Semi Organik

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 13/03/2020

Sawah milik As’at loaksi pemurnian padi lokal.

Masyarakat Ngata Toro, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, membudidayakan padi hanya 1—2 kali setahun. Menurut petani di Ngata toro, As’at Toheke, frekuensi penanaman sekali jika menggunakan benih lokal dan 2 kali jika menggunakan benih padi modern. Setelah panen masyarakat menggelar vunja atau ucapan rasa syukur dari hasil pertanian. Kemudian diikuti acara pernikahan setelah vunja.

“Itu kadang memakan waktu, kita tidak bisa mulai menggarap sawah duluan karena biasanya menggarap dilakukan berbarengan dan gotong royong,” kata As’at. Padi lokal dalam praktik budidayanya tidak menghedaki penggunaan pupuk kimia. Menurut As’at tanaman justru rebah memasuki fase generatif karena tidak kuat menopang malai yang terlalu banyak. Kini mayoritas petani di Ngata Toro mengenal pupuk kimia.

Gamal Gliricidia sepium kerap digunakan sebagai tanaman pagar potensial sebagai pupuk organik.

Penggunaan pupuk kimia sudah sejak tahun 1984. “Bahkan termasuk terdahulu dibandingkan daerah lainnya,” kata As’at. Contohnya pada tahun 1984-1985 pertama kali Ngata Toro mendapat bantuan pupuk kimia, sehingga berhasil memecahkan rekor 6 ton padi per hektare. Rekor itu kemudian berhasil dilewati oleh panen di Kecamatan Sidondo dengan 9 ton padi per hektare. “Teranyar di Kecamatan Palolo hingga 12 ton per hektare dengan sistem jajar legowo,” kata As’at.

Menurut Ketua Kelompok Tani Jaya, Brambel Togagi, kini potensi panen padi di Ngata Toro 3—5 ton padi per hektare dalam sekali masa budidaya. Kebanyakan petani menggunakan benih padi modern. “Meskipun harga jual padi lokal tinggi, dengan lama budidaya yang lebih panjang dan hasil panen lebih sedikit membuat petani enggan menanam padi lokal,” kata Brambel.

Meski petani menggunakan pupuk kimia, dosis relatif rendah. Pupuk kimia hanya sebagai perangsang pertumbuhan pertama. Dosis pemupukan hanya 50 kg Urea, lazimnya bisa hingga 200 kg per ha. Pemupukan pada 2—3 hari setelah pindah tanam. “Pas berbuah tidak ada pupuk susulan,” kata As’at. Oleh karena itu, hasil uji tanah oleh Dinas Pertanian setempat menunjukkan sawah di Ngata Toro tingkat cemarannya rendah.

Harapan As’at jika hendak menerapkan aturan budidaya organik harus ada solusi pupuk organik pengganti urea. Pengalamannya rutin menggunakan pupuk organik semakin lama dosis pemupukkan semakin berkurang. Sementara menggunakan pupuk kimia, makin lama dosisnya meningkat.

Namun, dalam praktik budidayanya tidak bisa disebutkan betul-betul organik. Sebab, dalam budidaya organik dari segi alat pun tidak boleh dicampur untuk sawah organik dan nonorganik. Aturan lain tidak boleh menyemprot pestisida di area dekat sawah organik. “Memang butuh sosialisasi terus,” kata As’at.

Menurut Tina Ngata Toro, Mina Tolao, pertanian di Ngata Toro dahulu memang menerapkan budidaya organik dan tidak menggunakan pestisida. Tanaman yang kerap dipakai untuk kompos adalah daun gamal Gliricidia sepium. “Kompos gamal itu baik untuk sawah. Sisa rendaman airnya pun bisa untuk pupuk cair,” katanya.

Tradisi dulu petani kerap mencacah gamal kemudian merendam cacahan itu selama sepekan. Barulah digunakan ke sawah sebagai pupuk cair. Tanaman gamal hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat Ngata Toro sebagai pagar rumah alami. Menurut Amina—panggilan akrab Mina Tolao—menggunakan pestisida ibarat memberikan racun.

Amina menuturkan, “Kita harus menghargai makhluk hidup, hama pun makhluk butuh makan, menanam sebaiknya tidak pada musim kawin hama,” katanya. Jika meracun hama mungkin saja suatu waktu bisa menjadi bumerang. Musim kawin hama tidak bisa diprediksi menyebabkan gagal panen. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software