Sidat Huni Kolam Terpal

Filed in Ikan konsumsi, Satwa by on 06/06/2013 0 Comments

Sidat di kolam terpal mencapai ukuran 250—300 g/ekor dalam waktu 4—5 bulan dari ukuran tebar 50 g/ekorTeknik budidaya terbaru: sidat di kolam terpal. Bebas bau tanah.

Enam kolam raksasa masing-masing berukuran 12 m x 33 m dengan kedalaman 1,5 m itu baru selesai dibangun pada September 2011 di Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kolam seukuran petak tambak udang itu istimewa karena seluruhnya dilapisi terpal. Di setiap kolam itu Helmi Sukantiyo menebar lebih kurang 7.920 benih sidat ukuran rata-rata 50 g untuk pembesaran. Kepadatan tebar    1 kg per m2.

Pemandangan itu memang tak lazim lantaran selama ini pembesaran sidat di kolam beralas tanah. Akibatnya sidat rentan  bau tanah seperti halnya bandeng. Wajar jika harga jual pun turun, maksimal Rp100.000 per kg Sidat tanpa bau tanah, Rp140.000 per kg. Namun, yang sering kali terjadi sidat berbau tanah ditolak pembeli. Untuk mengatasi masalah itu, Helmi membesarkan sidat di kolam terpal.

Kolam terpal

Sejatinya pemakaian kolam terpal untuk budidaya ikan sudah lama. Pemakaian kolam terpal terlebih dahulu digunakan oleh peternak lele, berikutnya peternak gurami. Contoh Wagiran di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, yang memanfaatkan kolam terpal untuk pembesaran lele dan gurami. Menurut Wagiran penggunaan terpal lebih praktis dan murah ketimbang membuat kolam semen. “Untuk ukuran 4 m x 8 m biaya yang dikeluarkan paling Rp600.000,” tuturnya. Bandingkan dengan biaya pembuatan kolam semen berukuran sama mencapai Rp5-juta.

Bukan tanpa musabab, Helmi bersusah-payah melapisi kolam dengan terpal. Menurut Helmi agar pembudidaya mudah memasarkan sidat, maka harus menghasilkan Anguilla bicolor tanpa bau tanah, tekstur sidat lembut dan empuk, serta lemak sidat cukup sehingga tidak gosong ketika pemanggangan menjadi kabayaki. Pria yang tertarik menekuni budidaya sidat sejak berkunjung ke Jepang pada 2005 itu mengatakan bahwa untuk menghasilkan sidat sesuai permintaan pasar, peternak dapat memanfaatkan terpal. Gunakan terpal berketebalan 0,7 mm agar tidak mudah sobek.

Helmi membangun kolam pembesaran sidat berukuran 12 m x 33 m dengan kedalaman 1,5 m. Namun, air di kolam diatur setinggi 1 m untuk mencegah sidat loncat keluar kolam. Harga terpal berkisar Rp30.000 per m2 dengan daya tahan sekitar 10 tahun. Keuntungan lain pemanfaatan terpal adalah mudah membersihkan kolam. Mafhum saja timbunan pakan sisa-sisa pakan sidat kerap berceceran menimbun dasar kolam. Jika tidak dibersihkan maka akan memunculkan gas amonia yang menurunkan kualitas air dan mengancam kelangsungan hidup sidat.

Mahfum amonia mengikat oksigen sehingga pertumbuhan sidat terhambat. Oleh karena itu pembersihan rutin dilakukan setiap 15 hari sekali. Selain itu setiap 30 menit setelah pemberian pakan, saluran outlet alias air keluar dibuka agar air keruh digantikan air jernih dan banyak mengandung oksigen. Agar kualitas air tetap prima, kincir angin pun turut diberdayakan untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut minimal 2 ppm dengan kondisi idealnya 4—6 ppm.

Pakan berkualitas

Hal lain agar menghasilkan sidat berkualitas adalah pilihan pakan. Menurut Helmi, untuk pembesaran sidat dibutuhkan pakan berkadar protein minimal 45%, dan kadar lemak 20%. Menurut Dr Ir Ridwan Affandi DEA, ahli sidat dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, selain protein, peternak pun harus memperhatikan jumlah energi pakan. “Perbandingan ideal antara protein dan kalori adalah 1 : 8,” ungkap Ridwan.

Jika pakan mengandung 45% protein, maka energi yang dihasilkan setara 3.600 kkal. Sementara lemak menurut Dr Ir Petrus Hary Tjahja Soedibya, ahli nutrisi ikan dari Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, berperan sebagai sumber energi. Harry menyarankan peternak menambah vitamin dan mineral. “Vitamin agar kondisi sidat prima, sementara mineral berperan menjaga keseimbangan osmosis tubuh,” tuturnya.

Agar sidat doyan makan, lakukan perekayasaan kondisi dengan membangun shelter dari anyaman bambu berukuran 4 m x 2 m x 2 m di bagian tepi kolam. Shelter berupa panggung 2 tingkat berlantai bambu. Tujuan pembuatan shelter sebagai tempat rehat, dan menyantap pakan. Sebuah corong dari bekas air mineral 19 galon berpendulum besi dimanfaatkan sebagai tempat pakan. Sebab, sidat tergolong hewan nokturnal yang aktif pada malam hari. “Tempat teduh atau gelap menciptakan kondisi seperti malam hari sehingga sidat terangsang makan sepanjang waktu,” tutur Ridwan. Keuntungan lain dengan berkumpulnya pemberian sidat adalah kotoran bekas pakan mengumpul sehingga relatif lebih mudah membersihkan pakan.

Berkat serangkain perawatan itu, Helmi sukses membesarkan sidat berbobot 250—300 g dalam waktu 4—5 bulan. “Itu diperoleh dari tebar ukuran rata-rata 50 g  per ekor,” tutur Helmi. Sidat hasil budidaya Helmi itu pun kini dinikmati konsumen dari Jepang lantaran tidak bau tanah. “Saat pameran di Jepang pada 2012 banyak pembeli yang tertarik,” tutur Helmi. Hal senada diungkapkan sebuah restoran cepat saji Jepang di Bandung, Jawa Barat, yang memuji kualitas sidat Helmi. Berkat terpal sidat tidak berbau tanah lagi. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

 

FOTO:

 

  1. Kolam terpal sidat di Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah
  2. Helmi Sukantiyo sukses hilangkan bau tanah pada sidat dengan budidaya di kolam terpal
  3. Pakan sidat harus diperhatikan agar pertumbuhan optimal dan mempunyai lemak yang cukup
  4. Sidat tidak berbau tanah sangat disukai konsumen
  5. Sidat di kolam terpal mencapai ukuran 250—300 g/ekor dalam waktu 4—5 bulan dari ukuran tebar 50 g/ekor

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software