Singkong Unggul Baru

Filed in Uncategorised by on 01/06/2012 0 Comments

Singkong baru dengan potensi produksi 60,37 ton per ha.

Nama singkong baru itu OMM 9908-4 hasil pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang, Provinsi Jawa Timur. Potensi produksi calon varietas unggul itu 60,37 ton per ha.

 

Menurut pemulia di Balitkabi, Ir Sholihin MSc, kemampuan adaptasi ubi kayu yang memiliki warna umbi putih itu juga luas. Itu terbukti dari hasil uji coba di delapan sentra singkong antara lain di Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Pati (Jawa Tengah), Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Lampung Tengah. “Setiap daerah mewakili kondisi lingkungan yang beragam,” ujar Ir Sholihin MSc.

Unggul

Komari Al Hasan di Lampung Utara, misalnya, menguji coba klon OMM 9908-4, 10 varietas dan klon harapan lain seperti malang-6, MLG 4, adira-4, CMM 02048-6, OMM 02048-6, butoijo, cecek hijau, faroka, dan kaspro. Uji adaptasi dan optimalisasi itu berlangsung pada 2010-2011. Komari menanam setiap jenis itu di lahan 500 m2 terdiri atas 625 bibit. Ia juga turut menanam ubi kayu pembanding, yakni jenis UJ-5 dan UJ-3-keduanya banyak dikebunkan para petani di Lampung.

Karyawan sebuah perusahaan minyak dan gas itu menggunakan lahan kering dan masam untuk uji adaptasi, sementara untuk optimalisasi berupa lahan kering ultisol. Lahan bertanah ultisol rata-rata memiliki pH 5,5. Pada uji adaptasi Komari memberikan 100 kg Urea, 100 kg SP36, dan 50 kg KCl untuk luas lahan 1 ha ketika tanaman berumur sepekan.  Pemupukan berikutnya saat tanaman berumur 3 bulan berupa 100 kg Urea dan 100 kg SP36 per ha.

Ia memberikan 100 kg Urea saat tanaman berumur 5 bulan. Hasil uji di lahan kering masam, produksi klon OMM 9908-4 berumur panen 8-10 bulan mencapai 2.658 kg di lahan 500 m2 atau setara 53,16 ton per ha. Bandingkan dengan klon atau varietas lain seperti UJ-5 yang hanya berproduksi 39,94 ton per ha. Artinya klon OMM 9908-4 jauh lebih unggul daripada klon atau varietas pendamping.

Sementara untuk uji optimalisasi ada perbedaan perlakuan pemberian pupuk. Komari memberikan 100 kg Urea, 500 kg Ponska, 100 kg KCl, 300 kg dolomit, dan ditambah 5 ton pupuk kandang per ha saat tanam. Pemupukan susulan berupa 100 kg Urea saat tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu berumur 3 bulan. Hasil uji optimalisasi menunjukkan bahwa produktivitas ubi kayu OMM 9908-4 itu lebih tinggi, mencapai 64,40 ton per ha dan berkadar pati 21,57%.

“Tanaman singkong dikenal sangat responsif terhadap lingkungan. Tidak mengherankan bila potensi hasil di lapang bisa jauh lebih tinggi pemberian  pupuk yang mampu mencukupi kebutuhan tanaman,” tutur Sholihin. Klon OMM 9908-4 siap panen pada umur 9-10 bulan dan berpotensi sebagai bahan baku industri pangan. Hasil patinya lebih tinggi 11% daripada varietas pembanding adira 4. Produksi pati OMM 9908-4 mencapai 9,82 ton, sedangkan adira 4 sebanyak 8,99 ton per ha.

Genjah

Menurut Sholihin ubi kayu OMM 9908-4 diarahkan untuk pembuatan tepung singkong. Sebab, kadar asam sianida relatif tinggi, yakni 31,02 ppm bobot basah sehingga bila dikonsumsi langsung rasa umbi pahit. Di tanahair perkembangan industri pangan berbahan baku singkong mengarah pada pembuatan tapioka. Alternatif lain yakni pembuatan mocaf, modified cassava flour, alias tepung singkong termodifikasi yang mulai marak sejak 2009.

Selain untuk industri pangan, klon OMM 9908-4 juga berpotensi untuk bahan bioetanol. Potensi hasil bioetanol 96% dari ubi kayu itu sebesar 15.000 liter per ha, lebih besar 20% dibandingkan adira 4 dan 30% dibandingkan UJ5. Itu berarti untuk menghasilkan seliter bioetanol cukup

4,52 kg singkong OMM 9908-4. Klon harapan OMM 9908-4 merupakan hasil pemuliaan dengan sistem persilangan terbuka antara 20 tetua jantan terpilih dengan tetua betina MLG 10.006.

Tim pemulia memilih tetua betina MLG 10.006 karena memiliki sumber gen daya hasil tinggi. “Pada persilangan terbuka  pemulia mengumpulkan tetua-tetua unggul sehingga diharapkan terjadi penyerbukan alami yang menghasilkan keturunan bersifat unggul,” tutur Kartika Noerwijati, SP, MSi, peneliti singkong dari Balitkabi. Hambatannya, “Bunga ubi kayu baru muncul bila tanaman ditanam di dataran tinggi. Waktunya pun lama harus menunggu setahun,” ujar Sholihin.

Balitkabi juga memiliki klon harapan lain yang tengah diusulkan menjadi calon varietas unggul baru ubi kayu yaitu CMM 02048-6. “Kelebihannya  hasil tinggi dan umur genjah. Singkong dapat dipanen pada umur 7-8 bulan,” ujar Sholihin.

Hingga kini sebagian petani di Jawa Timur dan Jawa Barat masih menanam varietas adira 1 karena berumur genjah, yakni 7-10 bulan. Pasalnya, semua varietas unggul baru ubi kayu berumur sedang atau panjang (8-12 bulan). “Oleh karena itu kehadiran varietas ubi kayu berumur genjah yang lebih unggul daripada adira 1 sangat diharapkan petani,” tutur Sholihin.

Tumpangsari

Klon harapan CMM 02048-6 yang akan diberi nama MANIMA 3 itu hasil persilangan tertutup antara tetua betina CMM

95014-13, sumber gen daya hasil tinggi, dengan tetua jantan malang 1, sumber gen berumur genjah dan rasa enak. Persilangan yang dilakukan pada 2002 itu pun menghasilkan CMM 02048-6 yang sifatnya unggul dengan paduan sifat terbaik para tetuanya. Potensi hasilnya mencapai 53,68 ton per ha dengan rataan hasil 32,67 ton per ha. Rasa umbi CMM 02048-6 enak sehingga dapat dikonsumsi langsung.

“Daging umbinya kuning, tidak pahit, dengan tekstur umbi kukusnya yang remah memberikan peluang besar bagi klon CMM 02048-6 untuk dikembangkan di daerah pusat pengolahan pangan berbasis ubi kayu, seperti di Magelang, Jawa Tengah. Sebab, sesuai untuk bahan baku keripik, umbi kukus, getuk, singkong keju, dan produk olahan lainnya,” tutur Sholihin.

Rata-rata hasil pati klon CMM 02048-6 lebih tinggi masing-masing 75% dan 30% daripada varietas pembanding adira 1 dan malang 1. Kadar pati dalam umbi mencapai 17,65%. Keunggulan lain, umbi klon CMM 02048-6 juga mengandung betakaroten 791 µg/100 g bobot kering sehingga cocok dijadikan pangan sehat.

Keunggulan lain dua calon varietas ubi kayu dari Balitkabi itu ialah, “Cocok ditanam dengan sistem tumpangsari bersama tanaman pangan lain seperti kedelai, kacang tanah, jagung, dan padi gogo,” ujar doktor alumnus Universitas Brawijaya, Malang. Sebab sosok tanaman yang tidak terlalu tinggi, rata-rata 153 cm (CMM 02048-6) dan 230 cm (OMM 9908-4). Itulah dia jagoan baru ubi kayu. (Tri Istianingsih)

Keterangan Foto :

  1. Singkong OMM 9908-4 dan CMM 02048-6 bisa dibudidayakan secara tumpang sari dengan tanaman pangan lain
  2. Ir Sholihin, MSc, “Kehadiran varietas unggul baru ubi kayu diharapkan mampu menjadi alternatif bagi para petani.”
  3. Klon CMM 02048-6, umur genjah dan sesuai untuk industri makanan
  4. Calon varietas unggul ubi kayu OMM 9908-4, potensi hasil mencapai 64,40 ton/ha, kadar pati 21,57%
  5. Calon varietas unggul baru Balitkabi cocok untuk industri pangan seperti mocaf
 

Powered by WishList Member - Membership Software