Seri Walet (153) Ampas Tebu Dempul Sirip

Filed in Satwa by on 01/03/2010 0 Comments

Meski kelihatan sepele, pemasangan sirip berpengaruh terhadap walet bersarang. Collocalia fuchiphaga itu tidak mau bersarang bila sirip tidak menempel rapat pada plafon. “Walet tidak merasa nyaman bersarang bila terdapat celah antara sirip dan plafon, sekalipun hanya 2—5 mm,” kata Fatich Marzuki, peternak di Sedayu, Gresik, Jawa Timur.

Padahal menurut pria 51 tahun itu di setiap rumah walet pasti ada saja celah akibat permukaan atas sirip atau plafon tidak rata. Hanya saja para pemilik rumah walet kurang menyadarinya, sehingga tingkat produktivitas rendah.

Pengalaman Fatich menunjukkan, seyogyanya setiap 1 meter panjang sirip dihuni 5 pasang walet. Artinya dari 2 muka sirip ada 10 sarang. Jika setiap sarang berbobot 8–9 g, maka dari ruangan berukuran 2 m x 3 m dengan total panjang muka sirip 24 m, diperoleh sarang walet 2 kg. “Bangunan ini dengan 18 kamar, idealnya sekali panen 36 kg sarang,” kata Fatich. Tentu saja dengan syarat kondisi kacasusu (kelembapan, aroma, cahaya, suhu, dan suasana) mendukung.

Ampas tebu

Fatich bukan berarti berpangku tangan. Beragam cara untuk menambal kerenggangan sudah dilakukan. Awalnya ia menambal dengan semen. Namun yang terjadi, walet justru kabur karena bau semen terlalu kuat. Pun ketika menambalnya dengan serbuk gergaji, walet ogah bersarang. Selain baunya masih kuat, juga kadang berminyak,” ujar Fatich.

Titik terang muncul setelah Fatich memakai ampas tebu. Menurut Fatich aroma ampas tebu alami dan tidak menyengat. Ampas tebu juga mudah mengisi celah-celah sirip yang longgar dan cepat kering. Keunggulan lain, ampas tebu mudah diperoleh dan harganya murah.

Sebelum dipakai ampas Saccharum officinarum itu terlebih dulu dikeringkan lalu digiling halus seperti tepung. Tepung itu diberi campuran perekat dan semen putih. Larutkan dalam air dengan perbandingan 1:1 hingga berupa adonan. Adonan itulah yang disumpalkan pada celah-celah. Dalam 2 jam tambalan mengering dan tampak mengeras.

“Mengagumkan, setelah celah ditutup dalam 2 minggu sirip-sirip itu langsung ditempati walet,” kata perintis pelatihan budidaya walet itu. Ia menghitung dalam 1 bulan dari 100 titik penambalan, 95% berisi sarang.

Diisi hama

Mengapa walet tak mau menempati sirip bolong? Celah-celah yang terbentuk antara sirip dan plafon menjadi sarang hama seperti kutu busuk, kecoak, dan semut. Menurut Hendry Widjaja, praktikus walet di Surabaya, Jawa Timur, kedatangan hama-hama itu membuat walet takut sehingga kabur ke tempat lain yang lebih nyaman. Oleh karena itu pula sebaiknya gunakan kayu yang terlebih dulu di-oven sehingga permukaan kayu pun lebih rata, tidak ada celah.

Celah juga bisa disebabkan rayap. Bahkan hewan pemakan kayu itu bisa membuat sirip berlubang. Bila lubangnya kecil tidak menjadi masalah, justru dapat dijadikan pegangan walet,” kata Hary K Nugroho, praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara. Namun, bila lubang menjadi besar aliran udara terlalu kencang. “Aliran udara itu membuat walet tidak nyaman dan pindah ke tempat lain,” ucap pemilik Ekawalet Center itu.

Kalaupun ada si liur emas yang membuat sarang di lagur berlubang, kualitas sarang kurang baik. Sarang rapuh dan berkerut-kerut karena tertiup angin. Makanya pilih bahan sirip yang kuat, tidak mudah rusak dan bolong. Berdasarkan pengamatan Hary saat ini terdapat 3 bahan sirip yang dipakai peternak: kayu, plat aluminium, dan kawat ram. Kayu dominan dipakai, meski tidak sembarang kayu bisa digunakan. “Kayu mesti mempunyai permukaan yang kasar, kering, dan mudah ditempeli liur,” kata Hary.

Permukaan kasar memudahkan kuku kaki walet mencengkeram. Plat aluminium yang mulai digunakan sejak 1999 mempunyai kelebihan tidak mudah bolong dan awet. Karena tidak menyerap air sarang pun tetap putih. Namun sebelum dipasang, permukaan plat aluminium perlu diberi goresan. Itu agar walet mudah mencengkeram. Ukuran plat bisa dibuat lebih lebar, sekitar 40—50 cm, sehingga memungkinkan sarang dibuat bersusun ganda atau rangkap tiga.

Sedangkan kawat ram yang lebih banyak dipakai di rumah-rumah walet di Sumatera sejak 5 tahun lalu, tidak berdiri sendiri melainkan hanya sebagai pelapis. Ia memang memudahkan kaki walet mencengkeram, tapi biasanya sarang yang dihasilkan tipis, mudah goyang dan jatuh akibat getaran. Getaran itu pula yang membuat walet tidak nyaman sehingga akhirnya kabur. Sejatinya apa pun bahannya pemasangan sirip harus sempurna merapat pada plafon. Dengan cara itu peningkatan produksi pun bisa diharapkan seperti pengalaman Fatich Marzuki. (Lastioro Anmi Tambunan/ Peliput: Nesia Artdiyasa)

  1. 1. Celah sirip (panah) menjadi sarang hama seperti kutu dan kecoak
  2. 2. Dempul asal ampas tebu siap pakai
  3. 3. Kualitas sarang menurun akibat celah sirip terlalu besar
  4. 4. Tebu, ampasnya untuk bahan baku dempul
  5. 5. Satu bulan pascapenambalan, walet sudah mau bersarang

Foto-foto: Nesia Artdiyasa

 

Powered by WishList Member - Membership Software