akan terbelokkan ke samping. Sebaliknya, daun jati biasa cenderung “menampung” angin, menjadikan pohon agak melengkung.

Pertambahan tinggi jati solomon pada tahun pertama dan kedua mencapai 6-8 m dengan pertambahan diameter 8-10 cm per tahun. Mulai tahun ketiga, pertumbuhan melambat dengan pertambahan tinggi hanya 3 m, sedangkan pertambahan diameter hanya 4-6 cm per tahun. Pada tahun ke-10, tinggi jati solomon mencapai 15-20 m dengan garis tengah 30-35 cm.

Tentu saja, jati itu tidak akan tumbuh baik tanpa perawatan tepat. Sebelum menanam, Yaya membersihkan lahan dari sisa tanaman. Ia lantas membuat lubang tanam berukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm dengan jarak 2 m x 2 m antarlubang tanam. Selanjutnya Yaya memasukkan 15 kg pupuk kandang dan 50 gram NPK 15:15:15. Dua pekan kemudian, barulah ia memasukkan bibit setinggi 7-20 cm.

Setiap 4 bulan, Yaya menyiangi sekaligus mengulang pemberian 100 g pupuk NPK per pohon. Tahun kedua, Yaya meningkatkan dosis menjadi 200 g pupuk NPK. Untuk pupuk kandang, Yaya memberikan sekali dalam setahun dengan dosis 20 kg per tanaman. Kelak pada tahun ketiga, Yaya memberi perlakuan sama dengan tahun kedua. Perlakuan itu akan Yaya berikan sampai tanaman berumur tiga tahun.

Permintaan tinggi

Menurut Arthur Sitanggang, manajer pembibitan PT Dahana, perusahaan yang menanam jati solomon di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mulai tahun kedua, pekebun tidak perlu lagi menyiangi lahan. Pasalnya, tajuk tanaman sudah menaungi lahan. Idealnya jati solomon ditanam pada jarak tanam 3 m x 3 m atau 3,5 m x 3,5 m. Artinya, ada 900-1.100 batang pohon dalam sehektar lahan. Dengan jarak tanam itu, pekebun tidak perlu melakukan penjarangan.

Toh pekebun juga bisa menanam rapat dengan jarak 2 m x 2 m antartanaman seperti Yaya. Namun, pekebun mesti melakukan penjarangan populasi pada tahun ke-5 dari 2.500 tanaman menjadi 750 pohon per ha. Itu dengan asumsi tingkat kematian atau pencurian 500 pohon. Saat itu, tinggi pohon mencapai 5-7 m dengan diameter 20-24 cm. Pekebun akan memperoleh 0,25-0,3 m3 kayu per pohon.

Pada tahun ke-10, pekebun akan memperoleh kayu jati sebanyak 525 m3 dari 750 tanaman. Dengan harga Rp5.8-juta per m3, total jenderal omzet pekebun mencapai Rp3,045-miliar. Bayangan keuntungan berlimpah menjadikan banyak pekebun yang tergiur menanam jati solomon. Imbasnya, permintaan bibit mengalir deras. Menurut Ahmad Riyadi, MSi, kepala Laboratorium Mikropropagasi Tanaman, Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT (BP Biotek) Jakarta, pihaknya hanya mampu menghasilkan 10.000-20.000 bibit per bulan melalui teknologi ex vitro atau semacam setek dengan optimasi zat pengatur tumbuh dan mikroklimat.

Sepintas jumlah itu fantastis, tapi jauh di bawah permintaan yang mencapai 25.000-30.000 bibit per bulan. Nuryanto, pemilik Nurseri Baraya di Bogor, Jawa Barat, juga kebanjiran permintaan. Menurut Nuryanto, permintaan bibit meningkat tajam pada musim tanam selama Oktober-Februari, yang bertepatan dengan musim hujan. Padahal Nuryanto hanya sanggup menyediakan 5.000 bibit per bulan. Tampaknya, peminat mesti bersabar untuk menghadirkan jati solomon di lahan. (Roni Kartiman SP, Anggota Staf Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan Foto :

  1. Jati solomon mulai banyak dikebunkan di Ciamis, Jawa Barat
  2. Bibit jati solomon
  3. Jati solomon umur 6 bulan di kebun Yaya Sutarya, Ciamis
  4. Ahmad Riyadi, MSi, kepala Laboratorium Mikropropagasi Tanaman, Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT (BP Biotek) Jakarta
 

Powered by WishList Member - Membership Software