Sekuat Tenaga Atasi Ulat Tentara

Filed in Inspirasi, Majalah by on 16/10/2020

Serangan Spodoptera frugiperda teridentifikasi perdana di Pasaman, Sumatera Barat. (Foto:Dewi Sartiami)

 

Ulat Spodoptera frugiperda menyerang daun muda jagung dan menurunkan hasil hingga 50%.

Serangan hama ulat grayak Spodoptera frugiperda mengganas pada musim tanam kedua bulan September 2020. Musim tanam sebelumnya pada Februari 2020, petani di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Heri Johan, berhasil mengendalikan serangan hama itu dengan menaburkan insektisida berbahan aktif karbofuran pada pusat daun.

Ulat fall army worm (FAW) bersembunyi dalam gulungan daun muda.(Foto:Dewi Sartiami)

Namun kali ini cara itu tak mempan. Heri waswas hasil panen jagung kali ini menurun. Musababnya ulat anggota keluarga Noctuidae itu hampir menghabiskan daun tanaman yang baru berumur 25 hari. Heri menanam jagung di lahan sehektare. Lokasinya di dua desa, yakni Desa Sumberbendo dan Ambulu. “Punya saya tergolong parah terkena ulat itu. Berlubang banyak sekali, sepertinya kalau telat menangani bisa mati kehabisan daun,” kata laki-laki berusia 43 tahun itu.

Turun 50%

Setelah menyemprotkan pestisida dengan salah satu bahan aktif novaluron sebanyak dua kali, tak terlihat lagi kemunculan ulat. Jagung kembali bertunas dan berbunga. Ulat menyerang bagian ompos atau pusat daun. Gejala awal terdapat daun muda yang berlubang dan ada titik-titik hitam di sisa daun. Setelah gulungan daun muda habis, mereka memakan daun tua.

Jika serangan parah, daun benar-benar habis dan berujung kematian. “Di sini serangannya cukup ganas. Bukan punya saya saja, banyak jagung tetangga yang terkena,” kata petani sejak tahun 2003 itu. Berdasarkan pengalaman rekan Heri, serangan parah dapat menurunkan produktivitas hingga 50%. Ia optimis masih dapat panen optimal tiga bulan mendatang.

Selain jagung, Heri juga menanam padi dan bawang merah. Menurut pengamatannya, hama berjuluk fall army worm (FAW) itu berbeda dengan ulat bawang merah. Ulat bawang merah berukuran kecil dan bertubuh lunak. Sementara itu, ulat jagung berukuran besar, bertubuh keras, dan berwarna hitam. Ulat bersembunyi di dalam gulungan daun sehingga pengamatan gejala awal penting untuk pencegahan.

Menurut dosen di Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Dra. Dewi Sartiami, M. Si., ulat grayak jagung memakan daun tanaman jagung sejak daun masih berupa gulungan. Sehingga saat daun membuka, helaian daun telah rusak. Kondisi tersebut memperburuk pertumbuhan tanaman. Ulat ini tergolong rakus sebab menyerang pada semua fase pertumbuhan tanaman jagung. Dewi mengatakan saat ini hama tersebut selalu ada pada semua pertanaman jagung.

Aplikasi insektisida tepat di atas tajuk tanaman.

Ulat grayak FAW teridentifikasi perdana di Indonesia pada Maret 2019, tepatnya di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Setelah itu, penyebaran ulat asal Amerika Serikat itu mencapai 32 provinsi mulai dari Aceh hingga Papua. Periset Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Willing Bagariang, S.P., M.Si., menjelaskan tingkat kerusakan akibat S. frugiperda bervariasi mulai dari

Insektisida berbahan aktif indosakarb dan novaluron untuk FAW.

serangan ringan sampai berat.

Dewi menyarankan petani memberi abu sekam pada bagian pucuk atau helaian daun tanaman muda. Itu dapat melukai ulat-ulat muda sehingga tidak dapat berkembang. Hama ini tergolong baru pada pertanaman jagung sehingga belum ada varietas yang mampu bertahan dari serangan frugiperda. Willing menyatakan penanaman serempak pada skala luas dapat mencegah serangan ulat tentara. Tingkat serangan tinggi sering terjadi pada lahan yang terlambat tanam daripada lahan sekitar. Frugiperda itu amat menyukai daun muda.

Preventif

Pengolahan tanah yang tepat dapat mematikan pupa dalam tanah sehingga mengurangi kemungkinan serangan FAW. Pemupukan tepat dan berimbang juga penting. Tanaman dengan nutrisi yang baik mampu menoleransi kehilangan hasil akibat kerusakan daun. Penambahan bahan organik dan penanaman tanaman Leguminosae dapat meningkatkan ketahanan tanaman.

 

Menurut Development and Registration Manager PT Royal Agro Indonesia, Hadi Suparno, sebaiknya petani menyemprotkan insektisida Plethora 97.5 SC secara preventif. Plethora terbuat dari bahan aktif indosakarb 45 g/l dan novaluron 52,5 g/l yang tergolong insektisida kontak dan lambung. “Sebelum ulat menyerang, tanaman harus diaplikasikan sejak umur 14 hari setelah tanam,” kata Hadi.

Heri Johan, petani jagung di Sumberasih, Probolinggo.

Upaya preventif itu meliputi tiga kali aplikasi dengan interval seminggu. Jika selama interval terjadi serangan berat, segera aplikasikan dengan interval lebih pendek. Konsentrasi 2 ml per liter. Hadi mengatakan, cara penyemprotan yang benar sebaiknya semprot di atas tajuk tanaman dan tidak diayun. Menurut pengamatan Hadi, pengendalian sesegera mungkin saat fase vegetatif menjadi kunci. Tujuannya agar serangan tidak berlanjut hingga fase generatif. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software