Sirsak Stop Kanker Otak

Filed in Obat tradisional by on 02/04/2013 0 Comments

Senyawa acetogenins di daun sirsak bersifat antikankerDokter memperkirakan umur Mavin Nathaniel tersisa 6 bulan. Namun, hingga kini setelah 9 tahun Mavin masih bugar.

Martha masih ingat persis ketika dokter spesialis onkologi di sebuah rumahsakit di Singapura pada 2004 menyebutkan umur anaknya, Mavin Nathaniel, hanya tersisa 6 bulan. “Sedih mendengarnya seperti nyawa saya sendiri yang akan diambil,” kenang ibu 3 anak itu. Mavin yang saat itu berumur 8 tahun baru saja menjalani biopsi ulang terhadap tumor otak yang dideritanya.

Biopsi di negeri Singa itu merupakan pilihan Martha setelah operasi pengangkatan tumor otak di sebuah rumahsakit di Jakarta pada 2000 hasilnya kurang menggembirakan. Sesudah operasi Mavin mesti memakai selang untuk mengeluarkan cairan berlebihan di otak. Hal itu terus berlangsung hingga Mavin menjalani biopsi di Singapura. “Kasihan melihat Mavin dengan kondisi seperti itu apalagi dia masih kelas 3 sekolah dasar,” ujar Martha.

Sulit fokus

Tumor otak itu datang dengan beragam gejala. Mavin sering kesulitan melihat dan membaca tulisan di papan tulis sekolah. Mavin juga mengeluh pusing berkepanjangan yang disertai mual. Parahnya setiap kali naik tangga di sekolah atau di rumah, Mavin bisa tiba-tiba terjatuh tanpa sebab. Pemindaian dengan CT Scan memperlihatkan tumor yang menekan saraf mata Mavin. Menurut Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta mata penderita tumor otak memang akan kesulitan fokus.

Penderitaan Mavin bukan hanya  itu. “Ia jadi dikucilkan oleh teman-temannya juga pihak sekolah,” kata Martha. Mavin terpaksa berhenti sekolah dan meminta ibunya itu untuk mengajarinya belajar di rumah. “Saya bisa terus mendukung Mavin karena ada suami saya yang terus berupaya untuk kesembuhan Mavin,” ujar Martha. Sang suami berpulang pada 2010 justru di saat Mavin membutuhkan sosok ayah sebagai teman.

Seberapa besar sebetulnya persentase terjadinya tumor otak di anak-anak? Sejauh ini belum ada data. Namun  penelitian Adril Arsyad Hakim dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara di tiga rumahsakit, RSUP H Adam Malik, Rumahsakit Haji, dan Rumahsakit PTP-II Tembakau Deli di Medan, Sumatera Utara, selama 2000—2005 memperlihatkan 68,15% kasus tumor otak ditemukan pada pasien berumur 3 bulan sampai 50 tahun.

Terapi herbal

Martha mengatakan mendiang  suaminya mengupayakan pengobatan herbal kepada Mavin. Itu setelah sang buah hati mogok menjalani kemoterapi yang sudah mencapai 20 kali. “Mavin ketakutan melihat alat-alat kemoterapi di rumahsakit,” ujar Martha. Menurut dr Andhika Rachman SpPD, ahli kanker dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, keberhasilan kemoterapi konvensional untuk mengatasi kanker otak memang kecil. Pascakemoterapi biasanya pasien mengalami gejala mirip pasien stroke. Intensitas gejala itu berbanding lurus dengan massa kanker. “Makin besar massa kanker, makin besar pula gejalanya,” kata Andhika Rahman.

Ayah Mavin lantas mencari jalan pengobatan lain, yakni terapi herbal setelah berkonsultasi dengan dr Paulus W Halim, Med Chir, herbalis di Serpong, Kota Tangerang pada 2004. Dari Paulus, Martha mengetahui jenis tumor yang diderita Mavin adalah astrocytoma. Astrocytoma adalah jenis tumor otak yang  dapat menyebar luas ke seluruh bagian otak dan menyatu dengan jaringan otak normal, yang dapat membuat mereka sangat sulit untuk diangkat dengan operasi.

Sebagai tindakan pengobatan Paulus memberikan kapsul yang berisi ekstrak daun sirsak dan kulit manggis. Selain itu Paulus juga meresepkan 26 herbal lain dalam bentuk serbuk seperti kunyit putih, pegagan, meniran, kayu ules, tapak liman, daun dewa, daun sukun, dan temulawak yang memiliki khasiat berbeda.

Daun sukun, misalnya, berperan meningkatkan daya tahan tubuh Mavin. Mavin rutin mengonsumsi 2 kapsul 3 kali sehari. Adapula ramuan dalam bentuk serbuk, direbus dalam 3 gelas air hingga mendidih. Setelah itu Martha menyaring dan tersisa menjadi 1 gelas. Ia membagi ramuan itu menjadi 3 bagian untuk konsumsi pada pagi, siang, dan sore. Selain itu, Paulus melarang Mavin menerima telepon seluler dengan menempelkan di telinga. “Kalau menerima jaraknya sekitar 2 meter,” kata alumnus Universitas Degli Studi di Padova, Italia, itu.

Hal itu semata-mata untuk menghindari radiasi elektromagnetik yang memicu perkembangan tumor. “Dari saran itu Mavin tidak lagi memakai telepon seluler dan komputer,” kata Martha. Untuk mendukung proses penyembuhan, Mavin mengikuti terapi chikung. Tujuannya adalah untuk mendapatkan energi positif dari alam. Setelah menjalani pengobatan herbal itu Mavin mengalami banyak kemajuan.

Apoptosis

Setelah enam bulan rutin mengonsumsi ramuan herbal, perubahan signifikan terjadi. Saat itu Mavin mampu membaca kembali. Sebelumnya, ia tak bisa melihat deretan huruf. Perubahan lain ia mampu turun tangga sendirian setelah setahun konsumsi herbal. Padahal, biasanya ibunyalah yang memapah Mavin setiap kali naik atau turun tangga. “Sangat pesat, sekarang anak saya sudah bisa naik turun tangga sendiri tanpa dituntun,” ujar Martha saat ditanya mengenai perkembangan anaknya.

Saat ini ia tidak pernah mengeluh sakit kepala seperti sebelumnya, bobot badannya pun naik. Ramuan beragam herbal seperti daun sirsak membantu mengatasi tumor otak. Penelitian Rieser MJ, Fang XP, dan McLaughlin, peneliti di AgrEvo Research Center, Amerika Serikat, yang tertuang di “The Journal of Natural Product” pada 1996 mendukung klaim itu. Menurut McLaughlin kandungan acetogenins pada daun sirsak berkhasiat antikanker dengan memaksa sel kanker melakukan apoptosis atau membunuh dirinya sendiri.

Riset Joabe Gomes de Melo, yang dipublikasikan dalam jurnal “Molecellus” edisi 24 November 2010, uji sitotoksik terhadap sel kanker yang juga menunjukan bahwa ekstrak daun sirsak berpotensi sebagai antikanker. Dengan daun sirsak itu Mavin bisa mementahkan prediksi dokter tentang masa hidupnya. Kini 9 tahun berselang, Mavin tetap bugar. (Rizky Fadhilah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software