Siasat Saat Tanpa Rumah

Filed in Uncategorised by on 01/08/2012 0 Comments

Banyak masalah menanam sayuran hidroponik tanpa rumah tanam. Setiap masalah ada solusinya.

 

Hujan deras berakhir, Kunto Herwibowo justru mulai bekerja keras. Air hujan memenuhi tandon nutrisi hidroponik yang posisinya 50 cm di bawah permukaan tanah. Ia menanam beragam sayuran  dengan teknologi hidroponik nutrient film technique (NFT) tanpa greenhouse atau hidroponik terbuka. Akibatnya air hujan leluasa mengalir ke tandon berkapasitas 1.000 liter. Selama 4 jam hingga pukul 20.00 ia membuang air itu  agar konsentrasi nutrisi tetap terjaga.

Itu pengalaman Kunto ketika pertama kali menerapkan hidroponik beratap langit alias tanpa rumah tanam. Harap maklum, pada umumnya budidaya sayuran dengan teknologi hidroponik menggunakan rumah tanam sebagai naungan sehingga aman dari hujan dan gangguan organisme pengganggu tanaman.

Hujan masam

Hujan memang menjadi momok bagi pekebun hidroponik tanpa naungan. Menurut  dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Anas Dinurrohman Susila MS, nutrisi yang bercampur dengan air hujan menjadi encer. “Jika nutrisi terlalu encer, tanaman tidak dapat menyerap,” ujar Anas. Pekebun mesti menambahkan nutrisi agar pertumbuhan tanaman optimal. Dampaknya, biaya pemupukan meningkat.

Anas menjelaskan, hujan di perkotaan bersifat masam. Polutan sebagai limbah dari industri, jika bercampur dengan udara dan air hujan menyebabkan air hujan bersifat masam. Jika air hujan itu bercampur dengan nutrisi hidroponik, maka pH nutrisi pun turun. Akibatnya beberapa unsur seperti kalsium mengendap dan akar tidak dapat menyerapnya.

Untuk mencegah kejadian itu terulang kembali, pekebun sayuran di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu mendesain ulang. Pipa utama yang menghubungkan talang ke tandon untuk mengalirkan air menjadi pipa yang dapat dibuka-tutup. Kunto pun dapat menutup pipa utama itu ketika hujan agar air dari talang tidak masuk ke tandon nutrisi. Air hujan  langsung ke saluran pembuangan.

“Dengan begitu larutan nutrisi tetap aman dari air hujan,” ujar Kunto. Di samping menutup pipa, ia  juga mematikan pompa sehingga nutrisi dari tandon tak mengalir ke tanaman. Setelah hujan reda,  barulah ia membuka pipa utama dan pompa nutrisi pun kembali aktif. Dengan cara itu, hujan tak lagi menjadi masalah bagi Kunto.

Ozon

Pekebun sayuran hidroponik terbuka juga mesti memperhatikan jenis tanaman. Sebaiknya pekebun memilih jenis sayuran yang tahan serangan hama dan penyakit, seperti selada, seledri, dan brokoli. “Dibanding dengan caisim, kangkung, dan pakcoy, selada tergolong sayuran minim hama, terutama belalang,” kata Anas. Ia menduga selada memiliki produk sekunder yang tidak disukai hama.  Buktinya, sayuran keluarga Asteraceae di kebun Kunto bebas serangan hama dan penyakit.

Kunto menuturkan, syarat berhidroponik tanpa naungan adalah tidak merusak lingkungan. “Untuk menghindari hama serangga, saya tidak memutus rantai makanan,” ujar Kunto. Ia membiarkan tanaman lain tumbuh di sekitar kebun. Tujuannya, agar hama memakan tanaman itu daripada tanaman utama. Tungau, misalnya, biasanya hidup di teki Cyperus rotundus. Itulah sebabnya ia mempertahankan teki agar tungau tidak merusak tanaman utama.

Menurut Ir Yos Sutiyoso, ahli hama dan penyakit tanaman, salah satu kendala hidroponik tanpa naungan adalah hama dan lumut. Sinar matahari memicu tumbuhnya lumut di talang sehingga menjadi pesaing sayuran dalam menyerap oksigen. Selain itu, talang pun kotor. Untuk mengatasi lumut, Kunto menggunakan teknologi sanitasi ozon. Ozon terdiri atas oksigen dan atom oksigen bebas. Pemberian ozon dapat menambah oksigen dalam air. Namun, “Pemberian ozon yang berlebihan dapat membakar tanaman sehingga pemberiannya harus terbatas,” kata Yos. Kunto memberikan 0,25 mg ozon untuk kapasitas  3-5 liter selama 24 jam.

Selain mencegah lumut, ozon juga berperan mencegah serangan penyakit. “Serangan penyakit bisa diakibatkan oleh cercospora penyebab penyakit bercak daun yang ikut dalam air. Miselia dari cercospora yang terkena ozon bisa terbakar,” ujar Yos.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam hidroponik tanpa naungan adalah jumlah intesitas matahari. Menurut Yos, intensitas matahari yang terlalu tinggi menyebabkan hormon tumbuh tanaman rusak sehingga sosok tanaman pendek.

“Intensitas matahari yang berlebih juga menyebabkan fotosintesis terlalu tinggi. Karbohidrat yang terbentuk banyak, sehingga rasio C/N kecil. Akibatnya, merangsang pembungaan (tanaman kecil tapi sudah berbunga) dan menyebabkan rasa getir atau pahit,” ujarnya. Timbulnya rasa getir diduga akibat asimilasi alkaloid. Untuk mencegah getir dan pahit, Yos menyarankan pekebun memanen selada lebih muda, umur 3 pekan, lazimnya, 40 hari. Cara lain, dengan menanam pohon di sekeliling kebun sehingga intensitas matahari yang mengenai sayuran berkurang. Dengan demikian bertanam sayuran secara hidroponik tanpa naungan tetap aman dilakukan. (Desi Sayyidati Rahimah)


FOTO-FOTO:

1)  Selada ditanam dengan sistem NFT

2)  Lumut dapat diatasi dengan penggunaan ozon

 

Powered by WishList Member - Membership Software