Selamat Datang di Negeri Bromeliad

Filed in Tanaman hias by on 04/03/2013 0 Comments
Tillandsia sp dan janggut musa tampilmenarik seperti lampu kristal

Tillandsia sp dan janggut musa tampil
menarik seperti lampu kristal

Tillandsia dan bromeliad berpadu hasilkan taman spektakuler.

Kesan spektakuler sudah tampak begitu memasuki taman seluas 2.500 m2 itu. Gerbangnya elok, berbentuk setengah lingkaran yang tersusun dari ratusan pot terakota dengan untaian janggut musa Tillandsia usnoides. Daun-daun halus keperakan itu menjuntai bak tirai, menyambut kedatangan rombongan agrowisata Trubus di Nong Nooch Tropical Garden (NNTG), Pattaya, Provinsi Chonburi, Thailand.

Suasana di dalam taman kian menakjubkan dengan kehadiran 6 “lampu kristal” yang menggantung di kayu dolken. Lampu kristal itu terbuat dari ratusan Tillandsia sp dan T. usnoides. Tillandsia sp disusun membentuk prisma dengan janggut musa menjuntai di bagian bawahnya. Tak ayal, pengunjung pun kagum dibuatnya. “Wuih, bagus banget tillandsianya. Kita mestinya punya yang seperti ini (tillandsia berbentuk lampu kristal, red),” ujar Muji Lestari, salah satu peserta agrowisata Trubus asal Tangerang, Provinsi Banten. Anggrek tebu yang tumbuh di sudut-sudut atas kayu dolken kian mempermanis penampilan taman tillandsia itu.

Butuh lembap

Menurut perancang taman di Depok, Provinsi Jawa Barat, Ir Hari Harjanto, tillandsia  termasuk tanaman yang mudah ditata. Maklum, “Tillandsia tidak membutuhkan media tanam untuk tumbuh,” kata pria  yang pernah membuat rangkaian bromeliad itu. Di alam tanaman yang namanya diambil dari nama botanis asal Swedia, Elias Tillandz, itu pun hidup menempel di pepohonan. Untuk tumbuh-kembang, kerabat nanas itu mengambil hara dari udara melalui daun-daunnya. Sementara akar lebih banyak bertugas mencengkeram batang tempat ia menumpang hidup.

Pemain tanaman hias senior  di Sentul, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Gunawan Widjaja, sepakat. Pemilik nurseri Wijaya itu menuturkan tanaman anggota famili Bromeliaceae itu  mampu hidup dari udara. Tillandsia memiliki jutaan sel berbentuk rambut alias trikoma di permukaan daun. Trikoma itulah yang berperan menyerap uap air, mineral, dan nutrisi dari udara untuk pertumbuhan tanaman. Agar pertumbuhan optimal, “Syaratnya sinar matahari harus ada dan kelembapan cukup,” tutur Gunawan.

Tillandsia membutuhkan sinar matahari cukup untuk berfotosintesis. Sementara kelembapan udara mempengaruhi penampilan tanaman udara itu. Sebut saja Tillandsia usnoides, daunnya akan berwarna hijau terang bila kelembapan lingkungan tumbuh cukup. Namun, jika kelembapannya kurang warna daun akan berubah menjadi putih keabu-abuan. Di taman bromeliad di NNTG tillandsia diletakkan di bawah sinar matahari langsung. Sementara di bagian bawahnya terdapat kolam seluas 10 m2 sehingga kelembapan lingkungan tetap terjaga.

Di pinggir kolam tampak puluhan pot bromeliad dengan daun beraneka warna: hijau, merah muda, hijau-putih, dan hijau keunguan. Kehadiran bromeliad itu membuat taman tampil lebih semarak. Selain di pinggir kolam, bromeliad pun hadir di belakang taman. Bedanya, kali ini bromeliad disusun sedemikian rupa sehingga membentuk taman dinding.

Di tanahair bromeliad seperti neoregelia dan cryptanthus juga kerap dipakai sebagai salah satu pengisi taman dinding karena perawatannya mudah. Sama seperti tillandsia, bromeliad juga termasuk tanaman epifit, artinya hidup di batang-batang pohon dan makanan terbesar diperoleh dari udara sehingga tidak membutuhkan media. Menurut Hari keistimewaan lain bromeliad adalah pertumbuhannya lambat. Dengan begitu bentuknya tak cepat berubah sehingga tahan lama. Pengamat tanaman hias di Bogor, Ir Slamet Budiarto menuturkan, bromeliad seperti fireball, imperialis, dan cryptanthus, perlu sinar matahari penuh untuk tumbuh optimal.

Di balik taman dinding bromeliad, di dalam area berdinding dan beratapkan jaring peneduh terdapat pemandangan yang lebih menakjubkan. Begitu masuk pengunjung disambut dengan rangkaian neoregelia yang tersusun vertikal bak tiang. Sementara di bagian bawah terdapat guzmania yang  dikemas dalam pot terakota. Guzmania-guzmania itu begitu memanjakan mata dengan kehadiran bunga yang beraneka warna: jingga, ungu, dan merah muda. Suasana kian hidup dengan kehadiran burung-burung paruh bengkok palsu yang seakan terbang di atas bromeliad.

Romantis

Di sebelah kiri gerbang pintu masuk suasana romantis begitu kental. Puluhan bromeliad tersusun apik membalut rangka besi berbentuk hati yang dilapisi ijuk. Di depannya terdapat patung ratu yang tengah duduk menemani raja yang sedang terbaring di tempat tidur. Di bagian kanan, kiri, dan depan patung terdapat guzmania tengah bunga berwarna kuning, jingga, dan ungu yang menambah kesan romantis. Wajar bila pengunjung pun betah berlama-lama di dalam taman bromeliad.

Untuk menjaga taman tetap tampil menarik, pengelola taman melakukan penyulaman tanaman yang rusak. Guzmania, misalnya, tampil menarik pada saat berbunga. Setelah bunga layu, pengelola langsung menggantinya dengan tanaman baru yang berbunga dari nurseri yang juga dikelola NNTG. Dengan cara seperti itu pengunjung pun selalu disuguhi guzmania semarak bunga.

Taman bromeliad merupakan satu dari 14 taman yang dibangun Nong Nooch Tansacha, pehobi aneka  tanaman hias di Thailand, 31 tahun silam. Taman lainnya antara  lain taman Perancis, Eropa, kupu-kupu, kaktus, anggrek, dan topiari. Yang disebut terakhir merupakan taman yang paling dominan dan letaknya tersebar di beberapa lokasi. Tanaman yang dibentuk menjadi topiari antara lain serut Streblus asper, beringin, teh-tehan, dan Wrightia tomentosa. Mereka tampil apik dan eksklusif. Pantas jika taman dengan total luas 8.000 ha yang dicapai sekitar 20 menit dari kota Pattaya itu senantiasa dipadati pelancong domestik dan mancanegara. (Rosy Nur Apriyanti)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software