Seri Walet (177) Rumah Baru Burung Dolar

Filed in Seri walet by on 30/11/2011

Langit mulai meremang kala ribuan walet melayang-layang di atas Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Mereka berputar-putar di atas Duta Mall dan Hotel Banjarmasin di bilangan Jl. Ahmad Yani. Pun di atas Jalan Sudimampir dan Jalan Cempaka Besar. Di dua jalan terakhir, banyak rumah toko bersalin rupa menjadi rumah walet. Cericit walet asli berpadu dengan suara rekaman dari pemanggil walet pun menjadi bunyi yang akrab di telinga masyarakat Banjarmasin.

Dua tahun terakhir Collocalia fuciphaga itu bagai menyerbu Kota Seribu Sungai. Itu sejalan dengan maraknya migrasi walet di tanahair dalam lima tahun belakangan. Selama periode itu banyak walet “hijrah” dari Jawa ke Kalimantan, Sumatera, hingga Malaysia. Musababnya, populasi di Jawa kian padat sementara ketersediaan pakan alami makin langka. Sawah dan hutan sebagai penyedia serangga pakan walet banyak menghilang. Pun polusi udara yang kian mengganggu, membuat walet mencari rumah di luar Jawa.

Posisi Banjarmasin di bagian selatan Pulau Kalimantan benar-benar strategis. Walet yang bermigrasi dari Pulau Jawa ke Kalimantan pasti menemukan Kota Tata Situ itu sebagai wilayah pertama yang kaya pakan.

Gua Temulawang

“Di sini walet bagai menemukan surga,” kata Harsanto, pemilik Jakarta Walet Centre, konsultan rumah walet di Banjarmasin. Kota Banjarmasin dialiri 2 sungai besar: Barito dan Martapura dengan daerah aliran sungai (DAS) berupa lahan rawa yang maha luas. Di atas wilayah perairan itu banyak beterbangan serangga air yang menjadi pakan walet. Pasar-pasar tradisional yang tumbuh di tepi sungai juga menyisakan sampah organik sebagai tempat hidup serangga pakan walet.

Populasi walet di Banjarmasin juga berasal dari migrasi walet gua asal pulau-pulau di Kabupaten Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Berjarak  350 km ke arah timur Banjarmasin  terdapat Gua Temulawang yang terkenal sebagai gua walet sejak era kolonial. Tepatnya di Desa Bangkalandayak, Kecamatan Kelumpanghulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Gua sepanjang  4 km itu dialiri sungai selebar 6 m dengan kedalaman 3 m. Butuh perahu motor tempel untuk menyusuri gua.

Pada era 1970-1980-an produksi sarang burung Gua Temulawang mencapai  1 ton sekali panen. Kini berkisar 350-500 kg per panen. Pemanenan dilakukan tiga kali setahun. Dengan harga sarang walet gua hitam Rp2-juta-Rp3-juta per kg, setiap tahun gua itu memberikan minimal Rp700-juta untuk pengelola: perusahaan dari Jakarta yang melibatkan masyarakat setempat.

“Makanya sejak zaman Belanda, Temulawang disebut sebagai gua termahal,” kata Ardian, pemilik rumah walet di Kotabaru, Kalimantan Selatan. Sebagian walet gua itu bermigrasi hingga ke Banjarmasin.

Belum ada catatan resmi jumlah rumah burung penghasil devisa itu di Banjarmasin. Namun, Harsanto menduga rumah walet di Banjarmasin kini mencapai 600 buah. “Sepuluh tahun lalu paling hanya  100 rumah,” kata konsultan walet selama 10 tahun itu. Burung penghasil liur emas itu banyak memilih gedung tua yang lembap di tepi sungai dan pasar. Kehadiran “tamu tak diundang” itu membuat pemilik gedung mengalah pergi karena berharap memanen sarang berharga jutaan rupiah.

Mereka lalu menambah ketinggian gedung tua dan merenovasinya menjadi rumah  walet  permanen.  Jendela  gedung ditutup agar kondisi di dalam bertambah gelap. Di bagian lebih atas dibuat pintu masuk berukuran 1 m x 2 m. Kelak setelah walet mengenali posisi pintu masuk dan banyak   bermukim,  pintu  masuk diperkecil agar  intensitas cahaya berkurang.

Pengamatan Harsanto, lazimnya rumah walet baru di Banjarmasin mulai disinggahi setelah   setahun.  Pada tahun ke-2 dari sebuah rumah walet berukuran 6 m x 9 m dengan 3 lantai mulai dipanen 1-5 kg sarang per 3 bulan. Produksi terus meningkat seiring kian tingginya tingkat hunian. Pada rumah walet berumur di atas 5 tahun dengan populasi sekitar 21.000 burung misalnya, mampu memproduksi 75 kg sekali panen setara 2,25 kuintal setahun.

Banyak juga yang membangun rumah walet dari nol. “Penduduk setempat membangun rumah walet dengan sangat sederhana. Dinding dari papan kayu dan atap rumbia. Rumah walet seperti itu jarang ditemukan di Jawa,” kata Muwaffaqin Haikal, konsultan walet di Lamongan, Jawa Timur. Toh, dengan menjaga kondisi iklim sesuai dengan habitat si liur emas, rumah walet sederhana itu pun bisa menghasilkan rupiah. Buktinya di Kabupaten Hulu Sungai Utara, rumah-rumah kayu yang disinggahi ribuan walet dengan mudah ditemui.

Luar kota

Menjamurnya rumah walet memang meluas hingga ke daerah di luar Banjarmasin, seperti Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, dan Hulu Sungai Selatan. Harsanto menduga jumlah rumah walet di seluruh Kalimantan Selatan minimal 1.500 buah. Jumlah itu meningkat 50%  ketimbang  5  tahun silam. “Di luar kota jauh lebih prospektif,” kata Harsanto. Sebab, jarak antarrumah walet berjauhan sehingga kompetisi mengundang walet sangat minimal.

Prospek itulah yang ditangkap para pemain dari luar Kalimantan Selatan. Sebut saja pengusaha dari Medan, Lampung, Jakarta, dan Surabaya. “Belakangan banyak pemain lama di Jawa dan Sumatera membangun rumah walet di Kalimantan,” kata  H  Ahmad  Suyuti,  praktikus walet di Pati, Jawa Tengah. di Kalimantan Selatan rumah walet bisa didirikan jauh dari pemukiman penduduk sehingga tidak mengganggu. Mereka berharap di rumah baru, Collocalia fuciphaga lebih produktif menghasilkan liur emas. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

 

  1. Harsanto : Kalimantan Selatan berpotensi menjadi sentra walet karena 50% wilayahnya berupa lahan rawa yang kaya pakan
  2. Setiap sore langit di kawasan Jalan Sudimampir dan Jalan Cempaka Besar, Kota Banjarmasin, dipenuhi ribuan walet yang hendak masuk ke rumah walet
  3. Kota Banjarmasin diapit 2 sungai besar  dengan daerah aliran sungai berupa rawa, hunian serangga pakan walet
  4. Rumah walet nonpermanen berdinding kayu dan atap rumbia
  5. Rumah walet terus tumbuh hingga ke luar kota seperti Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, dan Hulu Sungai Tengah. Total jenderal minimal 1.500 rumah walet berdiri di Kalimantan Selatan
 

Powered by WishList Member - Membership Software