Soe Berkibar Lagi

Filed in Buah by on 31/12/2010 0 Comments

 

Itulah kisah manis di balik berita menurunnya populasi soe sejak 10 tahun belakangan. Pada 2000 total panen soe di sentra utama di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, masih mencapai 19.142 ton dengan produktivitas 19,6 ton per ha. Delapan tahun berselang produksi terjun bebas hanya 2.000 ton dengan produktivitas 4,5 ton/ha. ‘Populasi tanaman menurun drastis sehingga soe diramalkan bakal punah,’ kata Kefi.

Padahal, 2 tahun sebelum memasuki 2000, keprok soe malah melenggang ke pentas nasional sebagai salah satu jeruk unggul di tanahair. Sosoknya yang bulat dengan kulit jingga mengkilap benar-benar mirip jeruk pon kam dan lo kam yang diimpor dari Tiongkok. Citarasanya pun manis dengan sedikit asam. Tingkat kemanisannya 12 – 14o brix. Bobotnya jumbo mencapai 200 g per buah.

Harga naik

‘Di saat perhatian masyarakat terarah pada soe, serangan penyakit malah datang. Akibatnya pasokan buah sedikit sehingga harga jual terkerek naik,’ kata Kefi. Dua tahun terakhir, soe kualitas grade A, sekilo isi 5, dijual Rp25.000/kg. Grade B, sekilo isi 6, Rp20.000 dan grade C, sekilo isi 8, harganya Rp15.000. Di bawah itu dijual Rp5.000/kg. Sebelumnya paling mahal Rp15.000/kg.

Kini dari 100 tanaman Kefi masih memanen 5 – 6 ton per musim. Sebanyak 40% hasil panen tergolong grade A yang dijual Rp25.000 per kg. Sisanya dijual curah Rp5.000 per kg. Minimal Kefi masih memperoleh Rp65-juta dari soe. ‘Andai saja 200 tanaman yang saya tanam pada 1980 tidak mati setengahnya, tentu pendapatan saya bisa lebih besar,’ kata warga Desa Ajaubaki, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timur Tengah Selatan itu.

Menurut Bambang Murdolelono, peneliti Balai Pengembangan Teknologi Pertanian Kupang, NTT penyakit diplodia karena cendawan Botryodiplodia theobromae membuat tanaman kering dan meranggas. Sedangkan Phytophthora spp menyebabkan busuk batang. Tingkat kerusakan serangan kedua penyakit itu sangat parah, mencapai 75%. Artinya nyaris seluruh tanaman di Timor Tengah Selatan takluk oleh 2 penyakit yang kerap datang berbarengan.

Toh, Kefi tak menyerah. ‘Ini malah peluang untuk menanam jeruk sehat agar bisa untung,’ katanya. Bermodal tekad kuat itulah Kefi lantas menanam 900 pohon pada 2007. Kefi menanam bibit asal biji dan okulasi. Bila semua tanaman tumbuh sehat diperkirakan bibit dari biji mulai berbuah umur 7 tahun, sedang okulasi 4 – 5 tahun. Itu artinya sekitar 2 tahun lagi kebun Kefi akan menguning oleh buah jeruk.

Meluas

Perjuangan Kefi sebetulnya tak sendiri, langkahnya juga diikuti oleh pekebun-pekebun lain. Enos Lasveto misalnya. Ia meregenerasi 50 pohon jeruk yang telah berumur 45 tahun dengan menanam 260 pohon baru pada 2007. ‘Jeruk telah menjadi sumber pendapatan kami sejak lama. Sehingga keberadaannya harus tetap dipelihara,’ kata Enos.

Immanuel Baun, ketua Kelompok Tani Tunbes Desa Ajaubaki, menyebutkan saat ini di desanya terdapat 2 kelompok tani yang juga mengembangkan jeruk soe. ‘Setiap kelompok beranggotakan 25 orang. Masing-masing anggota memiliki lahan 0,5 – 1 ha yang ditanami jeruk soe,’ kata Imanuel. Pada September 2010 kelompoknya memanen 11 ton soe. Dari panen itu Immanuel mendapatkan 5 ton grade A, 5 ton grade B, dan 1 ton grade C.

Menurut Ir Max WPI Liokoy MSi, dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kabupaten Timur Tengah Selatan, pemerintah sangat mendukung gerakan penyelamatan jeruk soe yang dilakukan para pekebun. Itu diwujudkan dalam bentuk penyediaan bibit berkualitas dan penyuluhan pengendalian hama penyakit. ‘Saat ini pekebun sudah mengerti cara menanggulangi serangan diplodia. Yaitu dengan melumuri batang dengan bubur kalifornia menjelang musim hujan sehingga penyebab blendok itu dapat dihindari,’ ujar Max.

Penyediaan bibit pun terkontrol dengan dibangunnya 2 Balai Benih Induk (BBI) di Nonbes, Kabupaten Kupang dan Oelbubuk, Kabupaten Timur Tengah Selatan. ‘BBI memprakarsai pembuatan bibit jeruk soe yang berkualitas,’ kata Yehuda AN Tunliu SP, peneliti jeruk soe di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kabupaten Timur Tengah Selatan. Selama ini pekebun sering menanam bibit yang tidak terseleksi. ‘Sebelum 2005 kebanyakan bibit yang di tanam berasal dari buah yang jatuh di sekitar pohon sehingga produksinya rendah. Sejak ada bibit hasil okulasi dari BBI, hasil panen meningkat dan lebih cepat,’ kata Enos.

Sentra baru juga bermunculan seperti di Desa Oof, Kecamatan Kuatnana yang mengembangkan 240 ha lahan jeruk soe. Bahkan sejak lima tahun terakhir penanam soe juga meluas sampai ke Kabupaten Manggarai. Sebelumnya pengembangan anggota famili Rutaceae itu hanya terpusat di Kecamatan Mollo Utara dan Tobu.

Kiprah Kefi dan pekebun lain yang tetap mengembangkan jeruk soe patut diacungi jempol. Usaha mereka membuat nama soe tetap berkibar sebagai salah satu jeruk unggul nasional. (Ari Chaidir/Peliput: Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software