Si Japang Gebrak Ragunan

Filed in Buah by on 01/12/2009 0 Comments

Tiga pulu h menit berselang ucapan itu terbukti. Semua juri sepakat menobatkan si japang sebagai durian terbaik di kontes durian unggul an 2009 yang digelar ditjen hortikul tura departemen pertanian ri di ragunan, jakarta selatan.

Begitu 2 lembar rekap nilai diserahkan panitia, 5 juri segera mengecek nilai yang tertera di depan 3 calon juara. Sesekali mereka mengangguk-angguk. “Dia layak juara, tak ada saingannya di sini,” kata Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS, salah satu juri. Beragam kombinasi kualitas daging buah seperti kekuningan, legit, manis, dan tekstur lembut dimiliki si japang.

Kualitas daging buah itu didukung penampilan buah yang menarik. Bentuk buah seperti hati, mungil, dan kulitnya bersih. “Bobot rata-rata paling 1 kg,” kata Reza. Menurut Zoilus Sitepu SP, juri yang juga National Specialist Fruit & Vegetable Hypermart, buah berukuran kecil dengan rasa berkualitas lebih disukai pasar. Itu karena konsumen tak perlu mengeluarkan kocek terlalu dalam demi sebutir durian.

Sumatera Selatan

Di posisi kedua bertengger durian lodong asal Pandeglang, Banten. Si lodong juga legit dan kering. Sayang, penampilan buah secara keseluruhan kalah dibanding si japang. Di posisi ketiga diduduki durian tembaga asal Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, yang daging buahnya paling menarik. Pantas tak ada perdebatan sengit di antara kelima juri—Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS, Bernard Sadhani, Prof Sumeru Ashari MA grSc PhD, Zoilus Sitepu SP, dan Dr Boyke Dian Nugraha SpOGMARS.

Ajang bergengsi itu juga diramaikan dengan hadirnya durian favorit pilihan Sekjen Pertanian Dr Hasanuddin Ibrahim SpI. Hasanuddin memilih durian lunak asal Kayu Agung, Ogan Komering Ilir, sebagai durian terenak. Toh, pilihan itu tak keliru. Di ajang penilaian sesungguhnya lunak berada di posisi ke-4.

Munculnya tembaga sebagai jawara ke-3 dan lunak sebagai durian favorit cukup mengejutkan. Pasalnya, Sumatera Selatan selama ini tak dikenal sebagai gudang durian enak seperti Kalimantan Barat misalnya. “Ternyata di hutan di Sumsel masih banyak durian enak. Sayang belum terpublikasi,” kata Panca Jarot Santoso SP MS c, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat. Dari provinsi yang terkenal dengan pempeknya itu ada pula durian tembaga dan bakul asal Muaraenim serta kepala rusa dari Ogan Komering Ulu.

Kelewat matang

Menurut Ir Lutfi Bansir MS, peneliti durian di Durian Research Centre, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, sebetulnya ada sebuah durian yang berkualitas tapi kalah dalam lomba. “Yang rasanya paling lezat dan warnanya menarik (jingga, red) sebetulnya tembaga asal Muaraenim,” kata Lutfi. Sayang, saat lomba durian itu kelewat matang sehingga daging buah hancur.

Reza mengakui banyak durian lezat tak mampu menampilkan kualitas terbaiknya lantaran buah kelewat matang. “Sepertiga peserta termasuk durian papan atas. Sayang, sulit melombakan durian di waktu berbarengan karena tidak matang bersamaan,” katanya. Bahkan, ada 1 peserta yang tak dinilai karena belum matang.

Ke depan, menurut Reza, lomba durian bisa dimodifikasi dengan waktu yang panjang, 3—4 bulan, saat musim durian. Durian yang di lombakan dikirim ke setiap juri saat kematangan pas. Atau sebaliknya, juri yang mendatangi lokasi durian. (Destika Cahyana/Peliput: Imam Wiguna)

 

 

Si japang, juara ke-1 asal Kalimantan Selatan dilepas sebagai durian unggul nasional pada 1990

Tembaga, juara ke-3 asal Ogan Komening Ulu, Sumatera Selatan

 

 

Si lodong, juara ke-2 asal Pandeglang, Banten

Tembaga, asal Muaraenim, Sumatera Selatan, lezat

tapi tak beruntung karena buah kelewat matang saat penjurian

Lunak, juara favorit asal Ogan Komening Ilir, Sumatera Selatan

Foto-foto: Destika Cahyana

 

Powered by WishList Member - Membership Software