Seri Walet (198): Rahasianya Berdaya Rendah

Filed in Satwa by on 06/09/2013 0 Comments
Tweeter menarik walet datangdan membuat sarang

Tweeter menarik walet datangdan membuat sarang

Amplifier berdaya rendah ampuh mengundang walet datang.

Sejak April 2013 Khairul Fuad bisa memetik 150 keping sarang walet setiap bulan. Pemilik bangunan walet berukuran 4 m x 10 m di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, itu sebelumnya hanya memetik 100 keping sarang setiap bulan. “Saya ingin produksi sarang meningkat,” kata Khairul. Setelah berkonsultasi dengan pakar walet di Jakarta, ayah 1 anak itu disarankan untuk memakai amplifier pemancing walet. Alat berukuran 24 cm x 21 cm x 2,5 cm itu memancarkan suara walet dari cakram atau pun Universal Serial Bus (USB) pemanggil walet.

Tujuannya supaya walet terpikat dan mau bersarang. Sayangnya amplifier yang banyak beredar sekarang mensyaratkan tegangan listrik 240 volt dan daya 6 watt. Menurut Khairul spesifikasi alat itu cukup memberatkan lantaran di daerah tempat bangunan waletnya pasokan arus listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sering byar pet. Sudah begitu tegangan listrik yang mengalir naik-turun antara 110—240 volt. “Bila dipaksakan alat bisa cepat jebol, kami sering bergantung pada genset,” ujar pengusaha sepeda itu. Oleh karena itu Khairul berharap bisa memperoleh alat serupa dengan spesifikasi kebutuhan listrik lebih rendah alias hemat. Peter, konsultan walet di Taman Palem, Jakarta Barat, menuturkan kendala utama rumah walet di pedalaman adalah aliran listrik. “Banyak alat yang memakai sumber listrik jadi tak jalan,” katanya.

Listrik menjadi kebutuhan pokok rumah walet untuk menghidupkan peralatan elektronik seperti sistem suara dan lampu

Listrik menjadi kebutuhan pokok rumah walet untuk menghidupkan peralatan elektronik seperti sistem suara dan lampu

Hemat energi

Khairul menjelaskan penggunaan genset membuat biaya operasional membengkak. Sebagai gambaran untuk menjalankan genset selama 1 jam butuh 3 liter solar. Padahal, bila alat pemanggil walet dipasang, minimal perlu 3—5 jam menyala. Dengan harga solar di Kabupaten Kapuas Rp9.000 per liter, Khairul perlu mengeluarkan ongkos Rp81.000 untuk 3 jam pengoperasian.

Menurut Ita Ratnasari dari PT Piro, produsen perlengkapan rumah walet, sebetulnya kini sudah ada amplifier berdaya rendah. “Alat itu sangat cocok dipakai di daerah terpencil yang susah listrik,” katanya. Amplifier model baru itu hanya butuh daya 0,2 watt. “Kami juga membuat amplifier hemat energi yang auto input,” kata Ita. Alat secara otomatis nyala bila disambungkan ke sumber listrik lain seperti aki mobil.

Alat itu pula yang dipakai oleh Khairul sejak 4 bulan lalu. Terbukti alat seharga Rp500.000 itu bisa memancing walet pun berdatangan. “Meskipun berdaya rendah, kualitas alatnya cukup bagus karena bisa menyala tanpa berhenti selama 24 jam,” kata Khairul.

Nun di Samarinda, Kalimantan Timur, Alung Taurus memakai pula amplifier hemat energi sejak Januari 2013. “Hasilnya cukup signifikan untuk menaikkan jumlah sarang di rumah walet,” kata pemilik 4 rumah walet itu.  Alung sebelumnya sudah memakai amplifier, tetapi alat itu tidak memiliki fasilitas auto repeat. “Itu menjadi kelemahan, karena suara mulai dari awal lagi,” kata Alung yang saat ini memanen 50 kg sarang per bulan. Menurut Arief Budiman, konsultan walet di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, jika dari awal rumah walet memakai sistem suara pemanggil walet, seyogyanya terus-menerus berfungsi karena sangat berpengaruh pada keberhasilan rumah walet. “Produksi bisa turun bila pemakaian diberhentikan tiba-tiba,” ujar Arief.

 

Produksi naik

Keunggulan lain amplifier suara yang digunakan Khairul dan Alung adalah memakai teknologi player terbaru. Mesin itu dapat membaca semua format Moving Picture (MP3) maupun Waveform Audio Format (WAV) yang dimasukkan dengan menggunakan berbagai tipe memori. Suara yang disemburkan lewat tweeter pun nyaris minim distorsi yang bisa mengganggu kehadiran walet.

Menurut Ita Ratnasari amplifier itu memiliki spektrum suara luas dengan tingkat tekanan suara atau sound pressure level (SPL) relatif sama. Dengan begitu piyik berumur 1—6 minggu dapat mendengar jelas. “Spektrum suara yang sama dan teratur yang nantinya keluar dari tweeter sangat menentukan keberhasilan memancing walet bersarang,” ujar Didi Ismanto, konsultan suara audio walet di Jakarta Barat.

Khairul dan Alung bukan hanya menggunakan amplifier pemancing walet untuk mendongkrak produksi. Mereka juga menggunakan tweeter yang dilengkapi papan sarang atau nesting plank. Nesting plank merupakan penutup yang dapat dilepas pasang di bagian muka tweeter.  Tujuannya untuk membuat betah anak walet bersarang. “Anak walet akan bersarang di tempat yang sama dengan induk, sehingga terbentuk koloni,” kata Didi. Dengan amplifier pancing walet yang hemat energi itu, memancing walet bukan lagi masalah. (Rizky Fadhilah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software