Seri Walet (185) Nutrisi Sepanjang Hari

Filed in Tak Berkategori by on 01/08/2012 0 Comments

Setahun silam Hendra Arifin mesti panen 140 sarang untuk memperoleh 1 kg liur emas, kini cukup 100-120 sarang.

 

Dahulu bobot sarang di rumah walet Hendra, peternak di Palembang, Sumatera Selatan, memang ringan, rata-rata hanya 7,14 g per sarang. Kini bobot melonjak 10-30% setara 8,3-10 g per sarang. “Saya perhatikan sarang menipis pascawalet menetaskan telur,” kata Hendra. Semula Hendra sengaja memanen sarang tua, yakni berumur 3 bulan agar jumlah liur yang dihasilkan meningkat. Faktanya semakin lama sarang justru menipis.

Menurut pakar walet di Palembang, Sumatera Selatan, Albert Edison, sarang walet terdiri dari 2 lapisan, yakni luar dan dalam. Lapisan luar keras seperti cangkang dan lapisan dalam yang lembut sebagai bantalan. “Prinsipnya  seperti sebuah rumah. Lapisan luar merupakan rangka dan lapisan dalam bagai ranjang yang nyaman bagi telur, piyik, dan induk,” kata Albert. Struktur sarang lapisan dalam seperti bihun yang lembut, tipis, dan empuk.

“Bihun” lembut itu juga berperan sebagai cadangan makanan bagi piyik walet. Sejatinya induk walet memberi pakan kepada setiap piyik yang lapar. Ketika melihat piyik lapar induk walet terbang ke luar sarang mencari serangga. Namun, kerap kali serangga di luar langka sehingga induk butuh waktu lama mengumpulkan pakan. Saat itulah piyik yang kelaparan hebat menggerogoti sarang lapisan dalam.

Drosophila

Kisah itu kini sudah berlalu setelah Hendra menyiapkan pakan tambahan. Di dalam gedung walet ia menyiapkan media tumbuh serangga berupa tepung dan ekstrak buah-buahan plus biang serangga lalat buah Drosophila melanogaster. Hanya dalam 7 hari serangga dari ordo Diptera itu beterbangan dalam gedung walet. Induk walet yang melihat anaknya kelaparan tak perlu ke luar sarang. Ia cukup menangkap serangga dalam gedung walet dan melolohkannya kepada piyik.

“Karena langsung memperoleh pakan, maka piyik terhindar dari kelaparan hebat. Piyik pun tak sempat menyantap bihun emas,” kata Albert. Menurut Harsanto, pemilik rumah walet di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pakan tambahan juga mempercepat pembuatan sarang setelah dipanen. Guratan putih-sebagai pondasi sarang-mulai muncul 2 pekan pascapanen, lazimnya 1 bulan.

Menurut Suparlan, pemilik rumah walet di Bontang, Kalimantan Timur, pakan ekstra tetap berguna di daerah yang masih kaya serangga. Itu karena di alam bebas walet mesti bersaing berburu serangga. “Karena di dalam rumah banyak serangga, mereka jarang ke luar gedung. Peluang walet kabur ke rumah lain pun kecil,” kata Suparlan. Dengan demikian persaingan dengan rumah walet di sekitar pun minimal.

Arief Budiman, pakar walet di Kendal, Jawa Tengah, mengatakan pemberian pakan ekstra bukan hal baru dalam budidaya walet. Umumnya peternak menangkap serangga di alam lalu melontarkannya dengan alat pelontar dalam gedung walet. Teknik lain berupa menghamparkan singkong, tepung tapioka, kacang-kacangan, atau buah-buahan di lantai rumah walet. Bahan nabati itu mengundang serangga hinggap, bertelur, lalu berkembang biak dalam gedung walet. Ada pula yang meletakkan bahan nabati dalam wadah agar tidak berantakan.

Sayang, cara itu merepotkan. Bahan yang dihamparkan juga mengotori rumah walet dan menimbulkan bau akibat pembusukan. “Masuk rumah walet seperti masuk ke penampungan sampah,” kata Harsanto. Jenis serangga yang datang pun tidak diketahui sehingga belum tentu piyik atau walet dewasa menyukainya. Jumlahnya pun kerap terbatas.

Lalat cuka

Menurut Harsanto, semula banyak peternak walet enggan menggunakan pakan tambahan berupa tepung yang diisi biakkan serangga. “Sebutan lalat buah sangat menakutkan. Dikhawatirkan mengganggu lahan pertanian dengan menyerang buah-buahan milik pekebun buah,” kata Harsanto. Namun, menurut Dr Suryo Wiyono, kepala Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, tak semua lalat buah berperan sebagai hama.

Sebutan lalat buah merujuk pada spesies, lalat cuka Drosophila melanogaster dari keluarga Drosophilidae dan true fruit fly dari famili Tephritidae. Lalat cuka bukan hama karena memakan buah yang hampir busuk atau buah terluka. “Ia tak bisa menyerang buah segar yang masih bergantung di pohon,” kata Suryo. Drosophila menyantap cendawan atau ragi pengurai buah-buahan sehingga disebut juga lalat cuka. Yang disebut terakhir banyak menjadi hama seperti genus Bactrocera, Dacus, dan Ceratitis.

Oleh karena itu, menurut Suryo, sepanjang spesiesnya dapat dipastikan Drosophila melanogaster maka makanan tambahan walet aman bagi lahan pertanian di sekitar. Bahkan drosophila menjadi sahabat ilmuwan di laboratorium karena aman, daur hidup pendek, dan memiliki kromosom yang mudah diamati.

Bagi peternak walet daur hidup pendek-kurang dari 2 pekan sejak dari telur hingga akhir hidupnya-membuat produksi serangga terus-menerus dengan jumlah ribuan. Satu imago atau serangga dewasa betina drosophila mulai bertelur pada hari ke-2. Itu setara umur 8 hari sejak telur (lihat ilustrasi). Lalu selama 7-10 hari masa hidupnya, ia menghasilkan 400-500 telur.

Kelebihan lain, menurut Albert, drosophila yang ditumbuhkan pada media tepung, ragi, dan ekstrak buah-buahan pun tidak menimbulkan aroma busuk sehingga rumah walet terhindar dari bau. Drosophila juga disukai piyik ketimbang serangga lain karena bertubuh lunak. Itulah jasa lalat cuka bagi para peternak si liur emas. (Ridha YK, kontributor Trubus Kalimantan Selatan)

Keterangan Foto :

  1. Pakan di luar rumah walet kian langka sehingga butuh pakan tambahan
  2. Kacang-kacangan salah satu bahan nabati yang dapat mengundang serangga
  3. Dropsophila bertubuh lunak sehingga disukai piyik
 

Powered by WishList Member - Membership Software