Serdadu Mungil sang Pelindung

Filed in Topik by on 01/11/2009 0 Comments

Cendawan itu penyebab penyakit akar gada pada kubis dan kerabatnya. Disebut akar gada lantaran akar kubis membengkak persis gada alias alat pemukul. Kubis yang terserang akar gada, tampak dari daun yang hijau kebiruan dan layu seperti kekurangan air ketika cuaca panas atau terik. Namun, pada malam hari atau pagi hari tanaman segar kembali.

Dampaknya pertumbuhan terhambat sehingga kubis gagal membentuk krop dan mati. Menurut Dr Ir Djatnika dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Departemen Pertanian, cendawan Plasmodiophora menyebabkan pembelahan dan pembesaran sel akar tidak teratur. ‘Rusaknya jaringan akar menyebabkan pengangkutan hara terganggu, tanaman kekurangan nutrisi dan berwarna hijau kelabu serta lebih cepat layu,’ kata Djatnika.

Kenali musuh

Keadaan seperti itulah yang kerap dihadapi Ujang Dayat, pekebun sayuran di Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pakcoy dan kubis di lahan 600 m2 luluh-lantak gara-gara serangan cendawan berambut pendek itu. Ia sigap dan menyemprotkan fungsida hingga 4 kali. Namun, hasilnya nihil. Pakcoy dan kubis gagal diselamatkan.

Sejak 2 tahun terakhir, kisah itu menjadi kenangan. Harap maklum Ujang menerapkan strategi jitu untuk mencegah serangan akar gada. Ia mencampurkan benih dengan pupuk mengandung cendawan Trichoderma harzianum. ‘Seperti imunisasi sehingga tanaman lebih kuat,’ kata Ujang. Hasilnya, benih pakcoy 100% layak tanam; sebelumnya hanya 20% karena infeksi cendawan Plasmodiophora. Selama proses budidaya, Ujang sama sekali tak menyemprotkan fungisida.

Trichoderma harzianum memiliki antibiosis viridin untuk mencegah cendawan patogen seperti Plasmodiophora brassicae dan Fusarium sp menyebar di sekitar tanaman. Cara kerja serupa juga diterapkan oleh mikroba Gliocadium sp dan Pseudomonas fluorescens yang piawai mengatasi penyakit tular tanah.

Kedua mikroba itu mengeluarkan antibiosis bernama gliotoksin dan fenazin yang menyerang miselium dan spora mikroba patogen seperti batang Phytium sp. Dampaknya patogen menjadi lemah dan urung berkembang. Trichoderma dan Gliocadium itu disebut biopestisida alias pestisida asal mikroba. Dengan demikian mikroba bukan hanya penyedia unsur hara, tetapi ada juga berperan sebagai biopestisida.

Keuntungan

Menurut Djatnika jenis mikroba sebagai sumber biopestisida beragam yakni bakteri, virus, dan cendawan. Mereka mampu menghasilkan antibiosis untuk melumpuhkan lawannya. Lihat saja aksi bakteri Bacillus penetrans yang biasanya indekos di kutikula larva, betina, dewasa, telur Meloidogyne incognita. Meloidogyne adalah penyebab puru akar pada tanaman tomat, kubis, buncis, dan kentang. Kehadiran Bacillus penetrans mampu menekan nematoda hingga 50%.

Pada satu larva Meloidogyne sp ditemukan lebih dari 250 spora Bacillus penetrans dan menjadi ribuan kali lipat dalam waktu 48 jam. Musuh bebuyutan Meloidogyne sp bukan cuma bakteri, tetapi juga kelompok cendawan seperti Dactylaria, Dactylella, Arthrobotrys, Botrytis, Paecillomyces, Aspergillus, Penicillium, dan Fusarium.

Diah Meidianti, pekebun sayuran di Kotamadya Bekasi, Jawa Barat, memanfaatkan Beauveria bassiana untuk mengendalikan hama walang sangit, wereng cokelat, dan kutu Aphids sp. ‘Beauveria mencegah ulat dan kutu memakan daun sehingga sayuran terlihat segar tanpa bolong,’ kata Mei.

Sudarmaji, petani terung di Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menggunakan pestisida hayati berbasis cendawan Pseudomonas fluorescens dan bakteri Bacillus ploymixa. Hasilnya, panen tak terhenti 24 kali dengan jumlah 12 ton dari lahan 2.000 m2. ‘Agensi hayati menghadang penyakit,’ kata Sudarmaji. Dengan menggunakan biopestisida, petani menghemat biaya produksi.

Keuntungan menggunakan biopestisida dibandingkan pestisida kimia antara lain, ‘Yang paling utama meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan hidup,’ kata Djatnika. Selain itu mikroba selektif sasaran sehingga tidak membahayakan makhluk lain yang bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan serangga berguna lebah madu.

Mikrobanya juga tidak menyebabkan fitotoksin alias keracunan tanaman sehingga sayuran aman untuk dikonsumsi. Dan yang paling penting, biopestisida mudah dibuat sendiri oleh petani dengan harga murah. ‘Hanya butuh starter mikroba saja,’ kata Djatnika. Mikroba-mikroba itu ibarat serdadu yang telah melindungi tanaman. (Vina Fitriani/Peliput: Nesia Artdiyasa)

^ Trichoderma harzianum, efektif cegah akar bengkak

v Tanpa akar bengkak, pakcoy lebih segar

Ilustrasi: M Awaludin

Terinfeksi akar bengkak

Normal

 

Ilustrasi: M Awaludin

Spora Beauveria bassiana

Tabung spora

Lapisan kutikula

Racun beauverin

Spora cendawan Beauveria bassiana menempel di tubuh serangga dan membentuk tabung. Spora menembus kutikula tubuh serangga serta mengeluarkan racun beauverin menyebabkan serangga mati dengan tubuh mengeras dan tertutup benang hifa putih

Racik Pestisida Hayati

Ilustrasi: Bahrudin

1. Sebanyak 100 g jagung pecah 4 dicuci air 3 kali. Setelah ditiriskan, masukkan ke dalam kantong plastik transparan berukuran 500 g. Ujung plastik dilipat.

2. Sterilkan dengan mengukus jagung dalam plastik selama 2 jam.

3. Dinginkan selama 30 menit. Masukkan ke laminer atau enkas agar tidak terkontaminasi. Enkas dibuat dengan menggunakan papan bekas dan plastik transparan tebal.

4. Inokulasi jagung dengan bibit biopestisida.

5. Simpan dalam laminer selama 10 hari. Setelah 7 hari penyimpanan, cendawan mulai menyebar ditandai dengan warna biru mendominasi.

6. Seluruh jagung bercendawan dicampurkan dengan 50 kg kompos. Kompos itu hasil fermentasi 20 hari pupuk kandang asal sapi, kelinci maupun kuda dan sampah sayuran. Setelah dikomposkan dengan mikroba selama 1 minggu, kompos itu dicampurkan dengan 150 kg pupuk kandang. ***

 

Powered by WishList Member - Membership Software