Seri Walet (175) Anjlok Akibat Migrasi

Filed in Seri walet by on 01/10/2011

Bangunan-bangunan walet yang tampak megah di Pringsewu kini terasa senyap. Hal serupa juga tampak di sentra lain seperti Kabupaten Pesawaran dan Metro. Yang masih terdengar hanya suara pemancing walet dari cakram padat. Padahal mulai 2000 Lampung menyimpan daya tarik sebagai salah satu tujuan bagi investor walet.

Menurut Marwanto, konsultan walet di Pringsewu, Lampung, sejak 6 bulan terakhir usaha walet di kota penghasil kopi itu lesu. Populasi si liur emas itu terus menurun. “Lima tahun lalu satu rumah dihuni 4.000 ekor, kini berkisar 1.500-1.800 ekor,” kata Marwanto. Penurunan populasi walet itu berimbas pada merosotnya produksi sarang.

Produksi cekak itu diamini Rahmat Hidayat, pengepul sarang walet di Kabupaten Pringsewu, Lampung. “Beberapa bulan terakhir produksi sarang seret,” kata Rahmat. Biasanya setiap dua minggu ia mampu mengirim di atas 20 kg sarang ke eksportir di Jakarta untuk pasar Hongkong. Namun, kini Rahmat sulit memperoleh jumlah sebesar itu lagi. “Bahkan sejak beberapa bulan terakhir sudah tidak ada panen raya,” tambah Rahmat.

Polusi

Menurut Harry K Nugroho, konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, banyak faktor yang berkaitan sehingga populasi walet di Lampung menurun. Beberapa faktor penting itu adalah menipisnya sumber pakan, polusi, dan terjadi migrasi.

Harry menuturkan Collocalia fuciphaga sensitif bila jumlah pakan alami berkurang. Kemarau hebat yang terjadi selama 4 bulan terakhir di Lampung membuat sumber pakan walet berkurang. Belum lagi alih fungsi lahan menjadi perumahan. Makanya banyak walet yang berpindah tempat. “Walet muda bisa pindah hingga radius 100 km untuk mencari pakan,” kata Harry.

Tempat baru yang berlimpah sumber pakan membuat walet enggan kembali. Itu sebabnya banyak rumah walet di Lampung minim penghuni. Menurut Drs Arief Budiman, praktikus walet di Kendal, Jawa Tengah, tingkat kesuburan tanah turut andil. Lampung misalnya, kurang mampu menyediakan pakan walet di musim kemarau karena tanahnya tak begitu subur. Kalaupun walet bertahan proses pembentukan sarang berjalan lambat. “Normalnya ukuran sarang sekitar 2 cm setelah 1-2 bulan, tetapi kini dalam 4 bulan ukuran sarang baru 1 cm,” ujar Marwanto.

Lain lagi dengan polusi. Menurut Harry, tingkat polusi di sentra-sentra walet di Lampung kini semakin meningkat. Hal itu tak lepas dari menjamurnya industri serta kendaraan bermotor. Padahal, walet menyukai lingkungan yang bersih seperti di habitat aslinya.

Menurut Arief, populasi rumah walet terlalu banyak di satu tempat juga membuat merosotnya populasi walet. “Populasi rumah walet di sentra terlalu tinggi,” kata Harry. Hal itu mudah dijumpai di Metro, Pringsewu, dan Pesawaran. Bangunan tampak hampir menempel satu sama lain. Imbasnya banyak peternak mengeluhkan sulit memancing burung masuk.

Kurang regenerasi

Sistem panen rampasan juga mendorong anjloknya populasi walet. Menurut Marwanto, banyak pengusaha walet melakukan panen rampasan dan tidak memperhatikan regenerasi walet. “Sekarang yang paling banyak terlihat adalah walet tua,” katanya. Jadi pantas bila sarang-sarang baru dari walet muda semakin jarang dipetik.

Menurut H. Fatich Marzuki, pakar walet di Surabaya, Jawa Timur, kondisi perwaletan di Lampung agak memprihatinkan. “Pengelolaan walet tidak dilakukan secara arif dan bijaksana,” katanya. Contohnya, panen semestinya dilakukan menunggu anak walet belajar terbang. Hal penting lain adalah banyak rumah walet di Lampung yang kurang menjaga kebersihan dan tidak memperhatikan kondisi mikro di gedung sehingga walet tidak betah hidup. “Walet banyak yang tidak kembali ke rumah,” kata Marwanto. Akibatnya banyak pengusaha walet di Lampung yang menjual rugi bangunan waletnya.

Toh tidak semua rumah walet di Lampung sepi penghuni. “Pemilik gedung yang mampu menjaga iklim mikro dan sumber pakan dengan baik, jumlah waletnya tetap banyak dan produksinya baik,” ujar Marwanto. Itu terlihat di Lampung Utara, terutama Kecamatan Kotabumi Kota. Maklum daerah itu masih banyak tempat kebun yang menyediakan pakan walet. (Susirani Kusumaputri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software