Seri Walet (195) Surga Baru di Dompu

Filed in Seri walet by on 06/06/2013 0 Comments

Di Jalan Sudirman di pusat Kota Dompu banyak terdapat bangunan walet di atas tokoSebuah bangunan walet di Jalan Mawadi, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) minimal bisa menghasilkan  4 kg sarang setiap panen.

Bangunan walet 2 tingkat itu mudah dikenali meskipun menjorok ke dalam. Posisi bangunan agak masuk sejauh 10 meter di sebuah jalan buntu selebar 2,5 meter. Bangunan itu satu-satunya bangunan berdinding semen yang tidak bercat putih seperti bangunan-bangunan lain di sampingnya.

Menurut Mukhtar, penjaga toko di samping bangunan itu, bangunan walet itu rumah walet paling tua di Dompu. “Sudah berdiri sekitar 12 tahun,” kata Mukhtar.  Pantas populasi waletnya tampak berlimpah. Trubus menyaksikan saat jam baru menunjukkan pukul 15.30, puluhan walet sudah keluar-masuk bangunan itu. Padahal pada jam sama rumah-rumah walet di Kota Bima, terpisah jarak sekitar 95 kilometer, masih sepi dari cericit si liur emas.

Dari toko

Bangunan walet itu tidak jauh berbeda dengan bangunan walet umumnya karena pemilik rumah sudah merenovasi bangunan itu. Sebelumnya sampai 2006, bangunan tersebut masih merupakan bagian dari toko. “Bagian bawah toko, atasnya rumah walet,” ujar Sutejo, pemilik warung makan yang letaknya sekitar 25 meter dari bangunan itu. Sang empunya lantas menyulap toko itu menjadi bangunan walet setelah melihat besarnya potensi memproduksi sarang walet. Jejak bangunan itu sebagai toko kini hanya terlihat dari pintu geser yang dipertahankan oleh si empunya.

Menurut Syarifuddin, pengelola rumah walet itu, setiap masa panen selama 3 bulan ia bisa memetik minimal 4 kg sarang. Dalam setahun rumah walet itu dipanen 2 kali. “Hasil panen sarang sudah ada yang menampung untuk dikirim ke Jakarta,” ujarnya. Namun, sejak setahun lalu Syarifuddin dan si empunya bangunan sepakat untuk mengurangi frekuensi panen menjadi sekali setahun. “Hal itu karena harga jual sarang walet saat ini sedang jatuh,” katanya.

Sebagai gambaran harga sarang walet saat ini menyentuh harga Rp5-juta per kg dari semula Rp11-juta—Rp13-juta per kg. Itu salah satu dampak kebijakan Pemerintah China yang membatasi impor sarang walet. Padahal negeri Tirai Bambu itu sejak puluhan tahun adalah konsumen terbesar sarang walet. “Bila harga sudah normal kita akan kembali memanen 2 kali setahun,” kata Syarifuddin.

Bangunan walet yang dikelola oleh Syarifuddin itu satu-satunya bangunan walet di Kota Dompu yang benar-benar rumah walet utuh. Rumah-rumah walet lainnya yang tersebar di Jalan Sudirman dan Jalan Nusantara, misalnya, masih mempertahankan bangunan walet itu sebagai bagian dari toko. Lubang keluar-masuk walet masih mengandalkan jendela yang separuhnya dibiarkan terbuka. “Produksi sarangnya belum banyak. Tahun lalu baru setengah kilo yang bisa dipanen,” ujar Melisa, salah satu pemilik toserba di bilangan Jalan Sudirman.

Tweeter

Hampir semua bangunan walet di Kota Dompu dilengkapi dengan tweeter pemanggil walet. Setiap bangunan rata-rata memiliki minimal sepasang tweeter. Posisi tweeter umumnya ditaruh di dalam bangunan, tidak di bagian luar. Sebab itu suara cericit walet dari cakram suara pemanggil walet hanya sayup-sayup terdengar. Kondisinya tidak sebising suara cericit walet dari cakram pemanggil walet seperti di sentra liur emas itu di Kota Metro, Lampung, misalnya. “Kalau suatu daerah kondisi makrohabitatnya bagus untuk walet dan berada di lintasan walet, tweeter bahkan bisa tidak dipakai,” ujar Harry K Nugroho, praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara.

Pemilik bangunan walet di Kota Dompu memang patut berbahagia karena makrohabitat walet di sana masih terjaga. Kota Dompu dikelilingi oleh hutan masyarakat yang menjadi habitat serangga sumber pakan walet. Belum lagi daerah-daerah persawahaan yang banyak dijumpai mulai dari pintu gerbang Bumi Nggahi Rawi Pahu—sebutan Kabupaten Dompu—yang berjarak 35 kilometer dari pusat kota Dompu. Singkat kata ketersediaan pakan walet melimpah.

Menurut Syarifuddin, Kota Dompu masih sangat berpotensi untuk terus dikembangkan sebagai salah satu sentra walet di kawasan timur Indonesia. Salah satu indikasinya, beberapa rumah walet sudah dimasuki Collocalia fuciphaga meski baru berumur hitungan bulan. Padahal di banyak tempat seringkali terjadi walet tak kunjung masuk meskipun bangunan walet dengan fasilitas lengkap sudah 2 tahun berdiri. “Kami berencana menambah 3 rumah walet lagi,” kata Syarifuddin.

Itulah bukti pengembangan walet di Kabupaten Dompu sangat berprospek. “Kuncinya adalah ketersediaan pakan walet melimpah,” kata Harry K. Nugroho. (Dian Adijaya S)

 

 

FOTO:

 

  1. Di Jalan Sudirman di pusat Kota Dompu banyak terdapat bangunan walet di atas toko
  2. Bangunan walet 2 tingkat di Jalan Mawardi, Kabupaten Dompu dengan produksi sarang walet minimal 4 kg setiap kali panen
  3. Kondisi makrohabitat walet di Kabupaten Dompu  yang bagus menjamin ketersediaan serangga sebagai sumber pakan walet
  4. Populasi walet di Kabupaten Dompu melimpah. Puluhan walet sudah keluar-masuk lubang walet berukuran 90 cm x 60 cm  mulai pukul 15.30

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software