Sengon: 3 Tahun Panen

Filed in Topik by on 01/09/2011

 

Prof Dr Iskandar Zulkarnaen SiregarDari sisi volume, misalnya, pekebun di Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Dian Hadiyanto memperoleh minimal 0,15 m3 per pohon.  Dari 700 pohon di lahan 1 ha, total jenderal Dian Hadiyanto mendapatkan 210 m3 kayu. Ketika panen pada 2010, harga jual kayu sengon itu mencapai Rp400.000 per m3. Itu harga di kebun sehingga praktis ia tak mengeluarkan biaya pengangkutan ke pabrik pengolahan kayu. Pengepul juga menanggung biaya tebang Paraserianthes falcataria.

Hingga Agustus 2011, sang kopral satu itu baru sekali memanen sengon yang cepat panen. Itu bukan berkat varietas baru nan unggul. Rahasianya? Pekebun sengon sejak 2002 itu menerapkan teknologi tunggul atau coppies. Mula-mula ia menanam bibit sengon secara konvensional di lahan 1  ha. Pola budidaya persis sama dengan para pekebun pada umumnya. Ketika pohon berumur 5 tahun pada 2007, ia memanen semua pohon dan menyisakan pangkal batang setinggi 10 cm dari atas permukaan tanah. Kemiringan potongan batang 450.

Tebang miring

Menurut dosen di Departemen Silvikultur Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Iskandar Zulkarnaen Siregar MSc, tinggi tunggul 10 cm memang ideal. “Bila luka potong itu mendekati rata dengan tanah, maka tunggul akan mati; bila terlalu tinggi, dikhawatirkan tunas yang muncul mudah tertiup angin sehingga gampang roboh,” kata guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu.

Sudut kemiringan 450 untuk mencegah genangan air di atas luka tebangan saat hujan. “Sengon merupakan tanaman sun lover. Tanaman itu sangat menyukai sinar matahari sehingga bila kondisi lingkungan atau luka bekas tebangan lembap, maka tunggul akan busuk sehingga mempengaruhi pertumbuhan tunas dan tunggul,” kata doktor Kehutanan alumnus Georg-August University, Jerman, itu.

Dari tunggul itulah muncul beberapa tunas baru dua pekan pascatebang. Tunas-tunas baru itu muncul sebagai respon perlakuan tertentu terutama mekanis seperti luka bekas tebangan. Dian menyeleksi dan mempertahankan hanya satu tunas terbaik: bebas hama dan penyakit, berbatang lurus dan kokoh, serta dekat dengan permukaan tanah. Alasannya? “Selain faktor letak tunas yang dekat dengan sumber hara, tunas akan  cepat menyatu dengan tunggul utamanya,” kata Iskandar.

Tunas tumbuh hingga 30 – 50 cm sebulan berselang. Ketika itu ia membumbun dengan 5 kg pupuk kandang per pohon. Pekebun itu 3 kali memberikan pupuk kandang per tahun masing-masing pada tahun pertama dan kedua. Pada tahun ketiga, pekebun kelahiran 22 Juni 1973 itu tak memberikan pupuk sama sekali. Pada pengujung musim kemarau 2010 – pohon berumur 3 tahun – Dian memanen  sengon hasil budidaya tunggul, bukan dari bibit.

Tentara itu kembali menumbuhkan tunas dari tunggul untuk kedua kalinya. Saat wartawan Trubus berkunjung ke lahan Dian pada Juli 2011, ukuran batang yang tumbuh dari tunggul itu mencapai sepergelangan kaki. Jika tanpa aral melintang, pekebun berusia 38 tahun itu bakal panen kedua dari tunggul pada 2013, saat pohon berumur 3 tahun.

Akar kuat

Menurut Amar Sukmana dari PT Perhutani di Tasikmalaya, Jawa Barat, sistem tunggul alias coppies sebetulnya teknologi lama. Namun, penerapan dalam skala besar belum ada. Artinya para pekebun seperti Dian Hadiyanto yang menerapkan teknologi itu dalam skala luas 2 – 3 ha saat ini merupakan hal baru. Beberapa pekebun lain kini serius menerapkan teknologi tunggul.

Umar Parja di  Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dua kali panen sengon dari tunggul. Panen terakhir pada September 2010, pekebun 60 tahun itu menebang 300 pohon. Pekebun di Sukadamai, Kabupaten Bogor, Rohim Solihin saat ini tengah mencoba sistem tunggul setelah panen perdana pada 2010.

Para pekebun yang menerapkan teknologi itu girang bukan kepalang karena sistem tunggul memiliki banyak kelebihan. Pertama, karena masa panen lebih cepat akibat pertumbuhan tanaman bongsor. Bagaimana duduk perkaranya? Iskandar menjelaskan, “Tunas adventif hasil seleksi cepat tumbuh karena sudah tersedia cadangan makanan dan hormon penunjang pertumbuahn sehingga panen lebih cepat.”

Menurut Dr Irdika Mansur MForSc dari Institut Pertanian Bogor, akar pohon hasil penanaman sebelumnya, berperan besar dalam penyerapan nutrisi. Itulah sebabnya pertumbuhan pohon anggota famili Fabaceae itu lebih cepat. Sudah cepat panen, banyak biaya terpangkas pula. Sebagai gambaran pekebun tak perlu mengeluarkan biaya pembelian bibit. Sekali tanam bibit, pekebun berkali-kali panen (lihat infografis: Biaya Terhapus & Tanam Sekali, Panen Berkali). Iskandar menyarankan, dari satu bibit, pekebun cukup 3 – 4 kali menerapkan teknik tunggul.

Setelah itu, pekebun mesti meremajakan tanaman dengan menanam bibit. Alasannya pohon memiliki masa aging alias penuaan. Jika 3 kali panen dari tunggul, artinya secara akumulasi pohon berumur 15 tahun. “Tanaman yang menua mulai terhambat fungsi-fungsi sel-sel  sehingga dapat berpengaruh pada perkembangan tunas,” kata Iskandar.

Kunci sukses penerapan teknik tunggul adalah pemupukan. “Karena dengan adanya coppies dikhawatirkan kesuburan tanah menurun. Tanah banyak mengandung mineral dan unsur hara maka bila digunakan terus-menerus tanpa adanya perbaikan menyebabkan kesuburannya berkurang. Oleh karena itu pemupukan dan perawatan tanaman mutlak diberikan,” kata Iskandar.

Kunci lain, seleksi dan amati tunas setiap 2 pekan untuk memantau karat puru yang kini mengancam sengon. “Begitu tampak gejala, pangkas cabang atau tunas utama, karena nanti muncul tunas baru,” kata Ahmad Yani SSi, asisten peneliti di Seameo Biotrop, Bogor, Jawa Barat. Selain itu, gunakan tunggul dari pohon berumur 5 – 10 tahun. Pohon terlalu tua, lebih dari 15 tahun, mulai terhambat fungsi sel-selnya sehingga berpengaruh pada tunas yang muncul.

Dengan begitu pekebun dapat menuai kayu lebih cepat dan berkualitas tinggi. Menurut Iskandar kualitas kayu hasil teknologi tunggul lebih baik daripada kayu asal tanaman hasil perbanyakan dari biji. Sebab, kayu tunggul berasal dari hasil seleksi tunas adventif yang sehat. Jika demikian, para pengepul antre untuk membeli kayu kerabat petai itu. Menurut Sukandar dari PT Sumber Graha Sejahtera, pengolah kayu di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, “Sengon masih menjadi primadona minimal sampai 20 tahun ke depan.”

Jika Anda menanam bibit menjelang musim hujan pada Oktober 2011, artinya hingga 2031 industri masih memerlukan sengon untuk beragam kebutuhan. Anda panen perdana pada 2016, kemudian setiap 3 tahun panen lagi dari tunggul bekas tebangan. Tanam sekali, Anda dapat menuai kayu berkali-kali.  (Sardi Duryatmo/Peliput: Faiz Yajri, Susirani Kusumaputri, & Andari Titisari)

 

Powered by WishList Member - Membership Software