Seri Walet (168) Lirik Potensi Walet di Bima

Filed in Seri walet by on 02/05/2011

 

Itulah yang disaksikan Hary Kusumo Nugroho, konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, pada April 2011. “Itu satu dari empat rumah walet berumur 3 – 4 tahun yang sudah berproduksi,” kata Hary. Saat ini total ada sekitar 9 rumah walet di Kota Bima yang di antaranya terletak di Jalan Flores dan Jalan Sumbawa. Rata-rata bangunan walet itu berupa ruko atau rumah tinggal yang dialihfungsikan menjadi tempat budidaya walet. “Suasananya mirip di Kalimantan dan Lampung. Lantai bawah sebagai tempat usaha atau rumah dan lantai atas jadi rumah walet,” tambah ayah 3 anak itu.

Sejatinya kedatangan Hary ke Bima memenuhi undangan calon pengusaha walet di sana. “Ia ingin mengetahui lokasi yang cocok untuk membangun rumah walet,” ujar penghobi jalan-jalan itu. Tepat pukul 11.30 WIT Hary tiba di Bandara Sultan Muhammad Sallahudin, Bima, NTB. Tanpa menunggu lama, ia langsung berkeliling kota untuk mengetahui perkembangan walet setempat.

Beruntung cuaca pada siang itu mendung sehingga Hary tak perlu menunggu hingga petang untuk melihat populasi Collocalia fuchipaga yang banyak beterbangan memenuhi langit-langit kota. Populasi walet di sana berkembang karena sumber pakan tersedia melimpah. Di Bima kelestarian hutan terjaga baik. Di belakang kotanya ada perbukitan yang ditumbuhi banyak pohon. “Di sana juga terdapat areal pesawahan yang luas dan banyak sungai,” kata Hary.

Struktur bangunan

Lokasi Bima yang dekat laut menguntungkan untuk tempat budidaya walet. Tanpa dipancing, walet mudah masuk ke dalam rumah. Itu dibuktikan Hary ketika membuka jendela di lantai 3 milik Andreas, calon pengusaha walet. “Begitu jendela dibuka langsung ada walet yang masuk,” ujarnya. Tak heran bila Hary langsung menyarankan agar lantai teratas itu dijadikan rumah walet karena melihat lokasi rumah tersebut cukup berprospek.

“Faktor pertama dalam membangun rumah walet adalah lokasi. Bila lokasinya sudah menunjang kemungkinan besar walet masuk tanpa dipancing,” kata Hary. Faktor kedua, struktur bangunan. Bentuk dan model rumah walet sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan walet secara mikro dan kondisi lingkungan makro sekitar. Di Bima sejauh ini bangunan walet tak berbeda jauh dengan di Jawa.

Menurut Philip Yamin, konsultan yang banyak menangani pembangunan rumah walet, untuk mendapatkan hasil optimal, rumah walet sebaiknya memenuhi persyaratan iklim mikro dan tata letak ruangan harus mengikuti standar habitat walet  di  alam. Contoh,  suhu  berkisar 26 – 28oC, kelembapan 80 – 95%, dan kondisi cahaya ruang remang-remang.

Hary menambahkan aksesori juga perlu diperhatikan dalam membangun rumah walet. Contohnya sound system, pw super, humidifier, ventilasi, dan tweeter. “Humidifier diperlukan bila kelembapan di dalam ruangan belum tercapai,” kata Hary.  Jadi, sifat aksesori sebagai sarana pendukung. Sejauh ini rumah walet di Bima memasang pemancing suara untuk mengundang walet datang.

Pancing

Hary mengungkapkan bahwa meski populasi walet di Kota Bima banyak, pengusaha tetap harus membuat rumah walet sebagai rumah yang aktif. Caranya memasang tweeter untuk memancing walet datang. “Saat ini tak bisa mengandalkan rumah walet pasif karena jumlah rumah walet semakin banyak. Akibatnya persaingan semakin ketat,” kata Hary. Speaker pemanggil walet ditempatkan di atas atau di bawah lubang keluar-masuk dan di tengah ruangan agar bisa terdengar di semua sudut.

Perkembangan walet di Kota Bima memang belum semaju sentra-sentra lain. Itu lantaran belum banyak investor yang masuk ke sana. “Untuk menuju ke Bima harus naik pesawat 2 kali dari Jakarta. Dan pesawat ke Bima pun tak setiap hari ada sehingga ia jarang dilirik investor asal luar pulau,” kata Hary yang sering berburu lokasi-lokasi potensial untuk walet.

Padahal, menurut Hary, Kota Bima yang memiliki luas wilayah 222,25 km2 itu cocok untuk pengembangan walet. Bayangkan di utara, timur, dan selatan kota dikelilingi hutan yang menyediakan serangga sebagai sumber pakan. Pun letak Kota Bima yang dekat pantai dan banyak dikelilingi sungai. Dijamin walet tidak kekurangan pakan. Kualitas sarang walet yang dihasilkan pun sama dengan sarang asal Lampung dan Jawa.

Jeli

Saat ini pengusaha walet harus jeli-jeli mencari lokasi baru. Maklum, sentra-sentra walet saat ini sudah padat sehingga banyak rumah yang produksi sarangnya turun. Contohnya di Gresik dan Sedayu, Jawa Timur, yang kini mengalami penurunan produksi hingga tinggal 20%. Di sentra-sentra lain di Jawa juga sama. Kini produksi berkurang sekitar 50% dari semula 80 ton/tahun pada 1998.

Salah satu penyebab penurunan itu lantaran lingkungan yang tidak mendukung lagi untuk walet dan kurangnya pengetahuan pemilik akan cara perawatan dan mempertahankan populasi dari pancingan rumah walet lain. “Kini bukan walet yang mencari rumah, tapi sebaliknya. Rumah walet di Jawa sudah terlalu banyak,” ungkap Hary. Makanya lumrah dijumpai rumah walet yang kosong.

Semua tak lepas dari sumber pakan. Semakin besar populasi walet, kompetisi pakan semakin besar karena dari waktu ke waktu ketersediaan pakan berkurang. Untuk memperoleh pakan, walet harus terbang lebih jauh ke daerah lain. Padahal idealnya walet terbang mencari pakan pulang-pergi tidak lebih dari 25 km. Lebih dari itu energi untuk menghasilkan liur terkuras sehingga produksi sarang menjadi kecil.

Menurut  Lazuardi  Normansyah, konsultan walet di Jakarta Barat, dalam kondisi sulit pakan, walet remaja akan pindah ke daerah lain yang masih melimpah. Oleh karena itu sebaiknya menurut Hary pengembangan walet diarahkan ke daerah pedesaan atau luar sentra. Sebut saja ke Indonesia bagian timur seperti Makassar, Manado, Mataram, dan Bima. Daerah itu dipilih karena memiliki persyaratan: habitat yang sesuai bagi walet dan sumber pakan melimpah. (Rosy Nur Apriyanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software