Seri Walet (176) Perang Cericit di Bumi Laskar Pelangi

Filed in Seri walet by on 29/11/2009 0 Comments

 

Suara cericit pada tengah malam buta itu memang tak lazim. Harap mafhum, Collocalia fuciphaga itu bukan burung nokturnal alias aktif pada malam hari, tetapi aktif di siang hari atau diurnal. Namun, tak hanya bangunan itu yang mengeluarkan suara cericit lewat tweeter. Rumah-rumah walet lain di radius 50—100 m pun juga berlaku serupa: menyalakan cakram padat (CD) pemanggil walet bahkan hingga lewat tengah malam.

Bagi beberapa orang yang baru pertama kali mengunjungi Manggar, suara cericit itu mengganggu. Contoh Arif Gunawan—nama samaran–yang menginap di sebuah hotel di Jalan Pegadaian. Ia datang ke kecamatan berjuluk Kota 1001 Warung Kopi itu untuk menyelam di perairan sekitar Pulau Buku Limau. Posisi hotel tempat Arif menginap berjarak 25 m dari bangunan walet 4 lantai itu. “Suaranya bising, jadi tidak nyaman kalau duduk-duduk di luar,” kata pelancong dari Jakarta itu.

Suara cericit kencang itu keluar dari tweeter-tweeter corong terbuka yang dipasang di lubang masuk dan keluar walet berukuran 80 cm x 60 cm. Satu pintu keluar-masuk bisa memuat empat tweeter yang umumnya diletakkan persis di bagian bawah lubang. Pantas dengan memakai empat tweeter suara cericit dapat menggema hingga berjarak 50 m. “Di sini sudah seperti perang suara,” kata Ali Cin—nama samaran—yang memiliki rumah walet 3 lantai di dekat Pasar Lipat Kajang itu.

Bangunan baru

Perang suara cericit yang terjadi di kabupaten yang sohor lantaran menjadi lokasi syuting film Laskar Pelangi itu terjadi sejak 2006–2007. Menurut Aha, warga di Jalan Pelabuhan, itu terjadi seiring munculnya rumah-rumah walet baru. “Rumah-rumah walet di sini dibangun berdekatan. Jadi berebut memikat walet dengan CD pemanggil,” ujar pemilik bangunan walet 2 lantai itu.

Menurut Harry K Nugroho, konsultan walet dari Eka Walet Center di Kelapagading, Jakarta Utara, perang cericit itu mengindikasikan kondisi walet sebenarnya. “Bukan walet yang mencari rumah, tetapi rumah yang mencari walet,” ujarnya. Artinya secara keseluruhan populasi walet di Kecamatan Manggar sebetulnya terbilang sedikit. Itu tampak dari produksi rumah walet. Abidin Suherman alias Atet, misalnya, sudah hampir 3 tahun ini belum pernah sekalipun memetik sarang. Padahal Atet sudah mempersenjatai bangunan walet 2 lantainya dengan enam tweeter luar.

Lain lagi yang dialami Ali Cin. Meski bangunan miliknya sudah berumur lebih lama sekitar 8 tahun, produksinya sangat sedikit, berkisar 0,5—1 kg per enam bulan. Padahal, di awal pembangunan rumah waletnya, menginjak tahun ke-2 ia bisa memetik 5—10 kg sarang. “Persaingannya antarrumah walet sangat ketat,” kata pria 45 tahun itu.

Kondisi itu sebetulnya sudah diprediksi oleh praktisi walet. Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah, menyebutkan perubahan hutan menjadi tambang membuat daerah Belitung tidak berprospek lagi menjadi sentra walet. Padahal, dengan hutan lestari, sumber pakan walet berupa serangga bakal terjamin. “Kalau pembangunan rumah walet masih terus berjalan, kecil kemungkinan akan terisi karena walet akan memilih gedung lama yang sudah dihuni walet dalam jumlah besar. Itu berhubungan dengan rasa aman,” ujar pengelola situs duniawalet.com itu.

Dari pengamatan Trubus, pembangunan rumah walet di Kecamatan Manggar terus berjalan. Di sepanjang Jalan Sudirman, misalnya, tampak 7—9 rumah walet yang tengah dibangun. Rumah-rumah walet itu minimal terdiri atas bangunan 3 lantai. “Sebagian masih yakin bila investasi walet masih menguntungkan,” ujar Atet.

Sedikit

Penyusuran Trubus hingga di Kecamatan Gantung menunjukkan hasil berbeda. Di kecamatan yang dihuni 27.282 jiwa pada 2008 itu hanya sedikit terlihat bangunan walet. Itu pun bangunan sederhana satu lantai. Kondisi alam Gantung cukup mendukung pengembangan walet. Sebagian daerah yang berada di dekat pantai itu masih memiliki hutan yang hijau.

Produksi sarang dari rumah-rumah itu memang belum diketahui. Menurut Ajang, warga Kampung Batupenyu, Kecamatan Gantung, bangunan walet di daerahnya baru bermunculan pada awal 2009. “Orang di sini belum terlalu peduli dengan walet. Mereka masih suka bekerja tambang,” kata Ajang yang menyebutkan rumah-rumah itu dimodali pengusaha dari Kecamatan Manggar.

Pengusaha walet seperti Atet dan Ali Cin sepakat bahwa saat ini tidak mudah memanen sarang walet di Belitung Timur. “Tapi kami yakin bisa panen,” kata Atet yang sudah menggelontorkan dana hingga Rp200-juta itu. Panen sarang itu bisa terjadi bila hutan yang tersisa benar-benar dijaga sebagai sumber pakan. (Dian Adijaya S)

 

Powered by WishList Member - Membership Software