Sentra Baru Ratu Buah

Filed in Buah by on 04/06/2010 0 Comments

Sepak terjang Banyuwangi di kancah ekspor berjalan sejak 1995. Ketika itu Mahroji, pekebun manggis di Desa Songgon, Kecamatan Songgon, mendapat pesanan dari importir asal Taiwan. Mahroji diminta mengirim manggis ke Taiwan, China, Hongkong, dan Singapura sebanyak 2 – 3 ton per hari.

Jumlah ekspor terus meningkat. Sejak 2000, pria yang mengebunkan manggis sejak 20 tahun silam itu rutin mengirim 4 – 5 ton/hari. Musim panen biasanya pada Februari – Maret dan September. Dengan harga jual Rp20.000 – Rp25.000 per kg, nilai ekspor ratu buah itu mencapai Rp80-juta – Rp125-juta per hari.

Terbukanya peluang ekspor menjadi berkah bagi pekebun manggis di Kecamatan Songgon.  Harga beli ke pekebun 3 – 4 kali lipat harga pasar lokal yang hanya Rp5.500 – Rp7.000/kg. Harga tinggi didapat Mahroji karena berhubungan langsung dengan importir.

Syarat ketat

Untuk mendapat harga tinggi, kualitas buah mesti memenuhi syarat ketat importir: kelopak buah segar, kulit buah mulus, dan bobot buah minimal 125 g/buah atau sekilo isi 8 buah. Dari total produksi manggis setiap musim, sebanyak 20 – 40% lolos sortir.

Produksi kebun Mahroji hanya cukup untuk memasok 200 kg/hari. Sisa kebutuhan didapat dengan mengepul dari pekebun di Kecamatan Songgon. Daerah itu sentra manggis kedua terbesar di Banyuwangi setelah Kecamatan Kalipuro. Mahroji juga membeli dari pekebun di Kalipuro. Berdasarkan data Dinas Kehutanan, Perkebunan, Pertanian, dan Urusan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwangi, populasi manggis di kedua kecamatan itu mencapai 91.215 pohon.

Manggis dipanen saat buah berwarna ungu muda atau tingkat kematangan 60 – 70%. Itu kira-kira 104 hari pascabunga mekar. Maklum, manggis asal Banyuwangi kulitnya tipis sehingga daya simpan singkat. Padahal pengiriman ke Taiwan butuh waktu minimal 15 hari. ‘Jika dipanen tua, sampai ke konsumen buah masih layak konsumsi, tapi kulitnya kering dan mudah hancur sehingga tidak terlihar segar,’ kata Mahroji.

Sayangnya pada musim buah 2010 ekspor manggis asal Banyuwangi tersendat. Musababnya, musim buah di kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu bergeser ke April. ‘Biasanya musim panen pertama pada Februari, lalu disusul musim sela pada September,’ kata Mahroji. Akibatnya musim panen berbarengan dengan Thailand. Importir lebih memilih membeli manggis dari negeri Gajah Putih karena berjarak lebih dekat dengan Taiwan. Pada musim 2010 Mahroji baru mengekspor 1 kontainer 20 kaki atau sekitar 12 ton manggis. ‘Itu pun harganya turun menjadi Rp14.000 – Rp16.000/kg,’ tuturnya.

Peluang mengisi kekosongan pasokan pasar lokal karena sentra lain seperti Tasikmalaya dan Purwakarta sudah lewat masa panen pun sulit diwujudkan. Musababnya, harga jual manggis di Banyuwangi tak mampu bersaing dengan sentra-sentra besar yang hanya Rp3.500 – Rp4.000/kg. Di Banyuwangi harga manggis minimal Rp7.000/kg. ‘Jadi pengepul di kota besar seperti Jakarta tak sanggup menyerap karena mahal,’ kata Mahroji.

Toh Mahroji optimis di akhir tahun masih dapat menangguk laba dari ekspor. ‘Saat musim buah sela pada September harga bisa Rp32.000/kg,’ katanya. Pengalaman pada 2009, ia bisa mengekspor 3 kontainer 20 kaki atau 36 ton pada musim sela.

Pati menggeliat

Meski belum menyasar pasar ekspor, pengembangan manggis di Pati terus menggeliat. Ia tengah mengekor Purworejo – sama-sama di Jawa Tengah – yang menempati posisi ke-16 sentra manggis tanahair. Saat ini di Pati tercatat tumbuh 30.000 manggis yang tersebar di 3 desa: Tanjungsari, Gunungsari, dan Klumpit. Sebanyak 80% di antaranya sudah berproduksi. ‘Dengan rata-rata 1 pohon panen 25 kg, maka produksi manggis Pati dalam setahun mencapai 600 ton,’ kata Didik Eka Haribawa, SP, kepala seksi Holtikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pati.

Itu masih di bawah produksi Purworejo 6.989 ton dan Bogor, Jawa Barat, 1.261 ton. Wajar hingga saat ini manggis asal Pati baru dipasarkan ke pasar lokal di Purwodadi dan Jepara.

Namun, produksi manggis di kabupaten seluas 1.419,07 km2 itu diprediksi bakal terus meningkat seiring bertambahnya umur tanaman. Menurut Jasri, ketua kelompoktani Ngudingulyo di Desa Klumpit, Kecamatan Tlogowungu, Pati, pohon manggis asal biji umur 5 – 7 tahun menghasilkan 20 – 30 buah. Berikutnya produksi meningkat. ‘Ada pohon di desa Tanjungsari berumur 40 – 50 tahun produksinya 2,5 – 4 kuintal per pohon,’ tambahnya.

Jumlah produksi juga bakal meningkat karena penambahan populasi. Dalam 10 tahun terakhir tercatat penambahan sebanyak 5.000 tanaman yang tersebar di 3 desa di Kecamatan Tlogowungu. ‘Penanaman swadaya masyarakat ditambah bantuan pemerintah daerah,’ kata Ir Farikha Budiastuti, kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pati. Kini 60% tanaman mulai berbuah 40 – 60 butir per tanaman.

Juara kontes

Fakta ada manggis di Pati cukup mengejutkan. Selama ini kota pensiunan itu hanya terkenal sebagai sentra pamelo dan kelapa kopyor. Padahal, kualitas buah mengkhut – sebutan manggis di Thailand – asal Pati top. Menurut Suyudono SP, mantri tani di Kecamatan Tlogowungu, kerabat mundu Garcinia dulcis itu pernah jadi juara ke-1 kontes manggis tingkat Provinsi Jawa Tengah pada 1996. Manggis di Pati diduga berasal dari pohon induk berumur di atas 100 tahun di Desa Cabak, Kecamatan Tlogowungu.

Sayangnya pekebun terhadang kendala getah kuning lantaran kondisi iklim yang tidak stabil. Menurut Drs Jawal Anwarudin Syah MS, peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Jakarta, getah kuning dapat diatasi dengan memberikan air terus-menerus melalui irigasi tetes. Bila kendala itu teratasi, tak mustahil di masa mendatang Pati – bersama Banyuwangi – bakal jadi sentra ratu buah andalan. (Imam Wiguna dan Rosy Nur Apriyanti)

 

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software