Seri Walet (194): Berlimpah di Bima

Filed in Seri walet by on 02/05/2013 0 Comments

Bangunan walet 3 tingkat itu menghasilkan 20 kg sarang pada 2012.

Bangunan walet berukuran 10 m x 10 m berdiri di atas lahan seluas 400 m2 itu cukup kondang di kalangan pengepul sarang walet di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). “Cobalah datang ke TPI di dekat pelabuhan di Kota Bima,” ujar Buchari Ibrahim, pengepul sarang walet asal Desa Tente, Kecamatan Woha, NTB. TPI yang dimaksud Buchari adalah Tempat Pelelangan Ikan. Bangunan walet itu terpisah jarak 100 m dari TPI.

Pemilik rumah walet benar-benar serius membangun bangunan walet pada awal 2009. Bangunan itu murni rumah walet seperti di Pulau Jawa. Harap mafhum, bangunan walet di kota Bima mayoritas merupakan bagian atas dari toko atau rumah. Menurut H Yasmin, si empunya, rumah walet itu cepat berproduksi. “Pada 2011 produksi sarang mencapai 6—8 kg,” ujar lelaki 66 tahun yang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu. Bahkan pada 2012, H Yasmin memetik 20 kg sarang dari bangunan walet yang berada di Kelurahan Tanjung itu.

Produksi Tinggi

Produksi tinggi itu bukan tanpa sebab. H Yasmin mengubah lubang masuk menjadi 40 cm x 100 cm dari semula 10 cm x 100 cm. Perubahan itu dilakukan untuk mengakomodasi berlimpahnya walet di Negeri Ncuhi—pemimpin kelompok kecil di Kerajaan Bima—yang terbang di sekitar bangunan. Trubus menyaksikan bangunan yang dilengkapi pula dengan cakram padat suara pemanggil walet itu didatangi ratusan walet saat matahari hampir terbenam. Pemandangan yang terlihat, langit di sekitar lokasi bangunan walet seperti menghitam, karena banyaknya burung.

Keuntungan lain dari bangunan itu adalah tidak jauh dari bibir pantai yang terpisah jarak sekitar 200 m. Bibir pantai menjadi tempat perlintasan walet. Pantas bila bangunan walet milik H Yasmin itu cepat berproduksi. Apalagi bangunan walet yang dikelilingi tembok setinggi 2 m itu satu-satunya bangunan walet di sana.

Menurut Harry K. Nugroho, praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara, banyak faktor yang menyebabkan rumah walet cepat berproduksi. Salah satunya bangunan itu nyaman ditinggali walet. “Suhu dan kelembapannya sesuai dengan walet,” ujar Harry. Suhu udara di Kabupaten Bima berada pada kisaran 22—33oC dengan kelembapan 79—85%.

H Yasmin membangun kolam buatan di dalam bangunan ukurannya 8 m x 8 m dengan tinggi 30 m. Tujuannya adalah untuk menjaga kelembapan dan suhu di dalam ruangan. “Bila suhu panas saat siang hari, air dari kolam akan disemprotkan ke dinding melalui alat seperti sprinkle,” katanya. Cara itulah yang terbukti ampuh membuat walet-walet betah bersarang.

Banyak rumah

Di Kota Bima seluas 222 km2 memang banyak terdapat rumah-rumah walet. Di sepanjang jalan Flores setidaknya terdapat 4 bangunan walet yang menyatu dengan toko di lantai bawah. Rumah-rumah itu dilengkapi tweeter pemanggil walet. Pemandangan serupa juga tampak di Jalan Martadinata, Sumbawa, dan Lombok yang letaknya berdekatan.

Bima memang dianugerahi kondisi makro habitat yang pas untuk walet. Bayangkan kota Bima dikelilingi perbukitan yang masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Dengan kondisi itu, ketersediaan serangga sebagai pakan walet sangat melimpah. Sumber pakan lainnya adalah area persawahan yang cukup luas ke arah Bandara Salahudin yang berjarak 15 kilometer dari pusat kota.

Menurut Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah, makro habitat yang bisa menyediakan serangga bisa menjamin berlimpahnya walet. “Banyak daerah di Jawa  mulai menurun populasi waletnya karena kondisi makro habitatnya sudah tidak sesuai lagi seperti berubah menjadi perumahan atau hal lainnya,” kata Arief. Itu pula yang sudah terjadi di beberapa sentra walet seperti Indramayu, Jawa Barat, dan Gresik, Jawa Timur.

Berkah kondisi makro habitat itu pula yang membuat banyak rumah walet di kota Bima didatangi puluhan hingga ratusan walet setiap sore. Meski lokasi rumah-rumah walet berdekatan. Salah satunya tampak di sebuah gang di sudut kota Bima. Di Gang Merpati itu sebuah bangunan walet 3 tingkat didatangi ratusan walet setiap sore. Bahkan si empunya membuat lubang masuk dengan ukuran besar 1 m x 1 m di salah satu dinding.

Suara cericit walet yang terdengar cukup keras cukup mengundang orang yang melintas di gang itu untuk menengok ke arah bangunan itu. Menurut Nugroho, warga di gang, sejauh ini suara bising walet tidak mengganggu. “Rumah ini sudah ada sekitar 10 tahun yang lalu,” kata Nugroho. Bila melihat jumlah walet yang masuk keluar plus ditambah panjang rumah walet yang mencapai 20 meteran, paling tidak puluhan sarang yang bisa dipetik. (Pressi Hapsari Fadlilah)

 

FOTO-FOTO:

  1. Kondisi makro habitat Kota Bima pas untuk walet
  2. Rumah walet di dekat tempat pelelangan ikan di Bima berproduksi tinggi
  3. Bangunan tinggi dengan lubang besar ditambah tweeter bazooka, menarik walet untuk masuk rumah
  4. Di Kota Bima, lantai paling atas bangunan rumah tinggal banyak dijadikan rumah walet
 

Powered by WishList Member - Membership Software