Sisa Dapur Pakan Ikan

Filed in Majalah, Topik by on 03/06/2020

Kolam akuaponik di SMA Negeri 109 Jakarta hanya seluas 2 m2 cocok diterapkan di pekarangan.

 

Sisa sayuran rumah tangga potensial sebagai pakan tambahan ikan.

Nurul ‘Aini Fitri Yanti, M.Pd, kerap mamasukkan pangkasan sayuran di kolam lele berukuran 2 m2. Penanggung jawab Tim Tani Mas atau Pertanian Masuk Sekolah SMA Negeri 109 Jakarta itu memanfaatkan limbah untuk pakan ikan. Hasilnya aroma lele tidak anyir dan bercita rasa gurih. Kepala Sekolah SMA Negeri 109 Jakarta, Dra. Rusmala Nainggolan, M.Pd., memanen 163 lele pada akhir Ferbuari 2020.

Total bobot lele 12 kilogram. Bobot lele rata-rata 74 gram per ekor atau terdiri dari 13—14 ekor per kilogram. Padat tebar benih 500 ekor. Menerapkan budidaya akuaponik pada kolam mini di pekarangan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan warga. Apalagi upaya pemenuhan pangan pada masa penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sebagai upaya menanggulangi dampak penyebaran Covid-19 atau virus korona.

Fermentasi pakan

Peneliti di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Ujung Batte, Kota Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam, Ibnu Sahidhir, M.Sc.

Menurut peneliti di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Ujung Batte, Kota Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam, Ibnu Sahidhir, M.Sc., limbah organik rumah tangga pun potensial sebagai pakan ikan. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk budidaya ikan di pekarangan. Kelebihan menggunakan limbah organik rumah tangga dapat mendaur ulang protein nabati menjadi protein hewani.

Namun, kandungan limbah organik rendah energi, protein, dan lemak. Sementara kandungan karbohidrat dan serat tinggi, sehingga mudah merusak kualitas air. Menurut Ibnu agar pertumbuhan ikan efektif limbah organik rumah tangga hanya sebagai pakan tambahan. “Secara jumlah juga tidak cukup untuk produksi ikan tujuan komersial,” kata Magister Akuakultur alumnus National Taiwan Ocean University, Keelung, Taiwan, itu.

Peternak dapat memberikan limbah organik seperti sayuran dalam jumlah banyak untuk ikan herbivora seperti nila Oreochromis niloticus. Kandungan air pada limbah organik sayuran relatif tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan limbah lebih banyak untuk menggantikan total kebutuhan pakan sebenarnya untuk menghasilkan energi yang sama. Peternak rumahan membutuhkan limbah 200% dari kebutuhan pakan sebenarnya.

Itu karena kadar kering sayuran 10% untuk menggantikan jumlah pakan 20%. Jika kebutuhan pakan 1 kg, pemberian pakan sayuran 2 kg dan pelet 0,8 kg. Menurut Ibnu pemberian pakan alternatif 20% pakan tidak terlalu signifikan menurunkan efektivitas pakan pelet standar. Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Aisya Maulyna Santoso dan Abdul Manan, mengolah sayuran yang tak layak sortir menjadi pakan ikan nila.

Limbah atau sisa pangkasan sayuran potensial sebagai pakan tambahan ikan.

Limbah sayuran itu antara lain potongan terung, kubis, buncis, sawi, dan kacang panjang—masyarakat menyebutnya sisa dapur. Peternak mencacah limbah sayuran itu, membuat bahan tambahan, mencampur, mengemas, fermentasi, dan menyimpan. Bahan tambahan berupa air, probiotik, dan tetes tebu atau molase dengan perbandingan 1:1/4:1/2. Lama fermentasi 3 hari dan masa pakai pakan hanya 1 pekan setelah fermentasi.

Azolla pinata bisa menjadi alternatif pakan ikan.

Hemat pakan 20%

Hasil penelitian menunjukkan, protein kasar limbah sayuran masih rendah hanya 1,4%. Sementara, nila menghendaki protein 30%. Itulah sebabnya, penggunaan pakan itu tidak bisa sepenuhnya menggantikan pelet. Namun, penggunaan sebagai pakan tambahan masih memungkinkan. Rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio, FCR) ikan nila 2. Artinya peternak memerlukan 2 kg pakan untuk memperoleh 1 kg daging.

Dua kilogram pakan itu berupa campuran antara pelet dan limbah sayur. Dosis pemberian pakan 10% limbah sayuran dari bobot ikan dan 5% pelet. Idealnya pemberian pelet 2 jam setelah pemberian pakan limbah. Agar ketercernaan pakan lebih efektif. Pakan tambahan alternatif lainnya azola Azolla pinata. Peternak nila di Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Baban Subandi menghemat biaya pakan hingga 20% karena memanfaakan azola.

Dalam satu siklus budidaya selama 3 bulan, Baban memerlukan 3 ton pakan untuk populasi tebar 2.000—2.500 ekor. Sejak 2018 sebanyak 20% atau 600 kg pakan digantikan azola. Pertumbuhan ikan pun optimal, nilai FCR mencapai 1,4. Artinya 1,4 kg pakan menghasilkan 1 kg daging. Tanpa azola nilai FCR lebih tinggi 1,5—1,6. Peternak dapat mengembangkan azola karena pertumbuhannya relatif mudah. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software