Seri Walet (162) Nusapenida Sriti Berujung Walet

Filed in Satwa by on 04/11/2010 0 Comments

Awalnya Mergik tidak mengetahui kawanan burung yang masuk itu penghasil rupiah. Setiap kali Collocalia esculenta itu datang, Mergik menyambut dengan kibasan sapu. ‘Mereka mengganggu pemandangan,’ ujar kontraktor properti di Nusapenida itu. Lantaran jumlahnya masih dalam hitungan jari, kawanan sriti yang wara-wiri di plafon mudah diusir.

Meski diusir kawanan sriti itu kerap kembali. Belakangan jumlahnya bahkan semakin banyak. Mereka pun membuat sarang dan berkembangbiak di ruangan itu. Mergik yang kewalahan terpaksa harus berbagi tempat dengan sriti. Beruntung Mergik sempat berkonsultasi dengan seorang teman.

‘Jangan diusir. Sarangnya laku dijual,’ kata pemilik CV Panca Tunggal itu menirukan ucapan sang teman. Ruangan itu lantas dibiarkan dan tidak diubah. Mergik hanya menambahkan 12 lagur yang dipasang berjejer di plafon untuk memperbanyak jumlah sarang.

Betul saja, Mergik kemudian dapat memetik 1 kg sarang pada panen perdana. Kini produksinya naik menjadi 5 kg per panen. Soal pasar, Mergik tak perlu repot. Seorang pengepul dari Denpasar langsung datang untuk menampung seluruh sarang sriti itu.

Satu-satunya

Menurut Bayu Wirayuda, kepala Bird Sanctuary Nusapenida, rumah Mergik merupakan satu-satunya tempat tinggal warga yang dimasuki sriti. ‘Kebanyakan burung itu tinggal dan bersarang di gua-gua,’ ucap Bayu. Sebetulnya penampilan luar rumah Mergik sama seperti tetangganya. Rata-rata rumah berlantai 1 beratapkan genting.

Yang membuat istimewa adalah bentuk rumah menyerupai huruf U. Di bagian tengah merupakan halaman beratap langit. Nah, ruang kerja Mergik terletak di bagian depan rumah. Ada lubang angin berukuran 80 cm x 50 cm di salah satu sisi ruang kerja yang menghadap ke halaman. Lubang angin itu yang menjadi pintu masuk sriti. Di rumah lain, jarang memiliki lubang angin. Kalau pun ada umumnya disekat sehingga sriti sulit masuk.

Sriti betah bersarang karena aliran udara dalam ruangan berjalan baik. Udara keluar-masuk melalui jendela di sisi depan rumah. Sriti seperti halnya walet senang berada di daerah dekat laut. Nah, tembok belakang rumah Mergik langsung berhadapan dengan bibir pantai. Di sepanjang bibir pantai itu para tetangganya menjemur rumput laut. Pepohonan besar dan rimbun berada di sepanjang jalan. Semua itu membuat sriti mudah mencari pakan dan bahan pembuat sarang.

Putar telur

Pada 2011 Mergik berencana mengubah rumah sriti menjadi tempat tinggal walet. ‘Akan ditinggikan sampai 4 lantai. Lantai dasar tetap dibiarkan untuk sriti,’ kata Mergik. Untuk menghadirkan walet Mergik melakukan cara putar telur. Caranya mengganti telur sriti dengan telur walet. Setelah menetas sriti yang akan mengasuh piyik walet. Seluruh bangunan akan diubah menjadi bangunan walet, setelah populasi walet bertambah.

Putar telur wajib dilakukan di Nusapenida. Menurut Hary K. Nugroho, konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, Bali dan 3 pulau terpisah lainnya – Nusapenida, Nusalembongan, dan Nusaceningan – mayoritas dihuni sriti. ‘Populasinya hampir 70% sriti,’ kata pemilik Ekawalet Center itu. Burung penghasil sarang sapi itu senang mengitari pohon beringin untuk memakan serangga yang keluar dari buah beringin yang busuk.

Untuk menciptakan populasi walet di Bali cukup mudah. Alasannya sederhana, udara di Pulau Dewata itu bersih. Suhu udara ideal, 28 – 310C, dengan kelembapan 80%. Yang penting, sawah yang menjadi tempat tinggal serangga pakan walet ada di mana-mana.  Telur walet pun mudah diperoleh dari luar daerah seperti Surabaya, Makassar, dan Jakarta. Harganya Rp10.000/pasang.

Walet gua

Sebetulnya Mergik bisa saja tidak melakukan putar telur. Terpisah jarak 10 m dari Nusapenida terdapat Pulau Nusaceningan. Di Nusa Kecil – nama lain ceningan karena ukurannya 2 kali lebih kecil daripada Nusapenida – terdapat Gua Melawang. Gua itu menjadi objek wisata karena setiap pukul 16.00 WITA ribuan bahkan jutaan walet terbang bergerombol bak menghitamkan langit. Di dalam gua, walet-walet itu bersarang.

Potensi itu yang dilirik Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan. Boedi melakukan konsesi selama 10 tahun sejak 1995 – 2005 untuk mengelola sarang walet di Gua Melawang. ‘Saat itu produksinya mencapai 50 kg per panen,’ kata Boedi yang memakai payung PT Jaya Alam Semesta. Sayang, usai konsesi perlahan produksi sarang melorot hingga menjadi 10 kg per panen.

Menurut Boedi penyebab penurunan itu adalah pengelolaannya tidak mengikuti kaidah biologi secara benar. Salah satunya dengan memetik habis seluruh sarang. Kondisi itu terjadi karena sulitnya pemetik sarang masuk ke dalam gua. Maklum, sarang dapat dipetik setelah air laut surut. Itu sebabnya meski di dalam sarang masih terdapat telur dan piyik, tetap saja dipanen. Maka dari itu walet tidak sempat berkembang. Panen yang sembarangan membuat walet kabur. Nah, bila kabur, daerah yang dituju boleh jadi Nusapenida yang memiliki iklim mikro dan makro seperti di Gua Melawang. Jadi jangan heran bila ke depan Mergik bisa memanen sarang walet gua di ruangannya. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software