Senandung Tonggeret

Filed in Eksplorasi by on 04/06/2010 0 Comments

Petani kerap  memanfaatkan suara keras serangga anggota famili Cicadidae itu sebagai pertanda kemarau akan datang. Bunyi tonggeret ramai terdengar di penghujung musim hujan alias saat cuaca mulai panas. ‘Bila tonggeret banyak bersuara, maka saatnya untuk bertanam palawija, seperti: jagung dan kacang, karena musim kemarau akan segera datang,’ kata Ir Anjal Ani Asmoro MSi, dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menurut Dr Sih Kahono, ahli serangga di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat cicada – tonggeret dalam bahasa Inggris – memang sering terdengar saat cuaca mulai panas dan curah hujan sedikit. Tonggeret  menyukai temperatur hangat, 24 – 30OC, untuk tumbuh optimal. ‘Pada kondisi itu nimfa – tonggoret yang alat reproduksinya belum berkembang sempurna dan tidak bersayap – tumbuh jadi dewasa. Itu ditandai dengan munculnya sayap dan alat reproduksi yang telah sempurna,’ ungkap doktor ekologi serangga alumnus Kanazawa University, Jepang itu.

Beberapa saat setelah tumbuh dewasa, tonggeret terbang dan hinggap di dahan pepohonan. Saat itulah ia mulai bersuara. Suara hanya dihasilkan oleh tonggeret jantan. Mereka mengeluarkan suara nyaring untuk menarik perhatian tonggeret betina supaya mau diajak kawin. Selain itu suara nyaring garengpung – sebutan lain – juga berfungsi sebagai senjata menghadapi musuh.

‘Tonggeret adalah serangga yang memiliki suara paling keras di antara jenis-jenis serangga lainnya. Selain untuk mencari pasangan, suara itu juga berguna menakut-nakuti burung yang akan memangsanya,’ kata Purnama Hidayat PhD, ahli serangga di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat.

Purnama menyebutkan terdapat lebih dari 2.000 jenis tonggeret. Setiap spesies memiliki suara yang unik dan berbeda satu sama lain. ‘Suara unik itu menunjukkan identitas masing-masing spesies sehingga memudahkan tonggeret dalam mencari pasangannya,’ ungkap doktor entomologi alumnus University of Wisconsin, Amerika Serikat itu. Di Kebun Raya Cibodas, misalnya, dari hasil penelitian Purnama menunjukkan terdapat beberapa jenis suara tonggeret. Setelah diidentifikasi, diketahui suara itu berasal dari Dundubia mannifera, Pomponia lactea, Puranoides sp, dan Huechys incarnata.

Tonggeret mampu menghasilkan suara nyaring lantaran memiliki tymbal yang terdapat dalam perut. Organ itu berupa membran yang dilengkapi oleh otot-otot penggerak. Ketika otot-otot itu digerakkan membran akan bergetar. Getaran itulah yang menghasilkan suara. Suara itu bisa semakin keras karena perut tonggeret memiliki rongga udara yang berfungsi seperti amplifier. Rongga itu memperkuat suara yang dihasilkan oleh getaran tymbal.

Saat ini penggunaan nyanyian tonggeret sebagai pertanda musim kemarau tiba mulai pudar lantaran populasinya langka. Petani kesulitan menemukan serangga bersuara nyaring itu. ‘Waktu saya SMP, 1967, tonggeret dapat dengan mudah ditangkap di belakang rumah. Kini, mendengar suaranya saja susah,’ tutur Kahono.

Menurut kelahiran Klaten, Jawa Tengah itu, tonggeret langka lantaran habitatnya tergusur. Mereka menyukai hidup di daerah yang memiliki banyak pohon dan bertanah lembap. Sebab, hampir seluruh kehidupan tonggeret dihabiskan di dalam tanah. Mereka  menyantap cairan yang ada dalam akar-akar pohon sebagai makanan. ‘Umur tonggeret 2 – 3 tahun. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam tanah dalam bentuk nimfa,’ kata Kahono. Bahkan, ‘Beberapa spesies tonggeret di Amerika Serikat bisa hidup dalam tanah sampai 17 tahun,’ tambah Purnama.

Tonggeret dewasa hidup di pepohonan hanya selama 2 – 4 pekan. Beberapa hari setelah kawin mereka mati. Bahkan beberapa spesies cuma bertahan 3 – 4 hari. Saat bertelur tonggeret betina menempelkan telur-telurnya di cabang atau batang pohon dan rerumputan. Namun setelah menetas, nimfa yang dihasilkan jatuh ke tanah. Mereka lalu menggali lubang, sedalam 30 – 50 cm, dan hidup dalam tanah.

Ketika pepohonan banyak ditebangi dan kondisi tanah kering-kerontang populasi tonggeret pun anjlok karena sulit bertahan hidup. Kalaupun ada, petani sekarang meragukan kemampuan tonggeret mendeteksi kedatangan kemarau. Sebab, selang beberapa pekan setelah garengpung ramai berkicau hujan justru kerap turun. Menurut Kahono perubahan iklim menyebabkan tonggeret tidak lagi dipercaya petani. Sebenarnya tonggeret tetap bersuara saat cuaca meningkat panas. Namun karena perubahan iklim yang tidak menentu, musim bersuara tonggeret pun ikut berubah.

Dulu, saat pergantian musim kemarau dan hujan relatif teratur, suara tonggeret bisa dinikmati dengan teratur – di penghujung musim hujan. Kini, ketika terjadi perubahan iklim, bunyi tonggeret pun tak lagi rutin setahun sekali. ‘Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, bisa jadi dalam setahun tonggeret bersuara lebih banyak ketimbang dulu. Sehingga kebiasaan petani setiap tahun menandakan suara tonggeret sebagai awal kemarau meleset,’ ungkap Kahono.

Kini saat eco-living jadi gaya hidup, lingkungan pun kembali dihijaukan. Kelak nyanyian merdu tonggeret bisa lagi dinikmati anak cucu. (Ari Chaidir)

 

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software