Sihir Batang Unik

Filed in Tanaman hias by on 02/05/2013 0 Comments
Commiphora emenii, si batang biru dari Tanzania

Commiphora emenii, si batang biru dari Tanzania

Commiphora sp menjadi pilihan para kolektor karena unik dan eksotis.

Ketika asyik berselancar di dunia maya, Sugita Wijaya tiba-tiba terperanjat saat menyaksikan foto milik sebuah nurseri di Amerika Serikat. “Wih, gede temen (dalam bahasa Jawa artinya besar sekali, red),” kata kolektor tanaman sukulen di Surabaya, Jawa Timur, itu. Dalam foto itu tertulis keterangan nama Commiphora sp eyl dengan lebar tajuk dari titik terluar sekitar 30 cm. “Ini yang terbesar yang pernah saya lihat ditanam di pot,” tuturnya.

Hasrat Sugita untuk memiliki koleksi langka itu pun bangkit. Namun, asa itu pada Maret 2011 hampir saja pudar saat Sugita melihat harga yang tertera di laman itu, yakni mencapai 600 US$ (1 US$=Rp9.600-Rp9.800) untuk sebuah pot Commiphora sp eyl. “Commiphora yang biasa harganya  kurang lebih hanya setengahnya,” katanya. Ia termenung sejenak, tapi kedua matanya tak lepas memandangi foto tanaman asal Benua Afrika itu. Tak lama kemudian, keputusannya teguh, yakni membeli tanaman anggota famili Burseraceae itu.

Batang biru

Menurut Sugita, Commiphora sp eyl termasuk tanaman sukulen yang sudah lama ia idam-idamkan. “Saya sering melihat tanaman itu di pot tapi rata-rata masih kecil,” kata Sugita. Ia tertawan setelah melihat batang yang unik. “Bentuk batang seperti berotot,” tuturnya. Keunikan itu pula yang membuat Andy Chandra, kolektor tanaman hias eksklusif di Sidoarjo, Jawa Timur, turut kepincut mengoleksi tanaman asal benua Afrika itu.

Setelah menunggu selama 14 hari, kiriman dari negeri Abang Sam akhirnya datang. Tanaman endemik Somalia itu datang tanpa balutan media. Sugita lalu merendam tanaman kerabat kenari itu di dalam larutan yang mengandung vitamin B1 selama 10 menit. Setelah itu ia kering anginkan, kemudian menanamnya dalam pot bermedia tanam berupa campuran 95% pasir malang dan 5% pupuk kandang kambing terfermentasi.

Menurut Andy Chandra media tanam commiphora bisa juga menggunakan media campuran perlite, tanah, dan pasir malang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. “Yang penting media tanam porous, seperti habitat aslinya di alam,” kata Sugita. Setelah 3 pekan, sukulen itu mengeluarkan daun, barulah Sugita mulai rutin menyiramnya sekali sepekan. “Jika disiram sebelum mengeluarkan daun, tanaman bisa busuk,” kata Sugita.

Sebagai sumber nutrisi Sugita memberikan pupuk daun berbentuk butiran sebanyak satu sendok teh per pot. “Pemupukan cukup setahun sekali,” ujarnya. Sementara Andy memberikan pupuk daun itu satu sendok makan, 6 bulan sekali pada pot berdiameter 20 cm. Penyiraman tergantung kondisi tanaman. “Kalau tanaman sudah berdaun, penyiraman bisa 3—4 hari sekali, sementara jika belum berdaun sekali seminggu,” kata Andy.

Aneka jenis

Commiphora—dalam bahasa Yunani berarti pembawa getah—menjadi salah satu tanaman koleksi para pehobi tanaman sukulen lantaran keunikannya. Jenis lain yang kerap menjadi koleksi adalah Commiphora mukul, seperti yang didatangkan Andy dari Amerika Serikat. Commiphora  asal India itu berbatang kokoh dengan percabangan serasi. Ada juga Commiphora wightii yang habitat aslinya di Afrika Selatan. Keunikan sukulen berbatang kuning gelap itu, “Terdapat tonjolan hampir di seluruh bagian batang,” kata Andy.

Menurut Sugita keunikan  commiphora memang terletak pada bentuk dan warna batang. Lihatlah koleksi lain arsitek itu, yakni Commiphora kua marsabit. Sukulen asal Somalia itu tampil garang dengan batang berduri dan menjulang ke berbagai arah. Penampilannya menjadi kompak dan simetris dengan susunan cabang dan daun yang rimbun.

Ada lagi Commiphora logo-logo. Commiphora asal Kenya itu berbatang kuning cerah. Sementara Commiphora emenii berbatang menarik, biru gelap. “Warna batangnya sangat eksotis, saya tidak pernah melihat batang tanaman berwarna biru,” kata Sugita.

Satu lagi commiphora koleksi Sugita yang memiliki warna batang unik. Commiphora capensis. “Capensis diambil dari nama tempat asalnya Cape Town, Afrika Selatan,” kata Sugita. Commiphora itu memiliki batang berwarna kuning keemasan. Sugita mendatangkannya dari salah satu nurseri sukulen di Jerman.

Keunikan lain, pada beberapa jenis commiphora kulit ari batang kerap mengelupas seperti jambu biji. Menurut ahli fisiologi dan bioteknologi tanaman dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Ni Made Armini Wiendi MSc, proses terkelupasnya kulit ari batang commiphora merupakan bentuk adaptasi dari tanaman itu. “Hal itu bisa disebabkan karena perbedaan kelembapan, suhu, maupun iklim secara umum dengan habitat asalnya,” tuturnya.

Bagi Sugita, bentuk commiphora yang indah dan menawan bisa dicapai dengan perawatan yang intensif. “Merawat commpihora gampang-gampang susah,” katanya. Prinsipnya rawat tanaman seperti di habitat aslinya, yaitu sering mengalami kekeringan. “Dengan kondisi hidup yang minim, commiphora bisa tampil seperti di habitat aslinya, eksotis dan alami,” kata Sugita. (Bondan Setyawan)

FOTO:

  1. Commiphora sp eyl, batang seperti berotot
  2. Commiphora emenii, si batang biru dari Tanzania
  3. Commiphora logo-logo asal Kenya
  4. Commiphora kua marsabit, bersosok garang dengan batang berduri dan menjulang ke berbagai arah
  5. Commiphora mukul, berbatang kokoh dengan percabangan serasi
 

Powered by WishList Member - Membership Software