Seri Walet (170): Tweeter Sehadap, Walet Menginap

Filed in Seri walet by on 30/06/2011

 

Berharap mendulang liur emas,  Mustafa di Bontang, Kalimantan Timur, mendirikan bangunan  4 lantai setinggi hampir 20 m. Rumah walet berdinding beton itu berlapis semen halus di dalamnya untuk mempertahankan kelembapan. Setelah pembangunan rampung, Mustafa menuangkan aroma pemikat ke dinding. Ia juga menempatkan sound system yang disetel agar berbunyi sepanjang hari mulai 05.00 – 18.00 WITA.

Toh, jerih payah Mustafa tak kunjung berbalas. Jangankan bersarang, Collocalia fuciphaga itu ogah singgah. Mereka cuma berputar-putar sejenak di sekitar rumah, lalu terbang menjauh. Kondisi itu membuat Mustafa kembali menuangkan cairan pemikat, lalu ia menambahkan tweeter di setiap lantai. ‘Saya juga memakai cakram suara baru,’ katanya. Sayang, walet tak kunjung bersarang. Setahun mencoba, pengusaha kayu itu menyerah dan membiarkan rumah waletnya tak terisi.

Feedback

Menurut Drs Arief Budiman, konsultan walet di Weleri, Kendal, Jawa Tengah, peluang mengundang walet masuk rumah di Kalimantan – jauh lebih tinggi ketimbang di Jawa. ‘Di sana masih banyak lahan yang menjadi habitat serangga, pakan favorit walet,’ kata Arief. Efeknya, populasi walet di luar Jawa lebih tinggi sehingga mengundang walet lebih mudah. Dengan sedikit teknik, menurut Arief, walet bakal masuk pada hari ke-3 pascaperlakuan dan mulai bersarang seminggu kemudian.

Namun, keadaan itu butuh syarat. ‘Pastikan kelembapan sekitar 80 – 90% dan suhu kurang dari 30oC,’ kata Harry K Nugroho MBA, praktisi dan konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara. Yang tidak kalah penting, bagian dalam rumah mesti bebas hama seperti tikus, semut, kecoak, atau kelelawar.

Di rumah walet milik Mustafa, menurut Ade Yamani, ada beberapa penyebab walet enggan bersarang, seperti letak tweeter berhadapan sehingga menimbulkan feedback. Feedback adalah proses interferensi suara dengan frekuensi berdekatan sehingga mengurangi kualitas bunyi. ‘Bunyi pengundang menjadi terdengar aneh sehingga walet tidak tertarik,’ kata konsultan walet di Cibuaya, Karawang, Jawa Barat, itu.

Masalah lain, bunyi yang digunakan tidak tepat. Menurut Ade, bunyi pemanggil berbeda nada dengan bunyi inap. Bunyi inap didominasi suara piyik untuk memancing walet bermalam lalu membuat sarang karena mengira banyak walet lain bersarang dan mengasuh piyik. Sedangkan bunyi panggil lebih dominan bernada melengking, seolah-olah ada walet lain tengah terbang berputar mencari tempat bersarang di rumah.

Sebab itu pula pembenahan perangkat audio menjadi prioritas pertama untuk mengundang walet masuk. Ade yang menjadi konsultan lantas memodifikasi perangkat pengeras suara dengan menyingkirkan kanal untuk nada rendah alias bass. ‘Bass memicu munculnya desis atau noise,’ kata penemu teknik sarang karton itu. Noise menjadikan nada terdengar tidak natural sehingga tidak optimal memikat walet.

Untuk mengatasinya, Ade menutup volume nada bass sampai minimum, lantas pengatur volume suara model putar dilepas. Sebagai gantinya, Ade memasang pengatur volume model trimmer berkapasitas sama sehingga volume nada bass tetap bisa diatur dan tak mudah berubah. Toh, menurut Ade, cara itu tidak mutlak. ‘Tanpa melepas pengatur volume pun nada bass bisa dihilangkan,’ katanya. Caranya, tweeter hanya dihubungkan dengan jack output nada tinggi alias treble dari penguat suara. Sedangkan jack output nada bass tidak dipasangi apa pun.

Kemunculan bunyi feedback dicegah dengan menempatkan 4 tweeter berjajar menghadap ke arah datangnya walet di setiap ruangan. Sebanyak 4 tweeter juga ia tempatkan membentuk segiempat di ambang ruang utama, menghadap ke roving area. Tujuannya memancing walet dari roving area masuk ke ruang utama. Sedangkan di kedua tepi pintu masuk walet berukuran  100 cm x 25 cm, Ade menempatkan masing-masing  sebuah  tweeter.  Maklum,  meski bunyi panggil dari dalam rumah terdengar hingga radius 50 m, ‘Walet perlu dibimbing mendekati pintu masuk agar tidak bingung,’ kata Ade.

Treble

Terakhir, ia menyambung semua tweeter dengan penguat suara 100 w. Sumber bunyi berasal dari pemutar musik yang berisi rekaman berbagai bunyi panggil dan inap walet dari memori flash. Agar lebih efektif, Ade menyarankan perbedaan pengaturan antara bunyi panggil dan inap. Bunyi panggil menggunakan bukaan treble 9, sedangkan bunyi inap cukup bukaan treble 3. Volume bunyi pun mesti pas agar walet tidak keluar lagi setelah sampai roving area. Jika walet masuk lalu berputar-putar di roving area, itu berarti volume sudah tepat.

Selain bunyi panggil, ruangan pun mesti dikondisikan agar walet yang masuk mau menginap. Ade melapis dinding bagian dalam dengan semen halus tanpa cat untuk mempertahankan suhu. Sedangkan kelembapan ruangan dipertahankan dengan menaruh guci-guci besar penuh air di dekat tembok. Cara itu terbukti berhasil:  ia menempatkan sarang kertas di beberapa titik. Setelah semua dibenahi, walet yang semula hanya lewat mulai menghampiri rumah walet milik Mustafa. Dalam  2 minggu, beberapa sarang kertas mulai terisi. Memasuki bulan ke-4, bangunan  4 lantai yang terbengkalai hampir 2 tahun itu sudah terisi 76 sarang. Setelah kembali ke Jawa, Ade tergelitik melakukan hal serupa. Sebuah rumah 4 ruangan di tepi sawah di Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, disulapnya menjadi hunian walet. Hanya dalam 15 hari usai renovasi, sudah 40 walet menginap. ‘Masih banyak yang terbang berputar dan mulai menginap,’ kata Ade.    (A. Arie Raharjo/Peliput: Karjono)

 

Powered by WishList Member - Membership Software