Seri Walet (188): Atap Miring 80% Walet Kembali

Filed in Uncategorised by on 01/11/2012 0 Comments

Atap bangunan walet yang miring memancing 80% anak walet kembali saat dewasa.

 

Ini pengalaman pahit Suprapto Hasan di Ambawang, Kabupaten Kuburaya, Provinsi Kalimantan Barat. Sudah empat tahun rumah waletnya hanya terisi 16 sarang. Padahal, setiap hari di sekitar gedung banyak walet beterbangan mencari pakan. Ironis karena rumah walet tetangga yang terhitung baru sudah berproduksi 7-8 kg sarang setiap kali panen.

Suprapto tak habis pikir. Ia membangun rumah walet melalui riset sederhana. Ketersediaan pakan di Ambawang melimpah lantaran masih banyak sawah, rawa, dan ladang sebagai habitat serangga. Di dekat gedung juga mengalir Sungai Ambawang. Di sana hidup beragam serangga air pakan walet. Itulah sebabnya ia memilih Ambawang sebagai lokasi rumah walet.

Kawat ayam

Meski lokasi ideal, produksi sarang relatif rendah. “Sampai sekarang populasi sarang mandek. Setelah anak walet terbang dan dewasa, mereka pergi tanpa kembali,” katanya. Pengalaman Suprapto boleh jadi menjadi keluhan umum para peternak si liur emas di berbagai tempat. Banyak di antara mereka frustasi, lalu memilih melego rumah waletnya kepada pihak lain.

Menurut Gunawan, konsultan walet di Pontianak, Kalimantan Barat, banyak faktor sehingga walet enggan menetap di bangunan. Sebut saja desain gedung, kelembapan, suhu, hingga alat pemanggil walet. Namun, dari beberapa faktor itu, kebanyakan peternak tidak pas saat merancang bangunan walet. Gunawan mengatakan, selama ini rumah walet berbentuk kotak sabun. “Itu yang mesti dibenahi dari awal, di daerah panas bentuk itu kurang cocok,” kata Gunawan.

Peternak di Pulau Sumatera, Bangka, Belitung, dan Kalimantan belakangan membuat tambahan ruang berupa rumah monyet. Itu bukan bangunan untuk satwa primata, tetapi sebuah ruang berukuran 2 m x 3 m atau 3 m x 3 m. Peternak membangun rumah monyet di depan bangunan utama untuk memperbaiki sirkulasi udara. Bentuk kotak minimalis itu semula memadai saat persaingan di sebuah wilayah masih rendah. Namun, ketika persaingan ketat, walet hanya memilih rumah yang kondisinya mendekati habitat asli.

Gunawan lantas membuat desain alternatif rumah walet. Prinsipnya sederhana, ia menambah ruang dengan membuat atap miring yang menghubungkan pangkal atap lantai teratas dengan rumah monyet. Area itu membentuk celah segitiga yang berperan sebagai ruang sirkulasi udara agar ruang inap (nest room) di bawahnya lebih sejuk. Menurut Kaharuddin Anwar, konsultan walet di Sidenrengrappang, Provinsi Sulawesi Selatan, lantai teratas rumah walet umumnya paling panas dibanding lantai di bawahnya karena terpapar langsung sinar matahari.

Tambahan atap miring menaungi langit-langit lantai teratas sehingga suhu lebih rendah. “Ini desain alternatif yang masih baru dan layak dikembangkan terutama di wilayah panas seperti Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah Indonesia bagian timur lainnya,” kata Kaharuddin. Gunawan memanfaatkan kawat ayam alias kawat heksagonal sebagai ruang sirkulasi udara, sehingga udara bebas keluar-masuk. Sementara atap berupa papan kayu berlapis seng.

Desain rumah walet ala Gunawan terbukti berhasil di sentra padat di Sumatera, Bali, dan Kalimantan yang bersuhu tinggi. Gunawan mengatakan, selama ini banyak peternak mengandalkan lubang udara dengan memasang pipa polivini chlorida (PVC) di dinding gedung. Jumlah pipa bervariasi tergantung kebutuhan untuk mengatur sirkulasi udara.

Sistem navigasi

Sejatinya teknik atap miring itu mirip model rumah walet pigy back alias punggung babi yang banyak dikembangkan Ubaidilah Tohir di Jawa Timur 6 tahun silam. Dengan model itu penampilan rumah walet mirip rumah manusia. Rata-rata kelembapan rumah punggung babi 95-98% dan suhu 25-27oC. Padahal, rumah tipe kotak di sana umumnya berkelembapan di kisaran 80-85% dan suhu 28-29oC.

Menurut Gunawan, pada rumah walet baru ia tetap memasang pipa PVC layaknya lubang sirkulasi udara. “Namun, itu ‘tipuan’ saja karena ruang sirkulasi udara sudah cukup dari celah di atas lantai 3. “Saya menutup lubang agar gema di dalam gedung tidak terganggu,” katanya. Maklum, di dalam ruang gelap, walet melihat bukan dengan mata, tapi dengan pantulan gema yang terdengar melalui indera pendengaran.

Karena itu gedung baru yang sudah dipasang terlalu banyak lubang pipa PVC yang terbuka, akan mengganggu pantulan gema. Akibatnya Collacalia fuchipaga pendatang baru yang terpikat datang sulit merekam kondisi gedung. Apalagi walet baru umumnya masih muda sehingga belum mampu merekam dengan baik. “Saya membuka lubang sirkulasi di dinding saat populasi walet sudah banyak. Tujuannya agar amonia dari kotoran yang menumpuk dalam gedung dapat keluar. Saat itu walet yang tinggal juga sudah mampu merekam dengan baik suasana tempat tinggal,” tutur Gunawan.

Menurut Gunawan desain atap miring juga membuat walet menyukai area khusus dibanding area lain. “Saya menyebut area khusus itu ruang rahasia walet,” kata Gunawan. Ia memisahkan ruang khusus itu dan ruang inap lainnya dengan sekat papan kayu berlubang. Area khusus itu tepat berada di bawah celah yang terbentuk oleh atap miring. Tentu setelah desain itu dilengkapi dengan perangkat standar lain seperti rekaman suara walet, tata letak pelantang suara, suhu, dan kelembapan yang sesuai. Maklum, di ruang khusus itu kelembapan dan suhu paling mudah dikondisikan mendekati kondisi ideal yang disukai walet: kelembapan 95-98% dan suhu 25-270 C. Pantas di sana kerabat sriti itu dapat membentuk 7-8 koloni. Satu koloni dapat menghasilkan 30 sarang setara 250 g. Menurut Gunawan, ruang khusus inilah yang biasanya dipilih walet untuk pertama kali membuat sarang di rumah baru. Setelah ruang ini penuh, baru mereka menyebar ke ruang lain di lantai di bawahnya.

Dengan kehadiran ruang khusus dan pantulan gema yang baik, juga berdampak positif bagi walet muda hasil produksi sendiri. Selama belajar terbang 2-3 hari sebelum keluar gedung, mereka sudah mampu merekam suasana gedung dengan baik. Pengalaman Gunawan dengan desain itu 80% anak walet yang terbang kembali lagi. Beda dengan kebanyakan rumah walet yang hanya 20% saja anak waletnya kembali. Sejauh-jauh walet terbang, ia akan kembali ke bangunan beratap miring. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)


Keterangan foto :

  1. Model atap miring cocok dipakai di sentra walet padat
  2. Pembangunan ruang rahasia yang menghubungkan pangkal atap lantai teratas dengan rumah monyet
 

Powered by WishList Member - Membership Software