Seri Walet (190): Atas Bawah Emas

Filed in Satwa, Seri walet by on 02/01/2013 0 Comments
Salah satu bangunan yang difungsikansebagai sarang walet di Jalan Sudirman,Bangkalan

Salah satu bangunan yang difungsikan sebagai sarang walet di Jalan Sudirman, Bangkalan

Rumah walet di sepanjang Jalan Sudirman itu khas: bagian bawah tempat penjualan emas.

Kawasan Jalan Jenderal Sudirman di Kota Bangkalan, Provinsi Jawa Timur, sejak puluhan tahun lalu sohor sebagai sentra penjualan perhiasan emas. Di jalan sepanjang 500 m itu berjajar aneka toko emas. Pemandangan di toko-toko yang terdiri atas 2 atau 3 lantai itu relatif sama: di lantai bawah tempat berniaga emas, sedangkan di lantai atas merupakan rumah walet yang sudah berproduksi.

Hampir 60% dari toko-toko yang beratapkan genting itu menjadi hunian walet. Ukuran toko bervariasi, ada yang 5 m x 10 m, ada pula yang berukuran besar, kira-kira 15 m x 20 m. Jika bangunan terdiri atas dua lantai, hanya lantai atas (lantai kedua) yang menjadi hunian walet. Namun, toko yang terdiri atas 3 lantai, biasanya lantai ke-2 menjadi tempat hunian dan lantai ke-3 menjadi hunian walet.

Tanpa tweeter

Menurut Ahmad Kholil, warga Bangkalan, sejatinya toko-toko emas di jalan itu memang hanya menjadi tempat berniaga emas dan perhiasan lainnya. Seingatnya, sejak 1970-an beberapa toko mulai merangkap menjadi rumah walet. Oleh karena itu bangunan yang semula menjadi hunian keluarga pemilik toko, berubah fungsi. Pemilik menyingkir dari toko itu demi walet. Dari sebuah rumah kecil berukuran 5 m x 8 m, misalnya, pemilik panen 1-2 kg sarang per 2-3 bulan sekali.

Keberhasilan sebuah toko panen sarang, kemudian diikuti oleh toko-toko lainnya di jalan itu. Dampaknya banyak toko emas juga menjadi hunian walet. Sentra walet di Jalan Sudirman itu riuh rendah oleh cericit walet saat mentari pagi atau  terbenam di ufuk barat. Burung-burung itu memenuhi langit di Jalan Sudirman. Ketika mentari lingsir, Colocalia fuciphaga itu berdatangan dari arah pantai yang berjarak sekitar 3 km dari lokasi rumah walet.

Satu per satu walet masuk melalui lubang yang terdapat di dinding. Lubang masuk burung berukuran 60 cm x 30 cm dengan posisi ke arah utara-selatan. Setiap rumah minimal memiliki 4 lubang masuk. Dengan jumlah lubang masuk itu walet mudah keluar-masuk bangunan. Bangunan walet itu mirip toko merangkap bangunan walet di Pontianak, Kalimantan Barat.

Menurut Sam Ardin-nama sebenarnya enggan disebut-bangunan walet di Bangkalan sedikit yang dilengkapi tweeter alias suara pemanggil walet. “Biar tidak mengganggu pengunjung yang datang ke toko emas,” ujar Sam Ardin yang memiliki sebuah rumah walet. Harap mafhum toko-toko emas di Jalan Sudirman ramai sepanjang hari, sejak pukul 09.00-16.00. Dengan demikian, pengunjung toko tetap nyaman berbelanja, pemilik pun senang panen sarang.

Kumuh

Hal berbeda terlihat di wilayah Bujaan, berjarak 15 meter dari Jalan Sudirman. Rumah walet di Bujaan rata-rata merupakan bangunan tua yang beralih fungsi menjadi rumah walet. Perubahan fungsi bangunan itu terjadi seiring geliat walet di Jalan Sudirman. Berbeda dengan bangunan walet di Jalan Sudirman yang rapi, “Rumah walet di daerah Bujaan terkesan kumuh,” kata Muhammad Soleh, warga Bangkalan. Hal itu tampak dari atap yang berlumut serta cat dinding terkelupas dan menghitam.

Meski kumuh produksi sarang di rumah-rumah walet di Bujaan lumayan bagus. Setiap rumah bisa menghasilkan 2-3 kg sarang setiap kali petik sekitar 2-3 bulan sekali. Sentra lain walet di Bangkalan ada di Pangeranan, berjarak 200 m dari Bujaan ke timur. Di wilayah itu kita dapat menjumpai sekitar 3-4 bangunan walet. Rumah walet di Pangeranan berukuran bervariasi dan terdiri atas 1-2 lantai.

Penampilan rumah walet di Pangeranan amat khas. Setiap rumah berpagar seng setinggi 2-2,5 m sehingga warga sulit melihat ke area bangunan walet. Yang mudah terlihat di setiap bangunan dengan pintu selebar 3 m itu adalah terdapat pohon-pohon cemara untuk mengundang sriti datang. Sriti memanfaatkan daun cemara berbentuk jarum untuk membangun sarang.

Selain itu banyak rumah walet di Pangeranan dilengkapi suara pemanggil untuk menarik kedatangan walet. Namun, pemanggil berupa tweeter hanya memancarkan suara relatif dekat. Suara tweeter hanya disetel pada radius 50 m. Tujuannya tentu saja agar tidak menimbulkan kebisingan bagi warga di sekitarnya.

Tekanan

Menurut Harry K. Nugroho, praktikus walet, perkembangan walet di Pulau Madura sama saja seperti di Pulau Jawa. “Secara makro habitat sudah kurang sesuai karena banyak daerah-daerah yang menjadi sumber pakan walet beralih fungsi menjadi lahan pemukiman,” kata pemilik Eka Walet Center di Kelapagading, Jakarta Utara, itu.

Di Madura memang hanya bangkalan habitat yang mendukung keberadaan walet. Menurut Sam Ardin lokasi yang banyak sawah dan vegetasi hutan berada di Bangkalan bagian timur, berjarak sekitar 25 km dari pusat Kota Bangkalan. Sementara di utara masih terdapat daerah persawahan di Arosbaya, berjarak 20 km utara Bangkalan.

Meski walet memiliki daya jelajah hingga 25-30 km, tetapi jarak yang jauh itu diduga menyebabkan populasi walet di Kota Bangkalan relatif rendah. “Mereka mudah dipancing masuk ke bangunan lain di antara Kota Bangkalan dan sumber pakan,” ujar Harry. Namun, bagi Sam Ardian dan pemilik rumah walet lainnya, si liur emas tetap menjanjikan keuntungan sambil berniaga emas di toko bagian bawah. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

 

Keterangan Foto :

  1. Rumah walet di Jalan Sudirman Bangkalan berada di atas toko emas
  2. Salah satu bangunan yang difungsikan sebagai sarang walet di Jalan Sudirman, Bangkalan
  3. Cemara ditanam di dekat rumah walet untuk mengundang sriti bertandang
  4. Rumah walet di Bujaan menempati rumah dengan arsitektur China
 

Powered by WishList Member - Membership Software