Seri Dua Lebih Unggul

Filed in Ikan konsumsi, Satwa by on 04/03/2013 0 Comments

Nirwana disukai karena mempunyai bentuk kepala kecil tapi tubuh lebar tanda lebih banyak daging terisiHampir sebulan lebih cepat panen, jika peternak membesarkan nila nirwana 2. Harga jual lebih tinggi.

Peternak di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, Solihin, hanya memerlukan 155 hari untuk memperoleh bobot nila 700 g per ekor. “Ukuran itu diperoleh dari tebar nila gelondongan,” kata Solihin. Gelondongan adalah sebutan untuk bibit ikan yang terdiri atas 80—100 ekor per kg.  Waktu budidaya singkat karena sejak medio 2012, Solihin membesarkan generasi baru nila yang lebih unggul, yakni nirwana 2.

 

Iing Ahmad Misbah, Budiman APi MSi, dan Eka Yudhistria SPi MSi, nirwana 2 menjadi andalan baru peternak nilaSentra nila di Majalengka, Jawa Barat, menantikan kehadiran nirwana 2Bandingkan dengan generasi sebelumnya, nirwana, untuk mencapai bobot 700 g, Solihin perlu waktu 180 hari. Bahkan, bila menggunakan benih nila lokal, bobot itu baru tercapai setahun setelah pemeliharaan. Dalam budidaya nila, Solihin memberikan pakan berkadar protein 26% dua kali sehari pada pagi dan sore. Dengan perlakuan sama, nirwana 2 mampu tumbuh lebih bongsor.

Penerus

Solihin bukan satu-satunya peternak yang membuktikan kecepatan tumbuh nirwana 2. Nun di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, ada Asep Subarna juga sukses memelihara nirwana 2 dalam karamba jaring apung (KJA) terdiri atas dua tingkat. Pada bagian atas, ia menempatkan ikan mas, sementara bagian bawah, nirwana 2. “Nirwana 2 memanfaatkan sisa pakan yang tercecer dari tingkat atas,” kata Asep.

Harap mafhum sekitar 30—40% pakan ikan mas terbuang alias tidak termanfaatkan. Selain ceceran pakan, nirwana memakan lumut yang menempel di jaring. Hasilnya tokcer, ikan mencapai bobot 300—400 g dalam 112 hari. “Jika memanfaatkan nirwana waktu budidaya lebih lama 18 hari atau total lebih kurang 120 hari (4 bulan, red) “ kata Asep. Bobot serupa dicapai nila lokal dalam waktu 8—10 bulan.

Nirwana 2 alias nila ras wanayasa generasi kedua yang dimanfaatkan Solihin dan Asep merupakan nila anyar yang dirilis oleh Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada 2012. Menurut Budiman APi MSi, kepala balai, nirwana 2 merupakan suksesor atau penerus nila nirwana generasi pertama yang dirilis pada 2006.

Varietas nirwana 2 lahir lewat seleksi famili terhadap 3 generasi induk nirwana yaitu F4, F5, dan F6. “Nirwana 2 unggul dalam laju tumbuh sekitar 15,08% lebih cepat dibanding nirwana generasi sebelumnya,” tutur Budiman. Nirwana sejatinya merupakan hasil seleksi dari persilangan 18 famili nila GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) dan 24 famili nila GET (Genetically Enhanced Tilapia). Menurut Budiman, bongsornya pertumbuhan nirwana 2 menguntungkan peternak.

“Selain menghemat biaya pakan, waktu budidaya yang singkat membuat perputaran uang peternak lebih cepat,” tutur  Eka Yudhistira SPi, MM, periset di BPBIAT Wanayasa. Dampaknya pundi-pundi peternak pun makin menggembung.

Bongsor

Keunggulan lain, nirwana adaptif dan tahan serangan bakteri streptococcus penyebab kematian nila di atas 50%. Persilangan Oreochromis niloticus jantan dan betina itu mampu menghasilkan 70—80% burayak jantan. Bandingkan dengan nila lokal, hanya 40—50% burayak jantan. Menurut Rastani, peternak di Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pembudidaya lebih menyukai nila jantan karena pertumbuhannya lebih cepat. “Jantan bisa tumbuh 50% lebih cepat,” kata Rastani.

Itu dibuktikan oleh Syarifudin, peternak di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, yang menebar 60.000 bibit nirwana 2 berukuran 2—3 cm di kolam 1.200 m2. Sementara di kolam lain dengan luasan sama, ia menebar 60.000 nila lokal berukuran 2—3 cm. Selang 60 hari ia panen sebanyak 260 kg nirwana 2.

Sementara dalam pemeliharaan 70 hari, ia  hanya panen 150 kg nila lokal.  “Produktivitas peternak naik 73,3% setelah menggunakan nila nirwana 2,” tutur Eka.  Keruan saja omzet peternak meningkat seiring dengan meroketnya produktivitas itu. Dengan jumlah panen 260 kg dan harga Rp14.000 per kg, omzet peternak Rp3,64-juta. Bandingkan jika menggunakan nila lokal, omzetnya Rp2,1-juta.

Bukan hanya pertumbuhan bongsor yang membuat peternak jatuh hati. “Bentuk kepala nirwana 2 lebih kecil, tetapi bentuk tubuh lebar,” tutur Rastani. Itu menandakan lebih banyak daging terisi.  Dengan seabrek keungulan itu penyedia benih nila pun kebanjiran order. Sebut saja Iing Ahmad Misbah, pembibit nila di Wanayasa. “Setiap pekan permintaan benih nirwana gelondongan mencapai 10 ton,” tuturnya.

Dari permintaan itu, Iing paling hanya bisa memenuhi 700—1.000 kg per pekan. Menurut Iing selain permintaan melambung, harga nirwana 2 di kalangan pembudidaya di Waduk Jatiluhur lebih tinggi,   Rp17.000 per kg. Itu Rp3.000 per kg lebih mahal daripada nila lokal yang hanya Rp14.000/kg. Tingginya harga itu karena pembudidaya sudah mengetahui kualitas nirwana 2. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

 

Powered by WishList Member - Membership Software