Si Gembung Tetap Lestari

Filed in Ikan konsumsi by on 31/08/2011

 

Tetraodon palembangensis, memiliki totoltotol dan bentuk punggung cekungSiapa tak tertarik penampilan ikan buntal air tawar: warna tubuh molek, perpaduan corak putih, kuning, dan hitam, dengan totol-totol berdiameter 0,5–1 cm di punggung. Yang istimewa Tetraodon palembangensis, mampu menggembung bulat bak bola ketika merasa terancam. Itu yang menyebabkan banyak hobiis jatuh hati melihat aksinya menggembung. Akibatnya penangkapan buntal pun kian marak.

Menurut eksportir ikan hias di Jakarta, Bima Saksono, hobiis lokal dan mancanegara memang menggemari buntal tawar sebagai ikan hias. “Bila ada permintaan dari luar negeri,  kami bisa mengirim sampai 200 ekor ukuran 10–15 cm,” kata Bima Saksono. Harga berkisar US$15–US$25 per ekor. Dampak perniagaan itu, sulit menemukan buntal di habitat aslinya seperti Sungai Musi, Sumatera Selatan.

Kanibal

Masyarakat di sekitar Sungai Musi  menangkap  ikan  buntal sebagai awetan.  Harga  buntal  kecil berukuran 5 – 10 cm Rp5.000 per ekor. “Saat ini sulit menemukan buntal di habitat aslinya. Untuk menangkapnya sekarang perlu waktu seharian,” kata peneliti di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH), Kotamadya Depok, Jawa Barat, Media Fitri Isma Nugraha, SP MSi. Untuk menyelamatkan ikan yang mampu hidup hingga umur 15 tahun itu adalah pemijahan.

Pemijahan ikan yang berpunggung agak cekung itu relatif mudah. Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH),  membuktikannya. Lembaga itu sukses memijahkan  ikan gembung itu di luar habitatnya. Kunci pertama sukses domestikasi – penangkaran di luar habitat asli – adalah kemampuan beradaptasi di lingkungan baru. Menurut Drs I Wayan Subamia, MSi, kepala BRBIH sekaligus peneliti buntal air tawar, jika itu terpenuhi, menunjukkan ikan mudah dipelihara dan dikembangkan dalam akuarium.

Dalam pemijahan, induk buntal air tawar menginginkan air yang bergerak. Oleh karena itu, pemijah mesti menambahkan aerator di akuarium untuk mendorong air agar berputar. Suhu air ideal 24 – 270C dengan pH 6,9 – 7,5.  Pemijah juga harus mengganti air di akuarium setiap hari untuk menjaga mutu air. Pilih induk jantan dan betina minimal berumur satu tahun dengan bobot rata-rata 150 – 200 gram. Bobot induk betina biasanya lebih berat daripada jantan.

Tempatkan sepasang induk di dalam akuarium berukuran 60 cm x 70 cm x 50 cm. Induk betina menghasilkan 200 – 300 telur setiap kali berpijah. Masa kawin buntal termasuk cepat, berselang 4 – 5 bulan sekali. Yang cukup istimewa induk betina buntal menghasilkan telur setiap 14 – 18 hari. Buntal jantan segera membuahi telur-telur itu. Dari jumlah itu, telur yang menjadi larva sekitar 50-an ekor. “Keberhasilan jantan membuahi sel telur sebetulnya mencapai 96% dengan persentase telur menetas sekitar 78,6%,” kata Wayan.

Cendawan

Secara alami buntal akan kawin pada awal musim hujan. Namun, saat ini waktu hujan yang tak menentu membuat sebagian besar induk betina mogok bertelur. Setelah bertelur, segera pindahkan induk betina ke dalam akuarium lain untuk mencegah memakan telurnya sendiri. Cara lain adalah memindahkan batu tempat bertelur ke dalam akuarium 20 cm x 30 cm. “Lebih aman pindahkan telur ke dalam akuarium yang telah diberi fungisida,” kata Media.

Menurut Wayan, kendala pemijahan terutama pada pertumbuhan larva dan burayak. Sering kali larva dan burayak terserang penyakit bintik putih dengan tingkat kematian 90%. Dari 120 burayak buntal hanya 10 yang lolos hidup. Penyakit bintik putih yang menyerang insang, kulit, dan mata ikan itu akibat ulah cendawan Ichthyophthrius sp.

Meski memiliki banyak kendala, upaya pemijahan ikan anggota famili Tetraodontidae itu jalan terbaik untuk melestarikan ikan endemik Sumatera Selatan itu. Di dunia terdapat lebih dari 20 spesies buntal air tawar, tetapi kondisi habitat seperti sungai-sungai mulai terganggu dengan pembangunan pemukiman. (Silvia Hermawati)

 

Powered by WishList Member - Membership Software