Seleksi Dini Demi Mutu

Filed in Buah, Majalah by on 08/08/2016

Seleksi untuk mendapatkan monthong kualitas premium.

561_78Seratus pohon durian masing-masing setinggi 5—7 m itu mulai berbunga. “Persentasenya 70% varietas monthong, 20% kani, sisanya introduksi dari Malaysia dan Thailand yang belum produktif,” ujar pemilik pohon, Johan Ariono di Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ia menanam durian berjarak 10 m x 10 m di lahan seluas 1,3 ha.

Johan Ariono menyeleksi buah sehingga selalu menghasilkan durian berkualitas premium.

Johan Ariono menyeleksi buah sehingga selalu menghasilkan durian berkualitas premium.

Dari jumlah itu, 80 pohon varietas monthong dan kani mulai berproduksi sejak 12 tahun lalu. Setiap pohon menghasilkan 50—100 buah per musim panen. Harga monthong di kebun Rp45.000/kg; kani, Rp40.000 per kg. Bobot buah monthong rata-rata 4—8 kg; kani, 2,5 kg. Menurut Adi Gunadi, pencinta durian di Tangerang Selatan, Banten, harga itu relatif murah daripada pasar modern.

Matang pohon
Gunadi mengatakan, harga monthong di pasar modern Rp65.000 per kg. Johan mematok harga murah bukan karena buah berkualitas rendah. “Buah yang saya jual 100% matang pohon atau jatuhan sehingga konsumen yang ingin membeli harus langsung datang ke kebun,” ujar Johan yang membuka kebun untuk umum itu pada 2000. Ia berani melepas murah lantaran menjual durian langsung di kebun.

Artinya ia bebas dari biaya pengangkutan sekaligus risiko buah rusak saat pengiriman. Menurut pria kelahiran Pontianak 7 Juni 1973 itu, rasa durian matang pohon lebih enak daripada monthong impor. Petani di mancanegara memetik durian 20 hari sebelum kematangan optimal. Tujuannya agar buah tidak busuk saat pengiriman. Johan mengikat durian dengan tali saat durian berumur 120 hari sejak berbunga.

Kebun durian monthong milik Johan Ariono di Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Kebun durian monthong milik Johan Ariono di Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Tujuannya agar buah tidak jatuh ke tanah saat matang sempurna. Johan memanen dengan memotong tali pengikat dan menurunkan buah dengan hati-hati. Begitu buah terbelah, tampak daging buah jingga tebal dengan citarasa manis pahit. Pada Desember—Februari kebun Johan ramai pengunjung yang berhasrat menikmati kelezatan durian unggul. Menurut Johan konsumennya datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Johan hanya menyodorkan buah durian matang pohon sehingga terjamin kelezatannya. Itulah sebabnya para pengunjung merasa sangat puas menikmati durian di kebun Johan. Harap mafhum, Johan memang melakukan perawatan khusus untuk menghasilkan buah bermutu bagus. Ia menyeleksi buah dengan menjarangkan bunga dan calon buah 5 kali sejak berbunga.

Seleksi berulang
Johan menjarangkan pertama pada 1,5 bulan setelah muncul bunga. Penjarangan pertama itu bisa mencapai 70% dari populasi bunga awal. Hanya 30% bunga, sekitar 4—5 dompol per batang, yang ia biarkan terbentuk menjadi buah. Setelah itu Johan menyeleksi kedua menggunakan gunting tajam saat calon buah sebesar biji kopi. Ia membuang pentil yang bentuknya jelek atau tidak sempurna.

Pemangkasan pertama pada 1,5 bulan setelah keluar bunga.

Pemangkasan pertama pada 1,5 bulan setelah keluar bunga.

“Seleksi ke-2 sampai ke-5 berdasarkan bentuk. Buah dengan banyak lekukan saya buang,” ujar bapak tiga anak itu. Seleksi ketiga saat calon buah berukuran lebih besar yaitu sekitar 0,5 gram. Sementara itu seleksi ke 4 dan 5 setiap satu pekan berikutnya. Manfaat lain seleksi buah itu adalah menjaga kesehatan cabang. “Cabang yang terlalu banyak buah mengering dan mati setelah panen,” ujar Johan.

Pohon memang akan memunculkan batang baru. Namun, perlu waktu lebih lama sampai berbuah kembali sehingga rugi dari hitungan waktu. Menurut dosen Hortikultura Universitas Sebelas Maret, Dr Ir Pardono MS, selama pembuahan fotosintat—energi hasil fotosintesis—terkonsentrasi untuk pembentukan dan pengisian buah. Tanpa pembatasan buah, pertumbuhan vegetatif seperti batang atau akar terancam kekurangan energi dan akhirnya mengering.

Itu sebabnya Johan membatasi hanya 3—4 buah di cabang berdiameter 13 cm. “Selain ukuran cabang, pembatasan jumlah buah pada tanaman juga dipengaruhi umur dan kesehatan tanaman,” ujar Pardono. Johan menentukan jumlah buah yang harus dipelihara sebelum tanaman berbuah. Tanaman berumur 4—5 tahun hanya memproduksi 5—10 buah per pohon, 6—7 tahun (25—30 buah), 7—8 (30—50 buah), dan diatas 8 tahun 50—100 buah per pohon.
Johan juga memberikan pupuk NPK organik berimbang setelah selesai panen dengan dosis 3—4 kg per pohon.

Pemupukan untuk mengembalikan pasokan energi pada tanaman setelah berbuah. Pemilik lima kebun durian itu menggali lubang mengelilingi batang pohon di bawah kanopi terluar. Pemupukan selanjutnya menjelang waktu berbunga yaitu 3—4 bulan setelah pemupukan pertama.

Ia memberikan pupuk melalui akar dan daun. Pupuk melalui akar berupa fosfat organik 3—4 kg per pohon dan NPK Trace Element (TE) 1—2 kg per pohon. Sementara itu sebagai pupuk daun menggunakan KNO3 dengan dosis 150—200 gram per 20 liter air dan pupuk fosfor dan kalium organik dengan dosis 1—2 ml pupuk per liter air atau fosfor dan kalium kimia dengan dosis 100 gram pupuk per 20 liter air. Pemberian pupuk daun dilakukan dengan disemprot. (Ian Purnama Sari)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software