Setek Bibit Kentang

Filed in Majalah, Sayuran by on 08/01/2020

Proses budidaya kentang ex Vitro untuk menghasilkan kentang G0

Hasilkan bibit kentang berkualitas secara cepat dalam jumlah banyak

Dari kiri : Noto, Richa Ratih Damayanti, dan Djoni Djunaedi

Djoni Djunaedi mengeluarkan satu per satu bibit kentang dari dalam botol transparan. Petani di Kelurahan Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, itu mengatakan, di dalam botol terdapat 8 bibit. Petani sejak 1974 itu memperoleh bantuan 80 botol dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pekebun berusia 65 tahun itu lalu bersihkan akar dari sisa-sisa media agar.

Kemudian Djoni menanam bibit di pot tray berisi 72 lubang tanam panjang 54 cm dan lebar 28 cm. Adapun media tanam campuran arang sekam, serbuk sabut kelapa atau cocopeat, dan kompos dengan perbandingan 5 : 3 : 1. Dari 80 botol planlet itu ia mendapat 12.000 bibit kentang. Djoni meletakkan pot tray di dalam greenhouse seluas 100 m2. Ketika tanaman berumur 7—10 hari, ia memperbanyak bibit tanaman kentang itu dengan cara ex vitro.

Setek batang

Saat menghadiri penanaman benih kentang hasil ex vitro di Batu, Jawa Timur, pada 22 Januari 2018, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri Bioteknologi BPPT, Eniya L. Dewi menuturkan, teknologi perbanyakan benih tanaman secara ex vitro merupakan proses perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan menggunakan bagian tanaman (eksplan) yang mempunyai fase pertumbuhan cepat.

Selain itu diikuti dengan pemberian stimulasi pertumbuhan, proses perbanyakan dengan pemotongan yang dilakukan dalam kondisi aseptis di luar laboratorium. Pemotongan pada batang tanaman, sehingga seperti setek. Djoni memotong batang tanaman. “Prosesnya mirip setek. Satu tanaman bisa disetek hingga delapan kali. Bagian yang dipotong di bawah ketiak daun,” ujar Djoni.

Petani sejak 1974 itu mencelupkan terlebih dahulu gunting pemotong ke dalam alkohol sebelum memotong bibit. Tujuannya untuk mengurangi kontaminasi. Djoni menginkubasi atau menjaga bibit tetap steril di rak susun yang tertutup plastik. “Proses itu agar tanaman bisa beradaptasi dengan baik dan mengurangi kontaminasi. Prosesnya sekitar 5 hari,” ujar Richa Ratih Damayanti, anak Djoni yang menjadi anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Jaya itu.

Bibit kentang ex vitro

Setelah 5 hari, mengeluarkan bibit dan menanam di media campuran arang sekam, serbuk sabut, dan kompos. Penyiraman dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Bibit itu siap jual atau pindah ke lahan setelah berumur 3—4 pekan setelah pemotongan. Petani dapat menanam bibit hasil perbanyakan ex vitro di greenhouse menjadi kentang G0. Penanaman bibit kentang G0 di lahan dan hasil panennya menjadi benih kentang G2.

Benih kentang G2 hasil ex vitro

“Bibit itu kalau di tanam di dalam greenhouse nanti menghasilkan benih kentang dalam bentuk umbi G0. Kalau langsung di lahan, nanti jadi benih kentang G2,” ujar Djoni. Makin besar angka di belakang G, kualitasnya sebagai benih menurun. Artinya kualitas G0 sebagai benih lebih bagus dibanding G1, G1 lebih bagus dibanding G2 dan seterusnya. Menurut Djoni merawat bibit kentang ex vitro gampang-gampang susah. “Seperti merawat bayi. Harus benar-benar dijaga dari serangan hama dan penyakit. Kebutuhan nutrisinya harus terpenuhi,” ujarnya.

Kini Djoni memproduksi bibit mencapai 12.000 per 4 bulan. Ia menjual bibit kentang ex vitro Rp1.000 per bibit. “Harganya masih Rp1.000 karena fasilitas dan bahannya mendapat bantuan dari dinas pertanian, sehingga baru dihitung tenaga kerja. Kalau hitung ekonomisnya sekitar Rp1.500 per bibit,” ujarnya. Harga itu lebih murah dibandingkan dengan harga bibit dalam bentuk umbi.

Menurut Djoni harga umbi G0 Rp2.000 per biji. Selain murah dan dapat diperbanyak lagi dengan cepat, keunggulan lain bibit ex vitro lebih terjamin kualitasnya. Jika mampu membuat benih sendiri melalui sistem ex vitro, petani mendapatkan satu kepastian benih. “Kalau kita dapat G0 berarti benar-benar G0, kalau dapat G2 benar-benar G2. Karena kalau beli benih sekarang terkadang ada campuran benih kualitas lebih rendah,” ujar Djoni.

Proses inkubasi

Ia mencontohkan petani yang membeli bibit G2, biasanya ada campuran G4. “Kalau bisa membibitkan sendiri, kualitasnya terjamin,” ujarnya. Menurut Djoni petani di desanya masih melihat lebih lanjut perkembangan kentang ex vitro itu. “Kalau dalam bentuk bibit ex vitro risiko kematian bibit lebih tinggi dibanding benih, sehingga petani baru tertarik benih G0 atau G2. Belum bibit yang masih ex vitro,” ujar lelaki kelahiran Blitar, Jawa Timur, 10 Oktober 1954 itu.

Kunci keberhasilan penanaman di lahan nutrisi harus memadai dan pengairan dalam tanah harus lancar. “Kalau langsung dari planlet harus kita perhatikan di awal, karena pemindahannya riskan. Kalau pengairan kurang, akan mudah layu dan mati. Sebaiknya tanam bibit pada sore atau pagi. Pupuk yang dipakai harus sudah matang atau sudah jadi kompos agar tidak menimbulkan panas. Lebih bagus lagi pakai mulsa agar kelembapan lebih terjaga,” ujarnya.

Petani di Sumberbrantas, Noto, membudidayakan bibit hasil setek itu di lahan 800 m² dengan populasi 3.000 tanaman. Ia memanen 2 ton benih kentang generasi dua atau G2. “Biaya produksi per tanaman sekitar Rp2.000,” ujarnya. Menurut perhitungan Noto keuntungan bersih hingga Rp24 juta rupiah. “Itu bibit kentang tanpa sertifikat, kalau ada sertifikat harganya bisa Rp20.000 per kg,” ujarnya.

Itulah sebabnya ia semringah ketika petani lain di desanya memesan bibit kentang hasil perbanyakan ex vitro. Pembeli itu melihat penampilan tanaman Noto yang pertumbuhannya bagus. “Padahal tanaman baru berumur seminggu, tetapi sudah diinden,” ujar Noto. (Bondan Setyawan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software