Sidat Bongsor Menu Sesuai Umur

Filed in Ikan konsumsi by on 31/08/2011

Syaiful Hanif, peternak di Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, hanya memberikan pakan berupa cacing tanah kepada sidat pada fase glass eel alias benih. Ia menghaluskan 300 g cacing Lumbricus rubellus dengan blender. Jumlah itu cukup untuk pakan 3 kg benih sidat berbobot 3 – 5 g/ekor. Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari meniru pola makan benih di alam.

Agar pertumbuhan sidat optimal perhatikan kandungan nutrisiMenurut anggota staf pengajar Fakultas Ilmu Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Ridwan Affandi DEA, pemberian cacing itu sudah tepat. Pada fase itu enzim pencernaan terbatas dan struktur pencernaan belum sempurna. Akibatnya, kemampuan benih sidat mencerna pakan buatan masih rendah.

Oleh karena itu, sidat memerlukan pakan sederhana supaya mudah mencernanya. Cacing tanah, tubifex, dan daphnia yang memiliki protein sederhana dapat menjadi pilhan pas bagi para peternak. “Di Perancis, pakan glass eel adalah kepiting kecil yang dihaluskan,” tutur ahli sidat alumnus Universite Pierre et Marie Currie Paris VI di Perancis itu.

Berubah menu

Benih memasuki fase elver pada 1,5 – 2 bulan kemudian. Ukuran tubuh berubah, bobot rata-rata 5 – 50 g/ekor sehingga menuntut pakan berubah. Hanif memberikan pakan pabrik yang mengandung 45% protein. Ayah 2 anak  itu mencampur pakan pabrik dan pasta cacing. Ia menambahkan 100 gram pasta cacing pada setiap 1 kg pakan pabrik.

Menurut Hanif cacing berguna untuk memikat sidat agar mau makan. Peternak sidat sejak 2009 itu meletakkan pakan di atas tampah plastik dan mencelupkan ke kolam tempat pembesaran sidat. Ketika Trubus mengunjungi kolam Hanif pada Maret 2011, puluhan sidat fase elver tampak lahap menyantap pakan itu.  Pencelupan pakan ke air kolam itu bertujuan supaya sidat dapat mencium aroma pakan.

Cara lain, menurut Ridwan, mengangkat tampah setinggi  3 – 5 cm di atas permukaan air setelah dicelupkan terlebih dahulu untuk merangsang sidat. Sidat akan naik dan makan di dalam tampah. Oleh karena itu sebaiknya beri pegangan kuat pada tampah agar tak mudah jebol terbebani sidat. Cara pemberian pakan menggantung itu mengurangi risiko pakan terbuang akibat terkena air. Dampaknya pakan tertimbun karena tidak terkonsumsi oleh sidat sehingga justru menurunkan kualitas air.

Sidat menempuh fase elver selama 4 – 5  bulan dan memasuki fase berikutnya, yakni fingerling. Pada fase itu bobot sidat minimal 50 – 100 gram per ekor, panjang 40 cm. Pada fase ini, Hanif hanya memberikan pakan pabrik. Dosis pemberian 2 – 4% dari total bobot sidat. Artinya, jika terdapat 100 kg sidat, maka membutuhkan pakan 2 – 4 kg. Frekuensi pemberian 2 kali sehari dengan komposisi 40% siang hari, dan 60% di malam hari.

Setelah menerapkan cara seperti itu, Hanif sukses memanen sidat Anguilla marmorata dengan bobot 700 – 800 g per ekor dalam waktu 6 – 7  bulan dari bobot tebar awal ukuran 200 – 300 g. Menurut Dr Ir Ridwan Affandi DEA, peternak mesti paham kebutuhan sidat. “Kualitas dan kuantitas pakan harus tepat,” kata Ridwan. Untuk sidat pembesaran berukuran 100 g ke atas, misalnya, idealnya memerlukan pakan berprotein minimal 45%. Adapun sidat fingerling dengan panjang lebih kurang 40 cm, butuh 50% – 52% protein. “Ukuran fingerling butuh protein tinggi karena sedang masa pertumbuhan jaringan di tubuh,” kata Ridwan.

Namun, banyak peternak salah kaprah dalam memberi pakan. Mereka menumbuk pakan untuk sidat tua dan memberikannya kepada sidat muda. Ukuran partikel pakan memang menjadi kecil dan sidat muda pun mampu memakannya. Namun, kandungan nutrisi tidak cocok. Pemberian pakan tidak tepat itu membuat nutrisi tidak bisa terserap optimal. “Jika diandaikan total penyerapan nutrisi adalah 70%, paling 40% nutrisi yang diserap sehingga pertumbuhan sidat menjadi lambat,” kata Ridwan.

Seimbang

Selain protein, peternak sidat juga mesti mencermati jumlah energi pakan. Penelitian Ridwan menunjukkan, perbandingan ideal protein dan kalori adalah 1 : 8. Artinya jika pakan mengandung 45% protein, jumlah energi yang dihasilkan adalah 8 x 45 = 3.600 kkal. Menurut periset di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi, Jawa Barat, Ir Agus Sasongko MSi, peternak pun mesti memperhatikan lemak, mineral, dan vitamin dalam pakan.

Dr Ir Petrus Hary Tjahja Soedibya, ahli nutrisi ikan dari Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, menuturkan lemak berperan sebagai sumber energi. Sementara vitamin membuat sidat prima. Adapun mineral berperan untuk menjaga keseimbangan osmosis di tubuh. Ketika memberikan pakan, pertimbangkan kebiasaan makan sidat supaya konsumsi pakan optimal.

Menurut Ridwan, sidat tergolong hewan nokturnal yang aktif pada malam hari. Untuk menyiasatinya, peternak bisa membuat naungan sehingga tampak teduh atau gelap layaknya malam hari. Pada kondisi seperti itu sidat berkerumun di bawah naungan dan makan pada siang hari, bahkan sepanjang waktu.  Hanif menerapkan cara itu dengan membangun naungan berukuran 4 m x 2 m x 2 m terdiri dari 2 tingkat berlantai bambu. Itulah cara Hanif memanjakan sidat sehingga pertumbuhannya pun melesat. (Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software