Seri Walet (191): Kini Walet pun Berlabuh

Filed in Seri walet by on 01/02/2013 0 Comments

Rumah walet langka: dibangun di atas kapal barang

Para pengusaha walet lazimnya membangun rumah walet di darat. Namun, tiga tahun lalu saat mengunjungi Dusun Sunsung, Desa Saingrambing, Kecamatan Sambas, Kalimantan Barat, Fakhrozi Daeriza, menjumpai pemandangan langka: kapal rumah walet di Sungai Sambas. Lokasi dusun itu berjarak sekitar 220 km dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak.

 

Fakhrozi Daeriza, anggota Borneo Photography yang gemar bertualang, itu segera mengabadikan kapal itu. Ia menuturkan kapal rumah walet itu dibangun dari kapal barang bermesin puso dengan 8 silinder. Kapal kayu sepanjang 20 m dan lebar 3 m itu disulap menjadi rumah walet lantaran si empunya yang semula hendak menjual, akhirnya batal lantaran harga jual kapal rendah.

Belasan walet

Pemilik perahu itu memiliki rumah walet di Pontianak. Ia lantas berinisiatif merogoh kocek puluhan juta rupiah untuk membangun rumah walet di kapal itu. Konstruksi rumah walet beratap seng yang dibangun selama sebulan itu memakai bahan kayu lokal. Rancang bangun rumah walet dibuat mengikuti panjang dan lebar kapal dengan menyisakan sedikit ruang sepanjang 1 m di buritan kapal sebagai jalan masuk ke dalam rumah walet.

“Rumah tersebut diberi pintu masuk setinggi 1 m,” ujar Fakhrozi menggambarkan. Posisi rumah walet meninggi ke belakang buritan. Di bagian tengah pemilik membangun rumah monyet sebagai tempat walet masuk. Ia membuat 14 lubang berukuran 15 cm x 15 cm sebagai ventilasi udara di sekeliling bangunan.

Tiga bulan sesudah selesai pembuatan walet-walet sudah memasuki bangunan. “Setiap sore belasan walet masuk di dalam kapal itu,” ujar Fakhrozi. Sejauh ini belum ada informasi jumlah produksi sarang. Namun kehadiran walet yang mau berdiam di dalam kapal rumah walet itu  mengindikasikan bahwa rumah walet itu nyaman.

Menurut Hendra, pemilik rumah walet di Kabupaten Kuburaya ia belum pernah mendengar ada rumah walet di atas kapal. “Luar biasa kalau sudah berproduksi,” kata pemilik 2 bangunan walet itu. Desa Saingrambi, tempat bangunan kapal walet itu berada sebelumnya sama sekali tidak terdapat rumah walet. Sebagian besar masyarakat di desa seluas 8,1 km2 itu merupakan pekebun karet dan hasil hutan nonkayu seperti rotan.

Harry K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara menjelaskan pada dasarnya walet bisa tinggal di bangunan kayu. “Itu juga yang banyak terlihat di sungai dari Palembang ke arah Bangka,” kata pemilik Ekawalet Center itu. Yang berbeda bangunan kayu walet di sana berada di bantaran sungai, bukan di atas kapal.

Jangan berpindah

Membangun rumah walet di atas kapal sah-saja asalkan memenuhi persyaratan yang mesti dicermati. Upayakan agar kapal tidak berpindah-pindah. Hal itu akan mengacaukan orientasi walet yang sudah setia mengunjungi tempat. Langkah paling aman bila terpaksa berpindah adalah melakukannya perlahan dan lokasinya tidak terlampau jauh.

Menurut Harry sebaiknya dinding rumah kayu dibungkus plastik. Hal itu semata-mata untuk menjaga kelembapan yang dipertahankan 90%. Dengan kondisi itu walet nyaman tinggal. Plastik juga berfungsi menjadi pelindung apabila kayu menyusut sehingga menimbulkan celah antarkayu yang menyebabkan sinar matahari masuk. Ruangan harus dipertahankan temaram.

Karena berada di sungai besar kemungkinan kapal terombang-ambing gelombang. Oleh karena itu kapal sebaiknya berlabuh dengan posisi kuat di pinggir sungai. “Sejauh ini belum ada laporan dampak terhadap walet kalau rumah walet, misalkan bergoyang-goyang,” ujar Harry yang menyarankan untuk menaruh ember plastik berisi air di dalamnya sebagai penjaga kelembapan udara.

Bila kapal berpeluang menjadi rumah walet, alat transportasi lain seperti kapal bandong, misalnya, bila tidak berfungsi lagi dapat dijadikan bangunan walet. Kapal bandong merupakan kapal besar bagi masyarakat asli Kalimantan Barat sejak ratusan tahun yang bentuknya menyerupai rumah. Layaknya kapal pada umumnya, kapal bandong dilengkapi mesin sehingga bisa pula mengangkut barang antarkabupaten. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)


Keterangan Foto :

  1. Kapal bandong, alat transportasi menyerupai rumah walet bila tidak terpakai berpotensi dibangun sebagai rumah walet
  2. Produksi sarang rumah walet di darat bisa mencapai 3-4 kg untuk luas 4 m x 4 m
  3. Rumah walet di atas kapal desainnya dibuat semirip mungkin rumah walet di darat
 

Powered by WishList Member - Membership Software