Sektor Pertanian Tumbuh Positif

Filed in Majalah, Topik by on 01/12/2020

Pertanian perkotaan salah satu aktivitas agribisnis yang bertahan selama pandemi.

 

Pandemi momentum untuk membangkitkan peradaban. Modalnya adalah kemandirian pertanian dan agribisnis secara keseluruhan.

Tabulampot awalnya dianggap pilihan pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga selama pandemi.

Secara historis, sektor pertanian selalu menjadi penyangga ketika situasi ekonomi mengalami krisis. Data statistik meyakinkan bahwa pertanian menjadi satu-satunya sektor ekonomi yang tetap positif pertumbuhannya selama pandemi korona. Produk Doestik Bruto sektor pertanian pada kuartal kedua 2020 tumbuh 16,24%. Namun, jangan dulu berbangga, kontraksi terjadi pada semua lini sektor pertanian dan sistem agribisnis Indonesia.

Sesaat setelah penguncian kota dibuka, pasar kembali berjalan, permintaan meningkat dan pasokan barang kembali relatif normal. Pertanian perkotaan (urban farming) sayuran berkembang selama pandemi, tetapi pengaruhnya tidak terlalu signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan. Ada juga subsektor pertanian dan agribisnis yang lambat terdampak, karena terikat kontrak, tetapi sulit bangkit, seperti kopi, karet, kakao, sawit dan teh.

Kopi

Kopi tergolong yang paling berdampak. Harga anjlok terdampak oleh penguncian kota dan pembatasan sosial. Akibatnya operasi kedai-kedai kopi di kota dan pinggiran perkotaan terhenti. Itu menghambat dan menghentikan pasokan kopi dari para pelaku produksi dan pengolahan kopi di pedesaan. Daya serap pasar kopi domestik lebih tinggi daripada pasar ekspor, maka harga kopi (ceri, biji hijau) di tingkat petani anjlok. Petani mampu mempertahankan harga bila komunitasnya memiliki gudang dan adanya dana untuk membeli kopi para anggota komunitas petani kopi.

Semula para petani padi menahan diri untuk tidak segera menjual hasil usahanya, khawatir situasi krisis berlanjut. Harapan lainnya, harga gabah meningkat, karena penghentian impor dan menahan diri menghadapi situasi pandemi. Namun sampai pada musim tanam berikutnya, harga bergeming. Alih-alih menjadi mahal, di beberapa sentra produksi padi, harga malah menjadi murah, bahkan sulit menjual.

Pemasaran beras melambat akibat banyaknya bantuan beras pemerintah kepada masyarakat. Idealnya pemerintah jangan hanya mengeluarkan beras impor, tetapi penting juga membeli gabah petani dengan harga layak. Pada masa yang bersamaan, ada juga subsektor pertanian dan agribisnis yang tumbuh positif selama pandemi. Contoh tanaman hias, tanaman obat, dan buah-buahan. Sejak kebijakan penguncian kota diberlakukan, minat orang-orang kota dan pinggiran perkotaan untuk memelihara tanaman-tanaman meningkat. Semula hanya untuk mengisi hari dan menutup kejenuhan.

Pada perkembangannya aktivitas itu berubah menjadi produksi mandiri atau komunitas (bertani di perkotaan), hobi (kesenangan dan kepuasan), dan ekonomi (bisnis). Fenomena itu ditemukan hampir di seluruh kota dunia, maka permintaaan dan harga beberapa komoditas meningkat beberapa kali lipat.

Harga beberapa jenis tanaman hias seperti monstera, anthurium, rhapidophora, alocasia, dan philodendron meningkat signifikan. Tanaman buah dan bunga dalam pot (tabulampot), ikan dan tanaman dalam ember (budikdamber), serta integrasi hidroponik dengan akuarium (akuaponik) menjadi model agribisnis favorit yang dikembangkan secara personal maupun komunal di ruang kubika, halaman rumah, dan ruang hijau perkotaan.

Kopi salah satu komoditas yang mengalami dampak yang negatif dari pandemi.

Proses inisiasi, sosialisasi, promosi, eskalasi dan transaksinya pun berbeda dengan sebelumnya. Bukan berangkat dari pameran fisik, lini massa, dan mulut ke mulut (viral marketing), tetapi terkontruksi dari jejaring daring dan viral dalam komunitas virtual.

Agribisnis mandiri

Subsektor pertanian tanaman hias mengalami peningkatan aktivitas bisnis selama pandemi.

Para pelaku agribisnis yang memiliki kemandirian dan menerapkan model bisnis disruptif yang bertahan pada masa pandemi. Itu terutama berlaku pada perusahaan yang lebih kecil dengan sumber daya yang lebih sedikit dapat berhasil menantang bisnis yang sudah mapan. Perspektif postmodern mengajarkan, kejutan-kejutan yang ditimbulkan oleh alam (pandemi) maupun desain dominasi (krisis energi, embargo), hanya dapat dihadapi dengan kemandirian subjek, termasuk dalam sektor pertanian dan sistem agribisnis.

Model bisnis disruptif seperti agribisnis digital tetap menjadi inti pengembangan dalam mewujudkan keunggulan. Mestinya para pelaku agribisnis bunga, buah, dan tanaman hias, dapat bertahan dan memperpanjang tren positif selama pandemi. Syarat pertama hindari kreasi-kreasi dominasi yang dapat mematikan komunitas (fisikal dan virtual). Pertahankan mekanisme bisnis berbagi dan berkolaborasi berbasis komunitas.

Selain itu usahakan bisnis daring dapat dioperasikan dari sentra produksi pertanian dan agribisnis agar tidak dikendalikan para pelaku yang dominan berada di perkotaan. Oleh karena itu, lengkapi infrastruktur dan logistik. Kedua, siapkan mitigasi sejak kini, agar tidak terjadi pengerutan pasar dari dalam (involusi), terutama dengan memperluas jejaring pemasaran ke komunitas-komunitas di negara lain. Pemerintah pun harus berperan dalam menyiapkan instrumen dan sarananya, sedangkan komunitas memetakan dan mentautkan jejaring dengan komunitas diaspora dan mitra di negara lain.

Sejatinya situasi krisislah yang membawa bangsa Kuba kembali ke sektor pertanian dan pedesaan, sehingga menjelma menjadi bangsa yang mandiri dan berdaulat. Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa Turki dan India sekarang. Mereka mengawali kebangkitan peradabannya dengan kembali kepada diversifikasi pangan, keunikan pertanian spesifik lokal, kemandirian agroindustri, dan standardisasi. (Dr. Iwan Setiawan, M.Si. Kepala Program Studi Agribisnis Universitas Padjadjaran)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software