Seri Walet (160): Jernih Tahan Lama

Filed in Seri walet by on 05/09/2010 0 Comments

 

Suara dari tweeter yang bagus memancing walet datangJika CD player rusak, suara yang keluar di tweeter berubah seperti suara angin ribut. ‘Suaranya terdengar shett…shett..shett…Itu membuat walet takut dan kabur,’ ujar peternak di Kampung Laut, Kecamatan Kualajambi, Jambi. Akibatnya hanya 50% populasi walet di rumah 3 lantai berukuran 5 m x 10 m itu yang bertahan. Sisanya, kabur ke tempat lain. Itu sebabnya selama setahun produksi sarang mandek di angka 0,5 kg/2 bulan.

Setelah beralih memakai pemutar berteknologi SSP, mulai terlihat perubahan. Pemutar bekerja baik meski hidup selama 24 jam. Hal itu membuat suara yang keluar dari tweeter ikut stabil. Efek positifnya, ‘Walet muda terpancing masuk ke rumah,’ kata Usman yang sebelumnya rutin mengeluarkan uang Rp150.000 – Rp200.000 untuk membeli player baru. Walhasil, Usman dapat memanen 1 kg sarang setiap 2 bulan.

Pancing walet

Pengalaman serupa dialami Yanto, peternak di Kecamatan Gadingkencana, Bengkulu. Ia bahkan menggunakan pemutar lebih canggih. Yanto memakai central power unit (CPU) khusus walet di rumah 4 m x 20 m berlantai 3. Selama ini CPU digadang-gadang lebih awet ketimbang CD player. Kenyataannya, setiap 3 – 4 bulan Yanto perlu mengganti CD-ROM – alat yang berkerja memutar CD suara walet yang dibeli seharga Rp100.000/buah.

Belakangan Yanto tak perlu lagi membeli CD-ROM setelah beralih memakai pemutar SSP sejak 2008. Berkat suara yang tidak sering mati itu, populasi walet bertambah sampai 20%. ‘Sekarang bisa memanen 0,5 kg/bulan,’ kata Yanto yang sebelumnya memetik kurang dari 0,3 kg sarang/bulan.

Sejatinya CD suara walet dipasang untuk memancing Collocalia fuciphaga datang. ‘Walet hidup berkoloni dan mereka akan tertarik bila mendengar suara kelompoknya,’ kata Ir Lazuardi Normansyah, konsultan di Jakarta Barat. Biasanya walet muda mudah terpancing, sedangkan walet dewasa umumnya setia di rumah lama. Itu sebabnya penting mendapatkan alat pemutar yang awet sehingga suara walet selalu terdengar.

Solid

Beralasan jika teknologi SSP lebih awet ketimbang pemutar berteknologi optik seperti yang dipakai Usman dan Yanto. Menurut Peter John, konsultan soundsystem walet di Taman Palem, Jakarta Barat, kerja teknologi optik lebih berat. ‘Teknologi optik memakai sinar laser untuk membaca dan menulis data yang tersimpan di setiap tonjolan-tonjolan berukuran mikron dalam optik,’ kata Peter.

Pertama, sinar laser akan memantulkan cahaya dari permukaan kepingan CD untuk membaca seluruh data. Proses ini menimbulkan suara gesekan. Selanjutnya laser menerjemahkan satu per satu data. Setiap pantulan menghasilkan temperatur berbeda. Perbedaan itu yang menjadi perintah membaca, menerjemahkan, atau menghapus data.

Kerja laser semakin berat saat ada goresan di CD. Harap mafhum, kepingan CD mudah tergores saat terjadi gesekan dengan alat pemutar. Dampaknya suara yang muncul terganggu dan tidak jernih. Bahkan bila goresan terlalu banyak menyebabkan CD sama sekali tidak bisa dibaca. Saat itu alat akan bekerja keras supaya dapat membaca data. Ujung-ujungnya mesin menjadi panas dan CD-ROM pun rusak.

Berbeda dengan pemutar berteknologi SSP. Proses kerjanya dirancang khusus sehingga tidak ada satu pun komponen yang bergerak. Pantas suara gesekan pun hilang. Dengan begitu noise atau gangguan selama pemutar bekerja juga lenyap. Yang utama, teknologi solid itu dapat langsung menerjemahkan data yang ada. Teknologi ini tidak membutuhkan laser seperti pada CD-ROM. Bahkan bebas dari masalah mekanik seperti optik, gear, karet, atau kerusakan motor pemutar.

Antirepot

Uniknya, SSP mampu menyimpan memori meski listrik saat itu mati. Pemutar berteknologi SSP pun dapat membaca data yang tersimpan di beragam media penyimpanan yang juga menerapkan sistem solid. Bentuk media solid antara lain security digital (SD), MiniSD, MicroSD, MMC (multi media card), RSMMC, Mini MMC, MicroMMC, dan USB flash. Kapasitas memori dari media solid rata-rata besar, minimal 2 giga.

Dengan kapasitas besar, peternak sangat diuntungkan. Mereka dapat memasang beragam jenis suara. Meski demikian pemutar SPP bukan tanpa kelemahan. Kerja alat pemutar itu bergantung pada kualitas media yang dipakai. ‘Bila kualitas media jelek, maka pemutar tidak akan dapat membaca data,’ kata Yanto.

Namun Usman dan Yanto sepakat, selain awet pemutar SSP menawarkan beragam kemudahan. Adanya pilihan autoplay, misalnya, membuat kedua peternak itu tak perlu pusing menggonta-ganti CD saat memutar suara-suara walet yang diinginkan. Pilihan autorepeat juga mempermudah peternak mengatur suara yang ingin diulang hingga berkali-kali.

Sejauh ini pemutar SSP kompatibel dengan semua format MP3 seperti Kbps/12 Khz, MPEG 1 layer III, dan MPEG 2,5 layer III. Oleh karena itu, suara yang dihasilkan alami. Tak hanya itu, kejernihan suara terjaga karena pemutar memiliki total harmonic distortion (THD) alias gangguan harmoni kurang dari 1%. Pemutar berteknologi SSP dapat langsung disambungkan ke amplifier lama tanpa perlu mengubah kabel. Hasilnya? Suara yang dibaca pemutar dapat keluar di setiap tweeter walet dengan suara lebih bagus dalam waktu lama. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

Suara yang tidak sesuai akibat CD rusak berisiko menyebabkan walet kabur

Jenis CPU walet dengan teknologi optik dan SSP (paling kanan)

Suara dari tweeter yang bagus memancing walet datang

 

Powered by WishList Member - Membership Software