Seri Walet (187) Lebih Cepat, Kian Banyak

Filed in Uncategorised by on 01/10/2012 0 Comments

Maksud hati panen raya, apa daya hasil merosot.

 

Itu pengalaman H Ardan Subarja di Pulangpisau, Kalimantan Tengah. Ketika pemilik rumah walet lain panen setiap 3 bulan, Ardan menunda panen satu bulan lebih lama sehingga panen setiap 4 bulan. Penundaan itu supaya bobot sarang meningkat. Bobot sebuah sarang rata-rata 8-8,5 gram. Namun, impian memetik sarang yang lebih berat itu kandas. Saat panen, bobot sebuah sarang sarang malah anjlok, hanya 5-6 gram.

Sudah begitu kualitasnya pun jelek: kotor, tebal, dan agak kehitaman, bahkan berbau akibat kutu busuk alias kepinding turut bersarang. “Wah, itu panen tetasan yang terlambat,” kata Kaharudin Anwar, konsultan walet di Sidrap, Sulawesi Selatan. Panen tetasan adalah panen sarang walet yang dilakukan setelah piyik atau anak walet mampu terbang. Bila terlambat sedikit, induk kembali bertelur.

Itulah sebabnya sarang lebih kotor bagi piyik yang dipelihara berikutnya. Bobot sarang ringan karena bagian dalam sarang yang lembut sering diambil oleh induk untuk pakan piyik. Apalagi setelah bulu-bulu yang menempel di sarang dibersihkan, bobot pun kian menyusut sebagaimana pengalaman Ardan.

Panen rampasan

Sebetulnya ada cara lain untuk memetik sarang. Contohnya panen rampasan dan panen buang telur. Panen rampasan dilakukan saat Collocalia fuciphaga belum bertelur di sarang. Sarang hasil panen rampasan kualitasnya paling baik yakni utuh dan bersih sebab dipetik dari sarang baru selesai dibuat. Namun, bila panen rampasan dilakukan berulan-gulang, maka walet stres karena tidak memiliki kesempatan meletakkan telur.

“Itu eksploitasi karena walet tidak bisa berkembang biak sehingga akhirnya lari ke gedung tetangga,” kata Arief Budiman, praktikus walet di Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Berbeda dengan panen buang telur yang dilakukan saat sarang telah berisi 2 telur. Peternak mengambil telur dan memanen sarang. Kualitas sarang juga bagus, tapi regenerasi walet menjadi lambat karena generasi baru hilang.

Peternak menyiasati dengan meletakkan telur walet di sarang sriti bila di bangunan walet terdapat sarang sriti. Cara lain menetaskan di mesin penetas atau meletakkan telur di sarang imitasi. “Kebanyakan peternak panen setiap 3 bulan saat piyik sudah terbang dan tidak boleh telat nanti rugi,” kata Harsanto, peternak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Nun di Palembang, Sumatera Selatan, Albert Edison ST, menyiasati waktu panen agar lebih menguntungkan. “Saya bisa panen sebulan sekali tanpa membuat walet stres. Populasi juga tetap bertambah,” kata alumnus Teknik Sipil Universitas Sriwijaya itu. Menurut Albert, prinsipnya walet menjadi stres bila sarang-masih ada telur atau piyik-dipanen serentak. Pada panen konvensional, setiap 3 bulan, walet tidak stres karena kondisi sarang kosong setelah piyik terbang.

Menurut Albert seleksi sarang secara berkala perlu dilakukan. Sarang walet baru dan berukuran minimal 2 jari (diameter sekitar 3 cm) langsung dipanen. Sekecil itu? Ya, Albert menjelaskan pembeli sarang liur emas tidak peduli ukuran, sepanjang memenuhi batas minimal 2 jari. Yang membedakan harga justru bentuk (mangkuk, sudut, dan patahan); warna (putih, kuning, dan merah); dan jumlah bulu (bulu berat dan bulu ringan). Sarang baru umumnya berkualitas tinggi dengan bentuk mangkuk, putih, dan tak berbulu karena belum dihuni piyik

Induk walet yang sarangnya dipetik akan segera membuat sarang untuk bertelur. Namun, berdasarkan pengalaman, induk walet menjadi lebih pintar. Sebelum sarang berukuran 2 jari, induk sudah meletakkan telur. Oleh karena itu Albert melarang sarang berisi telur dipanen. “Saya menyebutnya panen selektif yang beretika, panen buang telur terlarang dilakukan karena memotong siklus berbiak,” kata Albert. Sarang itu kelak dipanen saat piyik bisa terbang supaya populasi walet terjaga.

Meningkat 150%

Albert tak takut terlambat panen seperti H Ardan karena setiap bulan ia pasti mengontrol rumah walet sekaligus panen. “Panennya mencicil, tidak seperti orang kebanyakan,” katanya. Menurut Albert, panen bertahap lebih menguntungkan karena hasil berlimpah. Pengalamannya bila panen setiap tiga bulan dianggap 100%, maka pada panen bulanan diperoleh sebagai berikut: bulan pertama 40%, 60% (kedua), dan 40% (ketiga).

Fase berikutnya 30% (keempat), 80% (kelima), dan 60% (keenam). Begitu seterusnya. Volume itu bervariasi mengikuti musim hujan atau musim kering yang menentukan musim kawin. Artinya, panen bertahap jumlahnya sekitar 140-150% ketimbang panen setiap tiga bulan. “Sebetulnya walet senang bila sarang dipanen. Bila dibiarkan saja, sarang menjadi kotor sehingga mereka tidak betah. Tinggal kita menyiasatinya,” tutur Albert.

Peternak yang hendak panen setiap bulan, mesti memperhatikan beberapa syarat. Sebuah rumah walet dapat dipanen bertahap setiap bulan bila jumlah sarang di atas 150 buah atau dihuni 350 walet dewasa. Peternak masih berpeluang panen sarang dengan interval yang lebih singkat, yakni hanya 7-14 hari. Teknik panen supercepat itu diterapkan oleh Kaharudin, peternak di  Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, populasi padat saya panen setiap 2 minggu, bahkan setiap minggu,” katanya. Kaharudin hanya memilih panen tetasan.

Menurut Albert, panen bertahap itu lebih disukai walet karena rumah walet selalu terkontrol. Pada panen tiga bulan umumnya pemilik hanya datang 3 bulan sekali. “Banyak yang sudah terlambat pada periode itu,” kata Albert. Bila ada tikus atau walet mati, bangkainya sudah busuk dan menebar bau. Namun, dengan panen bertahap semua dapat terkontrol baik. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)


Plus Minus Petik Sarang

Keterangan Foto :

  1. Sarang telat di panen rawan terkena kotoran dari induk dan piyik yang menyababkan kualitas menjadi menurun
  2. Sarang telat dipanen menjadi kotor karena dihuni piyik 2 kali.
  3. Sarang yang utuh, putih, dan bersih bernilai tinggi
  4. Dengan panen setiap bulan kondisi rumah walet lebih terkontrol
 

Powered by WishList Member - Membership Software